<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211</id><updated>2011-07-08T04:07:44.903-07:00</updated><category term='cerpen'/><category term='rekaaksara'/><category term='photo diri'/><title type='text'>Sugeng Rawuh,</title><subtitle type='html'>"Hidup adalah sebuah perjuangan pencarian mozaik,Maka berpetualangalah..susun mozaik hidupmu hingga menjadi seni hidup bernilai tinggi"...:p</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-707074432560859673</id><published>2010-05-13T06:31:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T07:01:12.328-07:00</updated><title type='text'>jalani &amp; nikmati</title><content type='html'>lama tak menulis di blog yg satu ini...setelah blog satunya lagi trouble.  akhir akhir ini saya merasa melempem, seperti merasa menghabiskan tenaga yang banyak padahal sudah makan nasi banyak. Dan kegiatan baru2 ini adalah seputar kampus, kos ,kampus. haha...suatu fenomena yang menakjubkan bagi saya. bisa begitu rutinnya(baca:monotonnya). Tapi, kata kawan saya, jalani dan nikmati, maka kata2 itulah yang jadi bahan bakar terakhir. Jalani dan nikmati, suatu hal yang lama bisa diterima oleh diri yang suka 'sak karepe' :D.&lt;br /&gt;Suatu saat, dalam beberapa kali hitungan, saya pingin melepaskan diri, dari apa yg saya lakoni.  Lalu tiba2 jadi teringat wajah orang2 yang sudah berkontribusi dan 'cawe cawe' dalam hidup saya. Ah, saya urungkan niat saya. akhirnya ke-bete-an saya berubah dongkol dalam hati, seperti berasa ingin tertawa dan menangis lalu pengen dipeluk :).&lt;br /&gt;saya berpikir inilah sebuah momen dari sekian momen yg akan sy jalani nantinya. seperti anak tangga yg harus dijalani. saya ingin cengeng, sekarang dan itu sy wajarkan. jika orang2 ada suatu atau beberapa hal yg bisa ia jadikan bahan bakar, maka biarlah ini menjadi sebuah cara bagi saya. karena kembali saya teringat orang2 yang berkontribusi dalam hidup, maka dg tidak menunjukkan rasa cengeng dan selalu mengeluh didepan mereka(dan itu cukup bagi saya) adalah wujud 'taklim' pada beliau-beliau. Toh saya juga tak terlalu memikirkan setiap waktu bagaimana perjalanan hidup mereka. Jadi ya, kembali ke kawan saya tadi, jalani dan nikmati :D.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-707074432560859673?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/707074432560859673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=707074432560859673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/707074432560859673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/707074432560859673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2010/05/jalani-nikmati.html' title='jalani &amp; nikmati'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-7818394656902362465</id><published>2009-07-26T05:08:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T05:37:10.987-07:00</updated><title type='text'>Pembelajaran...Menggelikan...</title><content type='html'>kenapa coba saya bilang menggelikan? entahlah, saya sendiri rupanya sudah bingung menyebut rasa apalagi ini....pembelajaran dari orang yang katanya sudah berpengalaman dan katanya lagi inilah pembelajaran buat hidupmu...biar kamu tambah dewasa...kata yang terakhir langsung nyantol di kuping saya, dan tak perlu waktu lama bagi saya buat muntah.Muntah karena geli atau karena terlampau eneg. Edan bener...berapa lagi saya harus berada dalam batas pikir para yang berpengalaman buat menyandang strata 1 jurusan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'kedewasaan'&lt;/span&gt; dengan predikat cumloude. Hingga berkali dijejal dengan pelatihan yang membuat indera eneg saya bermutasi menjadi geli, sampai apa itu makna dewasa sudah sukses berada di luar kepala alias g ngerti...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ora mudeng babar&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pisan&lt;/span&gt;. Edan...biarlah saya mengumpat sepuas saya...toh yang saya umpat lebih pada kegelian dan ketidakmudengan saya. Biarlah saya katai edan...karena jika edan berarti gila...maka biarkan sejenak saya di posisi sakral bagi orang kebanyakan, karena saya cenderung nyaman.&lt;br /&gt;Hanya saja saya mulai merenungkan dari setiap ceramah mereka, tindakan mereka yang sudah berpengalaman itu...ya saya lumayan tahu...ya tahu saja...dibilang juga saya ini lola, lumayan memakan waktu dalam beradaptasi, kata satu dari mereka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;klo hidup itu ora butuh pinter thok ning yo taktik&lt;/span&gt;, celah basa-basi...ya saya tahu itu...sekarangpun coba saya pelajari. lalu di tengah kegersangan saya mencerna, da juga temen yang seidealis, tapi ternyata yoo mirip...edann...apa akal saya ini barang langka..harus dimuseumkankah? ya mereka cukup, cukup diterima di pandangan masyarakat, lha tinggal saya ini, seperti berada di jembatan, batas antara beragam warna. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waktu&lt;/span&gt;...dan... &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dialog dua arah&lt;/span&gt; cukup itu yang saya pingin dari yang sudah berpengalaman....jika mereka mensudikan diri bahkan secara tak langsung cenderung memaksa untuk menjadi dosen privat kedewasaan saya...berikanlah 2 hal ituuu saja....&lt;br /&gt;hingga saya tak usahlah menulis seperti ini, dan jika tak begini maka, kunjungan  saya buat jalan2 ke RSJ tambah rutin saja.&lt;br /&gt;akhirnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kengeyelan&lt;/span&gt; saya lumayan mengalah, mungkinkah sejenak?saya tidak tahu, atau lebih pada tidak mau mikir kesitu dulu...akhirnya saya tampak seperti seakan 'hidup dijalani sajalah'.&lt;br /&gt;climber itu adakalanya lelah..yo tho?? easygoinger lumayan ekoylah. hanya sementara atau kapanlah..biarlah saya merasa dewasa dalam dunia mereka yang sudah berpengalaman ini....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-7818394656902362465?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/7818394656902362465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=7818394656902362465' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7818394656902362465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7818394656902362465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/07/pembelajaranmenggelikan.html' title='Pembelajaran...Menggelikan...'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-7013515429519942331</id><published>2009-05-18T21:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T21:40:49.545-07:00</updated><title type='text'>Anamnesis</title><content type='html'>Apa lagi yang kau kejar?&lt;br /&gt;Begitu tanyamu, tepatnya seperti tanya, karena bagiku lebih mirip hujatan.&lt;br /&gt;Tanyamu mengingatkan akan kaki yang tlah kulangkahkan, entah untuk keberapa kali. Mungkin dibanding diriku, kau lebih bisa menghitungnya.&lt;br /&gt;Aku seorang berusia kepala dua, sosok yang memiliki hasrat menggapai asa,sama tak serupa dengan diriku pada usia 9 tahun, kala ku mulai merasai hasrat menggapai cita.&lt;br /&gt;Aku masih ingat kala itu, aku berjalan-jalan sore bersama dengan orang yang terkasih dan kukagumi, mengelilingi pematang sawah yang terhampar luas, bagiku hingga kini bak permadani lembut. Kami bercakap, mulai mengobrolkan pesona hidup. Lalu darinya kutorehkan kesejukan hidup lewat goresan pena.&lt;br /&gt;“Bapak, Re menggambar ini, bagus g?” tanyaku sambil menyodorkan selembar kertas&lt;br /&gt;Beliau menerima gambarku, menamati, lalu tersenyum, “Bagus, kembangkan Re...”&lt;br /&gt;Begitu seterusnya, hingga tanpa jenuh, “Bagus, kau cocok jadi arsitek...”&lt;br /&gt;Darisinilah, aku mulai merasai cita, dalam benakku, berteriak, bersorak. Arsitek?aku akan lebih lama berkesempatan menggambar bersama Bapak, lalu kami akan memperbincangkan gambar proyek kami bersama... Hasratku kala itu cuma bagaimana menjadi arsitek yang disukainya.&lt;br /&gt;Lalu, sejalannya waktu, kumerasa tak punya cita.&lt;br /&gt;Kali ini, ya, aku bicara kali ini saja, sejenak tersadar, bahwa kumulai mengingat kembali pada kaki yang tlah kulangkahkan, entah untuk keberapa kali. Itu karena segala tanyamu, stimulus ingatanku yang tlah terbingkai serak dalam brankas mimpi. Mimpi bagiku adalah kenyataan, begitu sebaliknya memori yang kujadikan mimpi. Mimpi yang terkadang ada kala kita bernafas tanpa merasa.&lt;br /&gt;Tapi kau selalu bilang, bahwa itu kaulakukan tanpa sengja ‘bukan maksudku’&lt;br /&gt;Sekarang rutinitas pengingatan kembali tapak kaki yang tlah lalu itu kian melingkupiku.Aku yang menjebak diri di lingran yang tak bersiku, hingga ku kebingungan mencari celah persembunyian.&lt;br /&gt;Pijakanku, di ranah nyata adalah tamparan yang siap menjelma rangkaian gempa berskala, mungkin dan mungkin saja bisa meremukkan bentukku yang urung juga stabil.&lt;br /&gt;Aku mulai ragu pada bentukku kini, akalku mulai apatis terhadap apa yang menurutku ‘tak masalah’, ‘terserah’ dan’ bukan urusanku’.&lt;br /&gt;Proses pengingatan kembali ini,malah membuat langkahku pasti. Aku tak mengerti tapi darinya akhirnya ku belajar menggali dan mengerti. Meskipun ia bisa menjelma menjadi sebuah gempa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-7013515429519942331?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/7013515429519942331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=7013515429519942331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7013515429519942331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7013515429519942331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/05/anamnesis.html' title='Anamnesis'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-8350817376228181976</id><published>2009-05-18T18:16:00.002-07:00</published><updated>2009-05-18T18:17:33.751-07:00</updated><title type='text'>Abjection Vs Abjection</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kau tahu kawan, apa yang sedang aku pikirkan saat ini dan pada detik-detik yang tlah lalu?&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebuah pemberontakan. Pemberontakan manusia terhadap tatanan, system, kemapanan sebuah pandangan. Abjection……&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya, memandang realitas, pergulatan prilaku manusia dengan lingkungannya, reaksi individu atas kondisi komunal, yang sebenarnya telah mereka rangkai sendiri. Dan sayapun membaca, buah pikir filosof, pun pemikir yang tak sudi dirinya disebut filosof, entah sastrawan, kyai atau lainnya, tulisan-tulisan yang sarat pemberontakan atas apa yang mereka nilai ’tak begini semestinya’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kemungkinan, saya melakukan aktivitas menulis adalah sebuah abjection, yang mati-matian memperjuangkan dan membela atas tatanan nilai yang saya yakini, seperti halnya mereka, saya bereaksi terhadap realitas, terhadap bantahan realitas.Abjection vs Abjection&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="single-meta" style="float: right; margin-top: 5px; margin-right: 10px; font-size: 11px;"&gt; &lt;/p&gt;               &lt;div class="clear"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-8350817376228181976?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/8350817376228181976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=8350817376228181976' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8350817376228181976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8350817376228181976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/05/abjection-vs-abjection.html' title='Abjection Vs Abjection'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-1565623314375699220</id><published>2009-05-18T18:16:00.001-07:00</published><updated>2009-05-18T18:16:50.715-07:00</updated><title type='text'>Ayah, kemana Ibu...</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;“Ayah kemana Ibu?”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Kan sedang kerja nak, sebentar lagi pulang, adek bobok ya, ntar Ayah dongengin.”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“G mau, adek gak mau bobok, Adek mau  dikelonin Ibu.Yah…Kenapa Ibu gak pulang-pulang kan adek kangen Yah…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Hem…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Si Ayah memeluk anaknya, mencoba menenangkan rengekannya. Dilihatnya wajah si anak. Mata kecil anaknya serta merta membulat, gantian menatapnya sambil berkaca-kaca. Genangan air di pelupuk matanya tinggal menunggu detik tertumpah.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menjelang malam, baginya adalah sama seperti biasanya, rengekan anaknya dan sejumlah Tanya tanpa ia mampu jelaskan, selalu saja dengan jawaban ‘hem’.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lalu si anak akan tertidur, bukan oleh nina bobok atau dongeng si Ayah, tapi capai, tenaganya terkuras untuk merengek atas penjelasan yang tak tercerahkan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Maafkan Ayah nak, Ayah sendiri bingung bagaimana menjelaskan pada anak seusiamu. Tunggulah hingga kau besar,tunggulah waktu yang akan segera kau rasai, kau akan tahu sendiri dari mulut Ibu yang kau rindui.”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Mengertilah mas, bukan masalah kau tak sanggup memberikan nafkah, memuaskan nafsu premierku….”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Aku hanya butuh aktualisasi diri, kau tahu itu, berkali-kali tlah kubilang padamu…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“aktualisasi diri?yang bagaimana?seperti apa..sama sekali aku tak paham…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“ya..aktualisasi diri, mengembangkan potensi diriku, dengan berkarya di luar, merasai hentakan jaman, sama seperti yang kaum kalian tlah lakukan…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“aku, perempuan dan banyak juga kaumku, juga punya potensi yang sama…mengapa selalu dipermasalahkan, aku hanya ingin kau mengerti, saat masyarakat masih memandang tabu pandangan itu…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“tapi istriku…anak kita masih kecil, ia tumbuh dan butuh kita, terlebih butuh kau, sebagai Ibu…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;“terlebih?? Mengapa? Selalu saja kau gunakan otoritas itu. &lt;/span&gt;So Why? Kau juga Ayahnya? Jangan mengekangku di lingkaran mampat ikatan ini mas…”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“baiklah, terserahmu saja.”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Si suami tak tahu lagi apa yang harus dikatakan, hingga kini masih saja tak paham atas aktualisasi yang terus digaungkan istrinya untuk dimengerti. Benarkah kedudukannya sekarang menyebabkan si Istri tak berkembang? Terkekang dalam lingkaran rutinitas aktifitas domestik? Mengatur keluarganya di rumah, membimbing anaknya, melayaninya, adalah kerja rendahan?Sebuah pekerjaan?&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oh istriku, batin suami secara tulus ingin berteriak&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;‘Lalu ikatan macam apa yang tlah ku ikrarkan di hadapan penghulu kala itu? Kala cinta dan keyakinan itu masih kukuh kita pegang…Itu adalah ikatan suci, sama halnya dirimu ku juga terikat karena ku mencintaimu, menghargaimu, sebagai belahan jiwaku. Jika dalam proses mengarungi bahtera ini ku mengekang apa yang kau sebut aktualisasi dan potensi dirimu, maka betapa kejam rajutan ikatan ini? Betapa kejamnya diriku yang tlah sukses menabur benih di rahimmu?sekali lagi buah cinta kita? Aku sama sekali tak mengerti, Dengan sebutanmu pada ikatan ini sebagai persundalan hipokrit? Demi Tuhan, kau bukanlah sundal, layaknya pekerja seks, yang ber ML dengan bayaran. ‘&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Powers of Horror- An Essay on Abjection. Hampir tamat si Istri membaca buah pikir feminis kawakan Bulgaria Julia Kristeva. Ia harus membaca, agar dirinya mengerti dan sadar, ataukah sebagai asupan atas pelarian, atas nuraninya yang kerap berseberangan,atas kesadaran baru yang berusaha ia bangun. Sosok wanita dengan keautentikan dirinya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan pemikiran Kristeva sangatlah dekonstruktif, seperti filosof postmodern yang dikaguminya, Derrida, Faucault. Ia butuh itu.Ya, ia harus butuh.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ia tak mengerti meski sedikit tahu apa yang ia putuskan lalu lakukan. Bukan pula ia tak tahu kalau dulu ia yang memutuskan dengan sadar untuk menikahi makhluk berbeda gender, merajut ikatan atas nama Agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ia kini berstatus Istri, sama halnya dengan pasangannya yang kini ia sebut Suami. Mengapa Tuhan mencipta makhluk berbeda Gender? Mengapa tak sama saja?hingga nantinya taka kan ada yang menggugat ciptaanMu dan menjadikan alasan siapa atas siapa yang membuat bias Gender. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Seperti pula hak dan kewajiban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Tapi si istri adalah seorang rasionalis. Bukankah sangat rasional kala memandang 2 makhluk berbeda itu sama-sama makhluk, dengan perlakuan pertama sama, potensi sama, lalu bukankah sangat adil membiarkan pertarungan kealamian yamg menilai dan memberi keputusan siapa yang layak diunggulkan sebagai Pemenang?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Faktanya lagi, adalah pertengkaran dan pertengkaran. Selalu saja ia berdebat dengan suaminya, sosok yang selalu menyebut dirinya sahabat hidup, soulmate. Huh, jangan tertipu. Lontaran sebutan yang dijadikan kaumnya otoritas melakukan &lt;span&gt; &lt;/span&gt;penekanan. Bukankah wanita adalah makhluk dengan 9 perasaan 1 akal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kali ini, baru saja ia sadari, dirinya telah melakukan labelisasi pada perempuan. Perempuan 9 perasaan 1 akal dan sebaliknya bagi laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Apa-apaan ini?Tapi jujur dalam nuraninya, bahwa itu yang sering ia temui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Lalu letak kerasionalan itu? &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seharusnya mereka benar-benar sama…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;’aki-laki, perempuan, ikatan, hubungan, sahabat, lawan, pertarungan…’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kata-kata itu membuat untaian lingkaran di benaknya, terus berputar laksana gasing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Lama ia terpekur. Sejenak dirinya memperoleh pencerahan perihal status perempuan. What, why, How about Women??&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Lalu sejenak kemudian dirinya bimbang. Mengapa bimbang jika benaknya sudah tercerahkan oleh pemikiran yang ia gandrungi, pemikiran yang berkoar akan mencerahkan perempuan akan jati dirinya??&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Ia hanya ingin menggapai keautentikan dirinya yang lama-lama hilang, tergadai atas nama, agama, keluarga. Ia hanya tak ingin menjadi dasein yang tak menyadari ada, sebagai eksistensi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Tapi sampai disini, pikirannya mandeg.Lalu menggaung dengan kerasnya. Benarkah begitu adanya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Bukankah kau sendiri sekarang dasein?kau yang terlanjur memaksa tak percaya eksistensimu, potensimu, keunikan dirimu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Bukankah kau sendiri unrasional?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Makhluk berbeda Gender itu, yang kau sebut laki-laki dan perempuan adalah makhluk berakal, itu fakta. Sama-sama memiliki potensi hidup, itu juga fakta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi kau sembunyikan satu hal, kau sembunyikan rapat dalam brankas alam bawah sadarmu. Mereka adalah fakta berbeda realitas. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kau berusaha menyamakan 2 keunikan menjadi satu. Semua untuk cita-cita akan aktualisasi diri dan pengembangan potensi, bakat diri?atau kebebasan diri?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Bukankah rasional sekarang, menilik empirismu, empiris kaummu, tanpa terlebih dulu berembel-embel syak, tanpa&lt;span&gt; &lt;/span&gt;terlebih dulu menstandarkan pada pandangan tertentu. Bukankah mereka punya keunikan berbeda. Keunikan yang menyebabkan mereka 2 kekhasan yang berbeda, keunikan yang butuh penanganan berbeda, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;meski sama-sama makhluk. Pencerahan apa yang kau maksud? Keadaan status kaummu dan kaum maskulin itu telah tercerahkan sejak sebelum orok bukan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pencerahan apa? Ketertindasan bagaimana? &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Bukankah itu baru muncul bukan karena kekhasan ini? Hanya kepicikan pikir dan tingkah manusia yang kurang memahami penyikapan kekhasan ini? Semua karena kestandartan materi yang oleh manusia sendiri bukan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Itulah mengapa, solusimu menyebabkan kebimbangan dirimu sendiri? Dalam kasus hidupmu hanya dirimu? Lalu bagaimana jika kasus individu ini berkerumun menjadi persoalan komunal? Kekacauan atas nama perjuangan akan pencerahan??&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dua makhluk berbeda gender itu terpekur, berbeda setting mereka menatap large window, menatap pada arah yang sama. Pandangan jauh di depan mata mereka. Sebuah rumah mungil, berpenghunikan sebuah keluarga. Tak pernah didengarnya keributan, piring melayang, Sebuah keluarga, seorang istri, seorang suami, anak-anak yang lucu, berkembang karena kerjasama dan kasih mereka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Mereka tak mendebat, karena memahami posisi, hak dan kewajiban satu sama lain. Pertarungan, tak ada pertarungan, pertarungan yang menyebabkan tersebutnya lawan. Ikatan mereka adalah ikatan suci, menyucikan diri, memanusiakan 2 makhluk itu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dengannya&lt;span&gt; &lt;/span&gt;akan jelas keturunan dan nasab. Tentu ini semua bernilai, tapi bukan selalu yang kasat mata, ada nilai yang timbul karena keyakinan, karena memang itulah nilai sejati, nilai yang senantiasa membuat keoptimisan. Ridho Ilahi, Dzat pemilik jiwaraga makhlukNya,dzat yang terlalu enggan diingat manusia kala menjalani bahtera hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bukankah itu sangat rasional? Keadilan dan kesetaraan tak harus dengan menyamaratakan yang seharusnya memang berbeda bukan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ikatan yang dirajut karena mengerti dan kepahaman bukankah sangat indah rajutannya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-1565623314375699220?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/1565623314375699220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=1565623314375699220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1565623314375699220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1565623314375699220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/05/ayah-kemana-ibu.html' title='Ayah, kemana Ibu...'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-8232470702856778010</id><published>2009-05-14T04:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T04:38:28.274-07:00</updated><title type='text'>Cuap-Cuap</title><content type='html'>Aku Kangeen banget ma dikauuuu...&lt;br /&gt;Abis re kok g nyadar-nyadar....&lt;br /&gt;NYADAR REEEEE....NYADAR!!!&lt;br /&gt;Doain re cepetan SADAR!!!&lt;br /&gt;Diamond Dust aku kangeeennn....:/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-8232470702856778010?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/8232470702856778010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=8232470702856778010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8232470702856778010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8232470702856778010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/05/cuap-cuap.html' title='Cuap-Cuap'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-412401747760952518</id><published>2009-04-29T19:47:00.000-07:00</published><updated>2009-04-29T19:52:13.624-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SfkRwpg9RiI/AAAAAAAAAEQ/kXLGL-6lwAc/s1600-h/Foto(052).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330311161445172770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SfkRwpg9RiI/AAAAAAAAAEQ/kXLGL-6lwAc/s200/Foto(052).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;                         Pelataran TBS kala sore&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-412401747760952518?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/412401747760952518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=412401747760952518' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/412401747760952518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/412401747760952518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/04/pelataran-tbs-kala-sore.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SfkRwpg9RiI/AAAAAAAAAEQ/kXLGL-6lwAc/s72-c/Foto(052).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-5876483021467556272</id><published>2009-04-29T19:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-29T19:45:55.506-07:00</updated><title type='text'>Filosofi Malam</title><content type='html'>Hening.Sesekali suara jangkrik bernyanyi mengisi sunyi.Gelap,hening dan…jangkrik, perpaduan unik Lama kuterpekur begitu juga dengan dia,perempuan yang duduk di depanku, parasnya ayu,seayu pikirannya yang tlah lama kukagumi. Sedari tadi mimiknya sama,matanya terpejam dengan tubuh berselanjar kebelakang, tapi kutahu ia tidak tidur, begitulah caranya menikmati malam,menekurinya dibalik gelapnya pandangan. Dan aku menikmati malam dengan menikmati tingkahnya. Tak jemu, baginya nikmatnya Suasana malam adalah meresapi hingga keheningan sejati terasakan, bagiku dialah pesona malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kau percaya nilai In?tanyaku pelan,mencoba mengusik meditasinya perlahan.Tak bergeming, tetap terpejam, hanya sunggingan yang menandakan ia menyimak ucapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudku kepatuhan manusia terhadap nilai yang sudah ada.Bukankah nilai telah ada tanpa persetujuan kita?lantas, mengapa kita harus tunduk?Toh, bisa jadi kita punya patokan nilai atau bahkan nilai itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Re,mengapa harus ada nilai?apakah kau butuh itu setidaknya untuk hidup?tanyanya datar, kali ini dengan mata terbuka.&lt;br /&gt;Nilai itu ada karena dibutuhkan, kebutuhan itu ada karena keyakinan, keyakinan adalah percaya.lanjutnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sudah bisa menebak tipe jawabannya, tapi itu yang membuatku suka dan tak jemu berdiskusi dengannya, bukan tipe penjustifikasi apalagi pendoktrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seperti diskusi kami yang sudah-sudah, aku akan lama bergeming, memahami maksudnya. Biasalah, otakku terlalu lemot mencerna struktur kalimatnya yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu nilai mana yang kau persoalkan?terlalu banyak nilai dan penilaian bukan? Tatapnya tajam kearahku, seperti silet yang siap merobek tirai keraguan tanyaku&lt;br /&gt;Iya ya, nilai yang mana, terlalu banyak ambiguitas patokan nilai yang kulalui, hingga tak kuingat detail yang mana, batinku ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, kutatap bola matanya,sorot matanya tak setajam tadi, lebih teduh. Sepertinya, ya sepertinya lagi ia tahu segala kegelisahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai, tanpa persetujuan kitapun akan tetap ada Re, sejauh apapun penolakan kita. Terkadang permasalahannya bukan pada nilainya tapi patokan, sign yang dijadikan patokan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm....mungkin.Patokan, patokan yang menyebabkan ketertindasan akan siapa yang melanggarnya, dominasi manusia terhadap yang lainnya. Aku menimpali&lt;br /&gt;Ia tersenyum, entah apa makna senyumnya. Sahabat diskusi yang satu ini susah kutebak, meski beberapa sisi dirinya sangat kupahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaaah...begitulah Reeee. Mumet klo bicara makhluk yang namanya manusia!&lt;br /&gt;Whuam...katanya sambil menguap, lalu meregangkan tangannya keatas, seolah selesai hibernasi&lt;br /&gt;Namanya juga terbatas, keterbatasannyalah yang sering membuat ambigu patokan nilai yang dibikin misalnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang batasannya sendiri ambigu, makna hak asasi yang dibuat dan digunakan seenak udel siapa yang ngomong, atau nilai kesopanan berpakaian terkait pornoaksi yang masih jadi pertentangan kanan kiri&lt;br /&gt;Celetukku mencoba menggenapi ucapannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemm....makanya tadi kutanya Nilai yang mana, tergantung... ia kembali merebahkan badannya kebelakang, memejamkan matanya, kembali bermeditasi bersama malam, lalu aku akan asik menatapnya, sambil berfilosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hihi...aku geli. Filosofi, sok menjadi filosof. Filsafat bikin puyeng. Tapi bukankah itu yang setiap kali kulakukan, bahkan diskusikupun sering mempertanyakan suatu yang telah mapan, dimulai dari mempertanyakan keraguan, lalu berpikir penyelesaian. Yah jika bisa selesai dan terbantu menyelesaikan. Payahnya jika sebaliknya, maka kau akan terjebak dan tersedot lubang hitam keraguan, sejenak bahkan mungkin selamanya. Ngeri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekali lagi kupandangi sosok di depanku, Sahabatku. In, cukup aku memanggilnya In, seperti pula cukup ia memanggilku Re. Ya... katanya namaku kepanjangan, jadi Ia memotong sepenggal kata di nama keretaku. Katanya Re lebih keren, Re bisa berarti kembali, bisa juga dewa mitologi Jepang, Dewa matahari, Dewa Re. Katanya lagi, seperti keraguan dan keingintahuanku yang menyala besar laksana matahari, tapi tak selalu membakar karena akan Kembali dingin, sedingin Bulan. Ah In, penggambaranmu aneh, pembandingan yang tak sebanding. Matahari dan Bulan, siang dan malam.&lt;br /&gt;Jangan lupa Re, baik siang dan malam, tetaplah sama, berbeda warna, terang dan gelap samar, Bulan dikenal karena sinarnya di malam hari, tapi itu hanya pendaran sinar matahari yang tertangkap banyak mata di planet biru ini. Mereka satu kesatuan. Seperti bara yang kan selalu ada dalam keingintahuan, kekritisan manusia selama manusia itu tak menjelma menjadi makhluk stagnan, lalu mereda sebanding proses yang dijalaninya. Ia adalah sistem, maka pengetahuan dan ilmu itu terus ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah In, sejauh mana kau ingin menyelamiku?terkadang ketajaman pisau analisismu sukses menelanjangiku. Hingga aku me re-pikirkan keraguanku yang terkadang tak beralasan. Lalu kau akan bilang Perlukah selalu ada alasan atas pertanyaan? Itu wajar Re, suatu saat kau akan sering menemui pertanyaan, pertanyaan keraguanmu yang lebih mirip lompatan. Semacam spontanitas, spontanitas terhadap realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi Langit malam yang tak mutlak hitam, entah perpaduan biru hitam atau hijau hitam, yang penting tak hitam kelam.. Penilaian manusia nisbi jika sign itu sendiri juga nisbi. Selama itu pula aku berpendapat sangat wajar mempertanyakan, mencoba apatis bukankah melatih kekritisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimanakah kemutlakan itu In? Tanyaku tiba-tiba&lt;br /&gt;Nisbi pada yang nisbi mutlak pada yang mutlak. Jawabnya singkat tanpa titik, tapi itu cukup membuatku tak segera melanjutkan tanya lagi.&lt;br /&gt;Lucu juga ya diumur kami yang tak terlampau jauh berbeda....Ia seperti Sensei bagiku, kalo berdiskusi akulah yang selalu banyak tanya. Selain karena ingin banyak paham juga menghindari tanyanya yang cukup membuat dahi mengernyit. Jujur aku tak ingin terlampau cepat tampak tua, banyak kerutan di dahi bagiku mirip keriput nenekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah siapa yang mutlak itu Re? tiba-tiba ia bertanya&lt;br /&gt;Suatu yang tak ada kemutlakan diatasnya, bukan seperti langit yang berlapis-lapis&lt;br /&gt;Lu kate kue lapis?tanyanya banyol&lt;br /&gt;Hehe..kami tertawa kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, entah dzatnya seperti apa,seperti katamu...tak ada kemutlakan diatasnya, Ia yang tak bisa melihat sesamanya, Ada dengan sendirinya, tak berawal dan berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas bukan manusia dong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu...entah manusia, tumbuhan, Jin, hewan yang jelas..tentulah suatu itu bukan Makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai..nilai..Daripada ngitung berapa banyak nilai mending dikau tanya mengapa nilai itu ada Reee...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak ah..ngantuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mo turun?tanyanya sambil menguap lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya iyalah...masak tidur di atap....Yang bener aja Loe. Aku g kebal malu In, klo ntar kepergok trus sialnya disangka maling...Malulah aku&lt;br /&gt;Apa kata dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum langkah terakhir meninggalkan tempat favorit kami berkontemplasi, kupandangi langit, kuresapi malam, malam yang tenang menghanyutkan, mencambuk jiwa yang gemar berpetualang,...mencari dan terus mnecari menggenapi makna eksistensi diri. Kaulah filosofi malamku In, sepertinya aku harus berlatih lebih banyak memahami hidup sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G bisa tidur, daripada bengong&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-5876483021467556272?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/5876483021467556272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=5876483021467556272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/5876483021467556272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/5876483021467556272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/04/filosofi-malam-hening.html' title='Filosofi Malam'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-7617670514214207996</id><published>2009-02-17T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T05:12:25.701-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SZq3rCElrgI/AAAAAAAAAEI/SlK2h6A6MY8/s1600-h/Image0006%5B1%5D"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SZq3rCElrgI/AAAAAAAAAEI/SlK2h6A6MY8/s320/Image0006%5B1%5D" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303753461100555778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-7617670514214207996?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/7617670514214207996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=7617670514214207996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7617670514214207996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7617670514214207996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/02/blog-post.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SZq3rCElrgI/AAAAAAAAAEI/SlK2h6A6MY8/s72-c/Image0006%5B1%5D' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-9150491736090785089</id><published>2009-02-13T03:03:00.001-08:00</published><updated>2009-02-13T03:34:44.629-08:00</updated><title type='text'>Dunia Baru</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Siapa sebenarnya yang akan kau matikan"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Apa maksudmu kawan?aku sedang tidak berusaha mematikan apapun."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Bohong!kau bohong"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Aku tak bohong padamu kawan"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Tentu saja kau berbohong!!Kau sedang berbohong pada dirimu sendiri"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Glekk. panas dingin seketika.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Hei!mau kemana kamu? Kau belum jawab tanyaku. Mungkinkah yang kukatakan itu benar?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Cuih. akhirnya ludah ini keluar juga, setelah beberapa detik terpenjara di tenggorokan, berlomba dengan degup jantung yang meledak-ledak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"aku mau pergi, terserah pikiran kalian, kalian sudah memframe diriku dari aku masuk ke kotak ini"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"aku akan pergi cari jawabnya...di dunia baru"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Seuntai senyuman, seraut wajah, pandangan terakhir, tolehan terakhir, kabur hingga semuanya sirna...hanya teriakannya yang terngiang, hingga tak jelas, lalu tak kupusingkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Dulu, ada Asa dan keyakinan, ah tidak tapi keyakinan yang melahirkan asa, lalu menjelma menjadi kedinamisan, berlangkah indah, berkata indah, berteriak indah, dalam kotak yang suaranya menggema. Iyah, dalam kotak saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Yakin, asa, dan langkah yang indah adalah jiwaku. Meraka JIWAKU!!Mengapa kalian coba ganggu, ia tetap jiwaku!tak mungkin aku bunuh apa yang menjelma menajdi JIWAKU!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Panas dingin. peluh bercucuran, berlomba dengan denyut jantung yang tak karuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;lalu langkah kumundurkan.....berapa kilo joule kukerahkan untuk berhadapan dengan mereka...lagi,saat yang seharusnya telah cepat menjadi memori&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;yang akan kubingkai sebagai kepingan mozaik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Oh iya, aku tidak mematikan mereka, kawan. Aku bukanlah pembunuh"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"asa, yakin itu tetap ada disini, di tempat yang kutaktahu tepatnya, tapi kumerasa"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;(sambil kudekap dadaku)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Mereka berpandangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Asa, yakin dan kedinamisan yang lahir sudah terpatri dalam jiwaku, dari kumulai bisa merasa keberadaanku, dan mengatakan kalian itulah manusia, seperti juga aku, dan kitalah makhluk terbodoh"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Lalu kenapa?kenapa kau mau ke dunia baru?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"sensasikah?kau cari petualangan baru?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Mungkin iya, mungkin juga tidak"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"selama masih ada asa , yakin, maka kedinamisan itu pasti ada, itu sebuah keyakinan, langkahku di dunia baru"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"hanya saja wajah-wajah yang kutemui bukan wajah kalian lagi...''&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Kenapa? kenapa kau begitu sempit?apa segitu isi brankas otakmu hingga kau nekat berpindah ke dunia baru?dunia yang kau sendiri tak jelas tahu!!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Ini pilihanku, keyakinanku, hanya aku dan kau butuh keberanian, ketetapan. Karena aku belum settle kawan, tidak seperti kalian yang telah terbingkai..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"aku adalah sisi yang lepas, tak terbingkai tapi jg tak bebas terbatas..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"Biarkan kawan, biar kumelangkah dan hirup udara di luar dunia, kotak agung kita. Aku yakin jiwa ini akan menemukan tempatnya, langkahnya. Masih ada udara di atmosfir dunia baru itu"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;"atau mungkin juga disana kotak yang sama....sama-sama kotak??"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-9150491736090785089?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/9150491736090785089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=9150491736090785089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/9150491736090785089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/9150491736090785089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/02/dunia-baru.html' title='Dunia Baru'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-7859585581702400579</id><published>2009-01-27T04:01:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T03:35:00.068-08:00</updated><title type='text'>Aku memang tak ingin Menjadi KOTAK!!</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Aku memang tak ingin menjadi kotak, kotak seperti bahasan yang telah lalu kuulas bersama temanku di pertengahan malam menjelang pagi.&lt;br /&gt;Kotak adalah trimatra geometris, kehadirannya mengesankan kekakuan, sebuah muasal cibiran dan berontak kaum dekonstruksi.&lt;br /&gt;Menjadi kotak bukanlah keharusan, ia adalah pilihan yang terkadang tak sadar memaksa manusia melakoninya.sungguh ironis...&lt;br /&gt;Menjadi kotak adalah sebuah alasan mengapa orang terlampau tak tertarik ataukah takut memahami sesuatu , meyakini dan kemudian memperjuangkan sesutu yang diyakininya. Karena tak tertarik ataukah takut dirinya akan terbentuk menjadi kotak, sehingga tak bebas memandang ke luar kotak yang menawarkan berjuta kebebasan pandangan nisbi.&lt;br /&gt;Sungguh aku adalah kategori manusia yang tak sudi tinggal di sudut kotak yang gelap. Gelap akan keterbukaan cahaya yang bisa berasal dari sudut mana saja.Lalu aku harus dimana?Jika kumenolak meyakini sehingga aku akan memihak sesuatu itu, maka dimana letakku. Jika lagi, kumenolak tinggal di sudut kotak, maka apakah aku juga akan nyaman tinggal di luar kotak dengan beragam kontroversi yang ada, karena kebebasan yang memang dicipta, membuatnya sulit menerima sebuah kebenaran mutlak.&lt;br /&gt;Lamat kupikir , yang akhirnya berujung membahas eksistensi diri, sesuatu poin utama yang menurutku terlampau penting untuk harus diketemukan. Lalu bukankah tinggal di luar kotak adalah tinggal di kotak yang lain??. Maka semua adalah penjara keterasingan bukan??&lt;br /&gt;Lalu dimanakah tempatku, orang yang tak sudi meyakini keberpihakan?&lt;br /&gt;Lalu kutanya lagi? Apakah terlalu sulit menerima sesuatu keyakinan? Lalu apakah sulit menerima sebuah ikatan keberpihakan?apakah tak bisa berjuang tanpa keberpihakan?&lt;br /&gt;Sampai kemudian lemat terjawab erti keyakinan dan keberpihakan, dua frase yang harusnya tak terpisahkan?&lt;br /&gt;Menurut empirisku, keberpihakan adalah sebuah keniscayaan, sama niscayanya akan adanya perubahan. Sama niscayanya pada kehidupan yang tak stagnan. Aku pikir semua ideologi yang sekarang ini baru kutemukan 3 jenis, mulai dari sosialis, islam dan kapitalis, memandang perubahan bukanlah hal yang utopis hanya saja bisa jadi sesuatu momok bagi eksistensi satu dengan lainnya. Lalu untuk perubahan butuh sebuah keyakinan untuk merubah, merubah yang kita yakin akan mengarah pada kebaikan bagi semua. Bukankah dari sini saja, sudah timbul keberpihakan.&lt;br /&gt;Keberpihakan yang akan menempatkan diri pada warna kotak yang kita pilih, sejelas dan seterang apa di dalam kotak bukankah tergantung cara kita mamandang dan membawa dian didalamnya?&lt;br /&gt;Lemat kuberpikir lagi... jika diasumsikan semua kotak adalah wadah, tak ada satupun kecuali bukan wadah, dimana wadah adalah tempat kita bertingkah, berpolah maka bukankah seharusnya dan semaunya kita bertempat di kotak&lt;br /&gt;Hanya.......................&lt;br /&gt;Kotak adalah pengertian lain selain wadah...karena berarti wadah dan keberpihakan kita untuk bertingkah dan berpolah tidaklah salah, wajar adanya.&lt;br /&gt;Kotak lebih pada sikap manusia yang menempati kotak, ketika dia masuk dan memilih kotak tanpa pikir panjang, hanya karena nyaman, hanya karena untung rugi, hanyas karena tak mau membawa dian sehingga membuatnya susah meraba keindahan tiap sisi kotak dan penghuninya, segala yang ada.&lt;br /&gt;Itu saja aku pikir,. Tak lebih. Maka ketakutan berpihak dan berjuang pada apa yang diyakininya itu tak wajar.Asal bagaiman si penghuni kotak bisa menempatkan diri sewajarnya, tak usahlah terlalu XL.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-7859585581702400579?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/7859585581702400579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=7859585581702400579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7859585581702400579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7859585581702400579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/01/aku-memang-tak-ingin-menjadi-kotak.html' title='Aku memang tak ingin Menjadi KOTAK!!'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-4766468106616869158</id><published>2009-01-27T04:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T03:36:01.872-08:00</updated><title type='text'>Journey</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dulu aq sering berpikir bagaimana jika,&lt;br /&gt;Sekarang aq mulai sibuk berpikir bagaimana seharusnya...&lt;br /&gt;Antara dulu dan sekarang adalah rantaian mozaik yang kubingkai dalam brankas otakku&lt;br /&gt;Ia adalah sebuah perjalanan kontemplasi atas realitas yang menyuguhkan pengalaman berharga bagi yang lapang menerima&lt;br /&gt;Kehilangan adalah kata berharga untuk direalisasikan, kepahitan adalah cara berharga untuk menikmati manis&lt;br /&gt;Dari kehilangan aq belajar untuk mencintai apa yang kupunyai, dengannya aq belajar untuk memegang sesuatu dengan sepantasnya&lt;br /&gt;Kehilangan, kepahitan hidup tidak mesti berantonim dengan kebahagiaan, justru dari sanalah terkadang kebahagiaan abadi aq peroleh&lt;br /&gt;Itulah caraku menikmati mozaik yang telah kutata, terbingkai mesti belum selesai&lt;br /&gt;Langkahku dalam memori, untuk terus kuhadirkan, menjadikannya pelajaran pada langkah yang kesekian. Derap langkah yang banyak bukankah akan menjadikan perjalanan kontemplasi semakin mengasikkan...&lt;br /&gt;Aq bukanlah sufi atau orang yang suka bersemedi..&lt;br /&gt;Karena aku bukan lagi sesuatu yang selalu berumus bagaimana jika, hingga langkahnya tersendat pada apatis pikir, kontemplasiku nyata, terindra, karena ia adalah jawaban realitas yang akan kujalani...&lt;br /&gt;Yang akan terus kuhadirkan, kesadaran pikir yang telah lama meredup, tercecer dalam brankas otak yang tak tertata ,&lt;br /&gt;Lalu...dalam waktu antara dulu dan sekarang&lt;br /&gt;Adalah bagaimana pikir dan jiwa terbentuk hingga menjadi sosok terbarukan selanjutnya, terus begitu...... hingga tiba masanya akan sampai pada penghentian langkah nyata untuk keabadian yang dinantikan atau banyak ditakutkan sesuatu itu??&lt;br /&gt;Sekarang... aku masih belum utuh sebagai sesuatu yang berproses pastinya&lt;br /&gt;Hanya saja semakin saja kumerasakan kehilangan lalu memiliki kehilangan, kepahitan lalu mendapatkan kebahagiaan, kepuasan yang merajuk untuk mendapat kepuasan selanjutnya.&lt;br /&gt;Aq akan terus berproses menjadi sesuatu yang melakukan perjalanan kontemplasi atas realitas yang terus terjadi dengan kesadaran yang coba terus kuhadirkan hingga aku akan mendapat lagi serpihan mozaik yang belum selesai kutata. Mozaik yang berharga bukan?&lt;br /&gt;Benar kata orang dan aku turut mengiyakan bahwa pengalaman adalah guru berharga, mengajari bagi yang mau dajari, memberi bagi yang mau diberi.&lt;br /&gt;Ia hanyalah sebatas guru yang terbatas memberi, mengajari tanpa andil menentukan bentuk kita, karena kitalah yang menentukan bentuk kita sendiri&lt;br /&gt;Sutradara yang jauh dari terbatasnya penglihatan manusia memiliki kewenangan Maha untuk mengawasi dan menunggu di hari keabadian para pemain parodi dunia......&lt;br /&gt;darinya aq belajar untuk semakin memahami hakikat diri dalam waktu dulu, sekarang dan juga antara dulu dan sekarang...&lt;br /&gt;darinya diri akan menemukan bentuk selanjutnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-4766468106616869158?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/4766468106616869158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=4766468106616869158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4766468106616869158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4766468106616869158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/01/journey.html' title='Journey'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-3056249349190382830</id><published>2009-01-27T03:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T03:37:30.560-08:00</updated><title type='text'>Andai kumampu mencintai REVOLUSI</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Seandainya aku mampu mencintai revolusi maka akan kunikahi revolusi&lt;br /&gt;Revolusi bagiku adalah sebuah frase yang terlalu banyak dikoarkan&lt;br /&gt;Hingga terlalu indah dipraktekan&lt;br /&gt;Ia ada di benak para pemikir, para petinggi, pada manusia yang mengazamkan dirinya revolter yang lagi kerepaotan mencari kader&lt;br /&gt;Ia terkungkung pada wacana diskusi yang berbunga kontroversi disana sini.&lt;br /&gt;Hingga revolusi bersama menjadi kian tak jelas&lt;br /&gt;Warna revolusi adalah warna pelangi&lt;br /&gt;Warna yang kasat mata mengaburkan spektrum sesungguhnya&lt;br /&gt;Maka revolusi bagiku adalah sebatas muntahan kemumetan akan realitas yang tak kunjung retas.&lt;br /&gt;Realitas yang semakin bebal akan solusi yang terus ditawarkan para manusia yang mengaku revolter itu.&lt;br /&gt;Cibiran adalah bunga penghargaan bagi kami, revolter jalanan.kala itu kubangga sekali, hingga bunga yang tak kalah anyir dari bunga bangkai itupun kucium taklim.&lt;br /&gt;Maka seandainya ku mampu mencintai revolusi akan kupeluk dan tak kan kulepaskan hingga kematian memisahkan kami.&lt;br /&gt;Karena bukankah aku dan revolusi ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan mati. Karena jiwa dan ruh kami menyatu hingga hari penghabisan itu tiba. Karena akulah revolter jalanan yang menyusuri gelapnya perjalanan.&lt;br /&gt;Sayangnya, lama-lama kujenuh dengannya hingga kembali ke baris dua tulisanku, sebuah kalimat kejam kutuliskan dengan geram.&lt;br /&gt;Revolusi adalah hanya sebuah frase yang banyak dikorkan tanpa kucoba terjemahkan bagi mereka yang ingin melahapnya dengan sangat.&lt;br /&gt;Semangatku adalah semangat pragmatis yang membuahkan apatis atas reaksi kemumetanku melihat realitas yang begitu bebal untuk direkonstruksi......&lt;br /&gt;Hingga semuanya menjadi bebal bagiku&lt;br /&gt;Maka aku memutuskan bercerai dengan revolusi, sesuatu yang belum tentu sanggup untuk kunikahi. Sesuatu yang menjadi tandinganku&lt;br /&gt;Karena telah ada seorang pangeran yang lebih memilih menikahi revolusi dibanding perempuan yang belum cocok bersanding dengannya...that’s me?&lt;br /&gt;Bukan...lantas bukan karena cemburu..&lt;br /&gt;Hanya saja revolusi yang kukenal semakin abu-abu. Membuatku terlampau miris meneriakkannya lantang.&lt;br /&gt;Beginikah wajah abu-abu revolusi yang gigih kupegang?&lt;br /&gt;Lalu Mengapa aku akan bagaimana?sebuah pertanyaan mengapa dan bagaimana adalah penggantinya dikala kurindu, untuk terus kuingat dan kurasa arti kestagnanan, kondisi yang kupilih karena......&lt;br /&gt;Ternyata kugagal mencintai revolusi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah....re, ngapain sih loe..&lt;br /&gt;Ke laut ajalah??tak ada revolusi berarti  permulaan sekaratul maut bagi jiwa seorang revolter......&lt;br /&gt;Seperti dirimu? Ah benarkah??yang bener aja loe....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-3056249349190382830?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/3056249349190382830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=3056249349190382830' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/3056249349190382830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/3056249349190382830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/01/andai-kumampu-mencintai-revolusi.html' title='Andai kumampu mencintai REVOLUSI'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-5280530457960083406</id><published>2009-01-27T03:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T03:57:57.302-08:00</updated><title type='text'>Kehilangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;color:#009900;"&gt;Ah gila nih nasib, kalau menghitung berapa kali kehilangan maka niscaya akan sulit terhitung…karena apa?karena aq dah lupa mulai dari kehilangan pensil, celana, sampai kehilangan orang yang kita sayangi yang kita koar-koarkan dengan sebuah kepalan tangan bahwa kita yakin, kitalah yang paling mencintainya, yang lain gak akan sanggup menandingi sayang kita padanya.&lt;br /&gt;Makanya aq ngatain gila nih nasib, aq kehilangan untuk yang kesekian kalinya dan berturut-turut disaat aku mulai untuk mencintai apa yang kumiliki, lalu dihilangkan begitu saja. Sakit hati ini, kecewa hingga terbesit menghilangkan diri adalah usul akalku yang sudah sekian kali.&lt;br /&gt;Aku harus berteriak, maka aq pergi saja ke sawah tempat yang jadi favoritku menumpahkan kekecewaanku entah pada siapa..hingga masih saja kuteriakkan nasib yang salah, yang sial yang tak mau diajak kompromi&lt;br /&gt;Lalu aku berlari, maka aq berlari saja dengan tidur atau kesibukan untuk hengkang sejenak dari realita&lt;br /&gt;Lalu akhirnya aku kelelahan, dan kuputuskan untuk diam saja, biar orang mengolokku orang yang apatis tak jelas, tapi diam adalah bentuk protesku atas kesialan nasibku..&lt;br /&gt;Selalu saja kusalahkan nasib, memang demikian, habisnya...aku mau menyalahkan siapa selain nasib?&lt;br /&gt;Tuhan adalah entitas sakral yang terlampau takut untuk kusalahkan&lt;br /&gt;Tapi Diapun tahu apa yang kukecewakan, sakit di hati dan yang terpenting adalah siapa sebenarnya yang kupersalahkan? Karena sesuatu itu adalah sesuatu yang telah tahu segala yang akan terjadi, termasuk menghilangkan sesuatu yang kucintai&lt;br /&gt;Sumpah, meskipun ada kewajiban ibadah, aku tetap menjalankan di tengah kegeramanku, keduanya berjalanan beriringan bagaikan iblis dan malaikat yang bekerjasama ...tapi memang akhirnya nihil karen diakui atau tidak kemaksiatan dan kebenaran tak akan berjalan beriringan, percaya deh, nih hasil empirisku...&lt;br /&gt;Terus saja kedongkolan hati tak kuasa kumampatkan dengan keikhlasan yang banyak orang sarankan..ah ikhlas, sabar adalah kata-kata yang terlalu indah untuk dipraktekkan. Aku sadar siapa yang kutantang untuk memberi jawaban atas kehendak yang ia putuskan pada hidupku dan hidup orang yang kucintai, ketakutan mulai merayap dalam hati kecilku...&lt;br /&gt;Atas dasar apa aku marah... hati kecilku berkata lirih berbisik”bukankah orang yang kau cintai segala yang kau miliki termasuk dirimu adalah milik Tuhan?” dan bisikan itu terus merajuk minta tempat kontemplasi dalam benakku..meski kutepis berkali-kali&lt;br /&gt;Dan akhirnya pengalaman adalah penjabaran yang sempurna atas apa yang kugelisahkan atas cinta yang kukoarkan pada orang yang kucintai. Atsa semuanya...dan semuanya berbalik menyeringai kepadaku geram, memberi pelajaran hingga aku terjungkal dalam sebuah kotak keterbatasan.&lt;br /&gt;Kenapa Tuhan tak juga menimpakan azab petaka padaku adalah pertanyaan yang belum juga terjawab. Mungkin juga realitas yang sekarang dan nanti berjalan adalah sebuah pembelajaran berharga dariNya, entitas yang kutantang untuk menjawab segala apa yang telah Ia putuskan?&lt;br /&gt;Aku merasa dan akhirnya menyadari sesuatu, bukan Dia yang menjawab langsung , tapi hanya memberi stimulus kepadaku untuk berkontemplasi lagi, menyuruhku hingga dengan ikhlas mau dan mampu menjawab kehilanganku, kegetiran yang menyisakan kegelisahan?&lt;br /&gt;Hingga belum pada akhirnya...&lt;br /&gt;Aku menyadari betapa kehilangan adalah sebuah pembelajaran untuk mengikhlaskan, untuk tidak egois mengkoarkan yang paling memiliki dan mencintai...karena ternyata aq terbatas dan kita, manusia adalah terbatas pada massa dan waktu. Kehilangan adalah bentuk dari keindahan kehidupan untuk kita berkontemplasi menemukan dibalik kehidupan, adalah Sang Maha yang selalu mencintai aq, dan apa yang kita cintai jauh dari apa yang bisa kita beri, rasa cinta yang kita miliki..&lt;br /&gt;Adalah aq atau orang yang menantang dan akhirnya bersedia menjawab tantangannya sendiri..&lt;br /&gt;Tantangan untuk menjawab segala yang kita anggap sebuah masalah atau momok atau nasib yang dianggap kesialan, pelarian yang tak menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tantangan untuk berpikir sebelum bertindak dan memikirkan kembali apa yang telah ditindak untuk melangkah lagi, bukan lari ke belakang atau menyalahkan sesuatu yang belum tentu salah, bukan melangkah pada sesuatu yang telah kita anggap sesuai dari kedangkalan pikir yang masih terintimidasi oleh persaan yang ciut.&lt;br /&gt;Kehilangan akhirnya menjadikanku mencintai apa yang yang menjadikannya hilang, apa yang menguasainya hingga ia hilang, apa yang menguasai realitas yang terus melingkupiku. Dari sesuatu itu aku belajar memiliki kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-5280530457960083406?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/5280530457960083406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=5280530457960083406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/5280530457960083406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/5280530457960083406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2009/01/kehilangan.html' title='Kehilangan'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-6117793478255639869</id><published>2008-11-21T23:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T00:00:50.437-08:00</updated><title type='text'>Ora Nggenah...</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csofie%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csofie%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csofie%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Itulah ungkapan yang saya rasa lebih mirip umpatan, lontaran suara dalam hati ketika saya nimbrung di suatu ajang diskusi antar gerakan di sebuah kampus swasta. Judul diskusinya lupa-lupa inget, intinya kajian wacana perjuangan menuju tegaknya Khilafah di era sekarang. Saya yang waktu itu datang malu-malu bersama teman saya yang bongsornya minta ampun, langsung menjadi sorotan teman-teman gerakan lain. Maklum kami satu-satunya yang mengopinikan gagasan perlunya perjuangan penegakan syariat dengan institusinya Khilafah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari awal kami sudah bisa menebak arahan diskusi ini. Bagi kami tak masalah, asal sudah puas menyuarakan apa yang menjadi idealisme kami, tentunya saya berusaha mengatur retorika secantik mungkin, sebuah problem kebiasaan he2. Semua perwakilan gerakan mulai memaparkan statemennya. Kalau dari GEMA sudah terlalu biasa di telinga saya,tapi kemudian telinga saya tergelitik dengan opini dari satu temen mitra. Keren sekali mereka, unik, lucu. Mendengar statemen mereka membuat saya merasa sedang mempelajari bangunan eklektik, atau mempelajari kawin silang antara kebo ma kambing. Statemennya gado-gado, semakin mengingatkan saya pada konsep dekonstruksinya Derrida. Lama-lama saya banyak mendengar opini para temen mitra,seragam meski beda kotak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tanggapan mereka terhadap konsep perjuangan (dalam artian pemikiran dan metode pelaksanaan perjuangan islam ) cukup unik. Ada yang malu-malu kucing, ada yang bikin formula abu-abu, dan ada satu lagi yang lebih unik, ya itu tadi membuatnya seperti ngawinin paksa kebo ma kambing gara-gara siempunya merasa klo mereka (kambing ma kebo)sama-sama mamalia, punya 4 kaki, tak ada salahnya dicoba dikawinin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ada si mas cute-cute berlomba dengan peserta lain mengacungkan tangannya, mencoba keberuntungan buat ditunjuk ma moderatornya ,akhirnya berkesempatan juga menjelaskan tentang unek-eneknya selama ini, Dengan cool ia memaparkan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tentang perlunya memperjuangkan islam apalagi di era sekarang yang makin amburadul. Wah saya terkesima, manggut-manggut, merasa punya temen satu rasa, satu pemikiran meski beda kotak. Si masnya yang cute melanjutkan pemaparannya,”Semua perlu untuk diperjuangkan, semua ideologi. Yah…seperti bung karno dengan konsep NASAKOMnya,……”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Gubrak, saya merinding. Kekaguman saya luntur seketika, sebenernya waktu itu saya langsung pengen ngomong ma masnya“Permisi mas, maaf sebelumnya,mas tu sebenernya goblok apa stres sih, jelas2 tuh ideologi beda2, artinya punya pemikiran dan metode yang khas, enak aja ngawinin silang, klo stres tuh pake mikir doong jangan malu-maluin gini,” tapi kemudian niatan tersebut saya urungkan, saya merasa kok kurang pantas, untunglah ada sohib saya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bongsor mengingatkan. Saya tak tahu apa jadinya jika tak ada yang mengingatkan. Bisa menambah daftar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;panjang perbuatan memalukan saya. Ah mungkin masnya kurang paham dengan pengertian ideologi. Sampai disini, memang perlu ditekankan ketika akan memulai diskusi, kesepakatan antara sebuah kata, jika tidak yah nantinya malah jadi debat kusir, debat mencari pembenaran bukan kebenaran. Suatu ketika saya pernah terkagetkan dengan opini seorang aktivis yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah ukhuwah islamiah, itu sama saja saya menyebut pisang goreng adalah sandal jepit, mau loe??walah2…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sebenarnya apa yang diungkapkan masnya cute2 bukan sebuah wacana yang asing, hanya saja yang mengagetkan saya hal tersebut sudah mewabah di kalangan yang dikenal dengan plat aktivis dakwah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya pernah membaca konsep kawin silang nggak nggenah itu di Teologi Pembebasannya Michael Lowy. Dia mencoba mewacanakan dan melumrahkan keterkaitan antara ajaran Kristus dengan sosialismenya Marx. Sebenernya lumrah, bagi ajaran yang tidak punya pemikiran yang jelas dan ketiadaan metode dalam membumikan pemikirannya. Maka ia melihat sebuah peluang pada pemikiran seorang tokoh, mungkin si Michael lagi terkagum pada konsep sosialimenya Marx yang mirip dan bisa disamakan dengan ajaran Kristus. Akhirnya jadilah gado2, Ajaran Kristus yang sosialis. Mungkin nantinya bisa saja ada ungkapan’ islam sosialis’ atau ‘sosialime Islam’atau ‘komunis yang islami’ atau ‘atheis yang sholeh’ atau lagi sebutan Kyai Karl marx, Syekh Che Guevara. Walah….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Padahal, tidak ada gado2 yang seenak Warungnya Bu warni, itu kata saya. Maksudnya? Artinya menggado-gadokan ideologi, sesuatu yang telah pasti berbeda, malah akan mematikan ideologi itu sendiri. Percaya deh, meskipun saya berhusnudzan masnya berniat ikhlas dalam memperjuangkan konsep ini, tetap saja akan semakin jauh dari tujuan awalnya, yaitu perjuangan dalam membangkitkan masyarakat. Terakhir, untuk masnya cute2 atau penggila konsep teologi pembebasan , udahlah insaf, mendingan kita makan gado2 beneran di warungnya Bu Warni, re jamin ashoylah rasanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-6117793478255639869?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/6117793478255639869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=6117793478255639869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/6117793478255639869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/6117793478255639869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/11/ora-nggenah.html' title='Ora Nggenah...'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-6198105677332900842</id><published>2008-11-21T23:55:00.001-08:00</published><updated>2008-11-21T23:57:38.660-08:00</updated><title type='text'>Detik Pencerahan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csofie%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csofie%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csofie%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Detik Pencerahan (memoar seorang saya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Detik-detik kegilaan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Yah, saya merasa waras kok! Saya berteriak berteriak berkali-kali , meyakinkan klo diri saya waras. Buktinya saya masih bisa mengindra kemudian memikirkan siapa saya dan lagi dimana. Tapi lagi-lagi saya tidak puas, saya tetap merasa GILA!perasaan macam apa ini?!Sialan!umpat saya berkali-kali sambil memelototi sebuah wajah di depan cermin yang semakin lama tak semakin terlihat ayu, memuakkan malah. Wajah seorang looser!tangan saya mengelus wajah saya yang mirip perbukitan terjal. Aduw!!tak sengaja salah satu gunung merapi di wajah saya tercakar,perih!lalu sayapun tersenyum simpul, yah ini rasanya perih, berarti saya masih bisa merasa, Hore!saya waras, saya masih waras!! Teriak saya diiringi wajah-wajah bengong teman2. Lalu merekapun acuh sambil mengucap “Gila loe re teriak 2!nggak waras loe!”, mendadak kepedean dan kebanggaan yang terbangun runtuh seketika, berarti saya masih gila??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Klimaks….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mengapa mereka menyebutku gila?saya menceracau di dekat kali sambil mancing, Plung!kail pancing terjatuh dengan kasar. Saya tak tahan lagi!suara saya terdengar serak basahnya pingkan mambo, Baiklah saya akan akhiri semua ini. Tiba-tiba warna air kali yang tadinya mirip warna tai kebo berubah warna, menjadi biru berkilauan, aroma segar menyeruak menembus syaraf otak yang tak terkendali. Apakah ini jawabnya! Lalu sebuah badan terjun bebas ke kali, tak bergerak ,mengambang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pergi terbawa arus…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Plak!!ah ternyata cuman mimpi. Keringat dingin mengucur ringan dari ubun-ubun, meleleri wajah seorang saya. Naudzubillah! Bunuh diri?bukankah itu tadi mimpi seorang apatis yang bunuh diri? Dan tokohnya saya sendiri?bulu kuduk saya tiba-tiba meremang, badan saya menggigil. Semoga Allah senantiasa melindungi hambaNya dari kegilaan dan kebodohan diri. Fenomena bunuh diri, suatu langkah pengecut, meski banyak diminati orang apatis yang mentok solusi,Sampai disini, saya tidak akan langsung menyalahkan setan, karena memang tugas setan adalah menggoda anak adam, maka wajarlah, tapi pilihan untuk melakukan atau tak melakukan suatu kebejatan adalah masih dalam ranah kemampuan saya memilih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Saya pernah mengalami kegalauan yang sangat, kegalauan yang menjelma menjadi ketakutan. Saya merasa tidak ada yang bisa menolong saya. Hanya satu yang masih berusaha saya percaya. Tuhan. Ya, hanya Dia. Karena permasalahan yang terjadi adalah langsung antara saya dan Tuhan. Permasalahan yang baru saya sadari , perang keimanan dalam akal saya. Ini adalah sebuah perang yang saya takuti. Karena solusi yang didapat akan menentukan pemaknaan hidup , saya tak mau menjadi mumi hidup. Tidak God!tolong, Please! Saya meratap pada sesuatu kekuatan yang saya sendiri mulai ragu. Ya!Saya pernah ragu pada eksistensi Tuhan! Ironisnya, itu terjadi ketika saya sudah mulai mengkaji islam secara intensif (katakanlah saya lagi menyandang plat aktivis dakwah). Entah bermula dari apa, saya mulai muak dengan keteraturan hidup , apiknya lagi itu ditunjang dengan kekecewaan saya melihat orang alim munafik.Hueek!! Saya merasa memasuki sebuah lubang orang-orang bersih, dan saya harus bersih, padahal kotoran di baju saya susah untuk dihilangkan. Saya mulai apatis. Apakah ini yang namanya perubahan? Apakah benar saya berubah karena kesadaran ataukah karbitan. Lama setelah pertanyaan itu muncul, hari-hari menjadi sebuah rutinitas bagi saya, dan saya berusaha mencintai alur rutin hidup ini… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Terus terang saya mulai mengkaji dan mulai terlibat di suatu kelompok dakwah karena ajakan kakak saya, dan apa salahnya untuk dicoba, toh waktu itu tak ada gerakan yang patut dipercaya, yah, saya pernah sangat kecewa&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;dengan sebuah gerakan. Tapi bukan itu lagi masalahnya. Toh ternyata sebenarnya tak perlu dipersalahkan, sebuah khilafiah yg alamiah. Dalam kehampaan jiwa, saya mulai bertanya,mempertanyakan segala sesuatu yang menggelitik pikiran saya. Kebiasaan lama saya kambuh, membaca banyak novel dan komik, tapi itu tak mengahpus rasa hampa di jiwa. Yah, saya tahu seharusnya membuka kitab suci, tapi selalu urung saya lakukan. Mungkin hati saya telah mati. Lalu saya mulai berkenalan dengan filsafat. Saya mulai tertarik dengan bahasan filsafat, saya mulai melahap beberapa buku filsafat mulai dari yang kiri sampai berbau islami. Lama-lama bacaan novel filsafat, buku-buku kiri mengalahkan ketertarikan saya mengkaji Islam itu sendiri. Tak terasa saya semakin larut, apalagi ditunjang dengan kuliah filsafat dengan tenthor yang keren dalam memaparkan. Lalu pertanyaan mendasar itu terngiang lagi, pertanyaan Apakah benar ada Tuhan di balik segala yang saya lihat?lalu Tuhan seperti apa?dunia seperti apa?bagaimana sebuah idealisme diperjuangkan?pemkanaan dan penyikapan toleransi keberagaman pemikiran?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Jika dulu saya langsung terdoktrin menyalahkan filsafat sebagai penghambat kebangkitan, lama-lama saya mulai menyelami dan mencoba memahami filsafat itu sendiri. Lalu sampai pada sebuah kesimpulan. Tak ada yang salah dengan filsafat, Barat dapat keluar dari dark age karena jasa para pemikir, para filsuf juga, filsuf yang mendobrak kemapanan berpikir gereja, hingga masayrakat tercerahkan. Maka muncullah kapitalisme sebagai sebuah bentuk perlawanan. Lalu……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ah saya tak perlu menceritakan semua masa dark age pemikiran saya. Memang benar saya pernah jenuh, bukan pada kajian keislaman yang saya ikuti, tapi jenuh pada kelembaman berpikir dan perilaku saya sendiri. Saya tak menyadari bahwa kesombongan saya dimulai ketia saya mulai masuk ke sebuah gerakan. Saya merasa superior. Langsung menjustifikasi pemikiran yang berlawanan bahkan langsung menyalahkan sesuatu pemahaman yang memang boleh ada perbedaan. Sampai disitulah kekakuan berpikir saya mulai terbangun. Lalu kejenuhan dimulai, karena saya adalah seorang pecundang nomor wahid dari banyak orang yang saya perolok sendiri. Saya meyakini sesuatu tanpa kesadaran, meyakini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanpa berbuat, terlalu banyak mencari kambing hitam atas kelembaman perjuangan yang saya azamkan. Lalu apa gunanya sebuah ideologi bagi diri saya? Ketika saya tak merasa memilikinya? Sampai disini saya berpikir. Dari awal saya sudah tahu bahwa keimanan haruslah diraih dengan berpikir yang cemerlang, maka keyakinan itu akan terpatri. Sebelum sholat, kita harus meyakini dulu kebenaran Islam, keyakinan terhadap keberadaan Allah yang menurunkan Alquran sebagai sumber hukum kehidupan. Tapi dasar manusia, jarang berpikir dan mengkaji lebih jauh, makanya gampang futurnya. Langsung merasa menemukan ketenangan setelah sekilas membaca tulisan Nietczhe, langsung merasa mendapat pencerahan setelah membaca tulisannya Marx, langsung terkagum dengan perjuangan gerilya seorang Che Guevara. Tapi ada ibroh juga, Kesadaran berpikir akan tumbuh ketika kau sering bertanya dan mencari jawabnya, lakukanlah banyak diskusi jika perlu, bertanyalah pada yang ahli, jangan langsung merasa cepat puas atas perubahan yang tlah dilakukan, adalah kunci untuk kebangkitan diri. Percayalah re, Allah menciptakan potensi pada kita bukan untuk menjadi bumerang bagi kita, hanya saja manusia sering menuhankannya hingga lupa pada Tuhan yang sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kutak ingin Tuhan, Malaikat maut menjumpaiku dalam keadaan tangan hamapa tanpa perjuangan menegakkan dienMu ya Rob… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Semoga Kau memaafkanku Ya Allah, memaafkan kebangsatan yang pernah kulakukan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Gerakan adalah dimana dirimu bergerak untuk membumikan pemikiranmu, mempropagandakan pada setiap orang yang ada disekitarmu dengan kesadaran dan cinta karenaNYa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bukan himbauan dari atasan atau semangat kebersamaan saja, tapi dari dirimu, karena ruh ideologi tak kan pernah mati selama denyut nadi masih terasa, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                                                          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-6198105677332900842?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/6198105677332900842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=6198105677332900842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/6198105677332900842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/6198105677332900842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/11/detik-pencerahan.html' title='Detik Pencerahan'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-8806971654319786824</id><published>2008-09-21T05:09:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T05:10:21.704-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Simbol yang jadi bumerang&lt;br /&gt;Berawal dari diskusi dadakan saya bersama kakak. Sebenarnya sudah terlalu biasa bagi kami berdiskusi,karena menyebutnya sekedar nercakap-cakap kok tidak pas, karena memang yang terjadi diskusi, meski tak jarang berawal dari obrolan ringan, dan akhirnya memberat, dan tak jarang pula kamipun kewalahan, kadang sepakat terhadap sebuah penyelesaian suatu perkara, kadang bersikukuh pada pemahaman masing-masing, kadang buyar karena cenderung debat kusir. Ah memang si kakak, kalo pas ketemu saja (itupun nggak sering-sering) selalu berujung diskusi. Tapi dari situlah saya bisa menggali beragam ibroh akan sebuah perbincangan.&lt;br /&gt;Suatu waktu kakak bertanya, “Hei Re, ada seorang muslimah, seorang akhwat, aktifis dakwah malah, di sisi dinding kosnya terpampang lebar poster Che Guevara, menurut adik, karena apa si akhwat nglakuin itu?”&lt;br /&gt;Sejenak sayapun berpikir, saya paham maksud pertanyaannya, Che Guevara tentulah berbeda dengan tokoh Ibu kita Kartini, Che identik dengan tokoh pejuang kiri, tentulah akan sangat aneh ditemukan poster wajahnya terpampang lebar di dinding kos-kosan akhwat, aktifis dakwah Islam pula. Secara, azas perjuangan Nabi Muhammad dengan Che  bagaikan langit dan bumi.&lt;br /&gt;“Yah tergantung mbak,” saya mencoba menjawab singkat,&lt;br /&gt;“maksudnya  tergantung??”kakak saya bertanya dengan intonasi suara memberat. Saya sudah bakalan tahu, kalau ia akan langsung  tanya balik.&lt;br /&gt;“yah, manaketehek mbak, klo ditanya alasannya mah, mending tanya ke akhwatnya sendiri,” jawab saya sembari berkelakar. Eh, saya kira kakak saya juga ikutan tertawa, tapi bukan tertawa tepatnya, raut mukanya memang langsung berubah, berubah manyun, dahinya mengernyit,&lt;br /&gt;“kok bercanda sih dek, yah mbak tahu, tapikan mbak tanya klo menurut adik, seandainya dikau gitu?!” katanya dengan sedikit hardikan&lt;br /&gt;Wah, nih bakalan serius, jurus banyolan saya sudah tak mempan. Baiklah, secepat mungkin saya tata retorika dan bermodal jawaban asal yang masih beragam di kepala.&lt;br /&gt;‘Ehm, bisa jadi itu hanya jadi spirit baginya…”&lt;br /&gt;“Spirit bagaimana?” tanya kakak&lt;br /&gt;“yah, mungkin si akhwat cuman mengambil sisi kegigihan perjuangan Che waktu bergerilya di hutan belantara,misalnya,”&lt;br /&gt;“mengambil spirit?, bukan, mungkin juga si akhwat sudah terobsesi  dengan si Che, hingga memajang poster di dinding , ia mulai melirik alur perjuangan Che…” nada kakak mantap tanpa memberi celah anggapan bahwa ia menyodorkan pertanyaan, tandanya, pernyataannya barusan adalah sebuah statement pendapatnya, bukan lagi kebingungan,&lt;br /&gt;“Itukan sama saja ketika adik menempel poster Bush gede-gede di dinding atau pintu kamar adik, itu tandanya adik terobsesi…” kata  kakak  sambil menodongkan telunjuk jarinya ke arah saya.&lt;br /&gt;Saya terdiam, singkat sekali untuk menyimpulkan, diskusi ini terlalu singkat untuk menghasilkan keputusan,&lt;br /&gt;“ya, iya sih, saya memang terobsesi…”&lt;br /&gt;“ nah kan, makanya, memang harus hati-hati mengobsesikan sesuatu, bisa jadi melenakan kita  akan sesuatu yang justru berlawanan dengan arahan yang telah kita perjuangkan” kata kakak  sambil beranjak dari tempat duduk dan menepuk bahu saya pelan. Meninggalkan saya yang diam terpaku.&lt;br /&gt;“Maksud saya mbak, memang saya terobsesi ketika nempelin foto Bush, saya terobsesi untuk segera melenyapkannya dari muka bumi berikut pemikiran kejinya, terlalu picik hanya gara-gara poster saya berubah haluan, apalagi fotonya si Bush nggak ada gantenganya sama sekali, hih jijay…” gumam saya menyelesaikan ucapan yang belum tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah sekedar simbol, menjadi bumerang.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Re_&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-8806971654319786824?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/8806971654319786824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=8806971654319786824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8806971654319786824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8806971654319786824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/simbol-yang-jadi-bumerang-berawal-dari.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-8403690892785441164</id><published>2008-09-21T05:08:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T05:09:02.690-07:00</updated><title type='text'>Sepetik Kesadaran tentang....</title><content type='html'>Hari itu anomali buatku, ada sebuah rencana tak terduga. Bulan inikan  bulan puasa, seperti biasanya aku main ke kampus ISI, silaturahmi ke bagian muslimah sie kerohanian Islamnya,alias di masjid Kalimasada. Aku pikir berbincang dengan mereka sangat menyenangkan. Karakter orangnya macam-macam, ada yang diam saja, ada yang senang berbagi cerita. Suntukku akan keteraturan akan hilang ketika bercengkrama dengan mereka. Tak jarang pula kujumpai mereka dengan dua pakaian yang berebeda dalam waktu yang berbeda,kebanyakan mereka memakai kerudung (meski gaul), tapi ketika akan praktek semisal praktek menari mereka akan melepas kerudung, ironis mereka, dan kerennya mereka berbagi akan hal itu. Sore itu seharusnya ada kajian dan yang mengisi temanku, berhubung mendadak temanku kecelakaan, jadi vakum, tapi mereka tidak mau kalau vakum. Tertunjuklah diriku sebagai pengisi kajian, menggantikan. “ah yang benar saja, ku tak ada persiapan pren,”kataku jujur pada mereka, tapi entah mengapa juga kepercayaan mereka terhadapku tinggi sekali, bak anak kecil yang merajuk pada ibunya. Lalu kukatakan lagi pada mereka,”benar lho, kalau bahasan fikih wanita, pengetahuanku masih dangkal,” dan jawab mereka”ah m, apalgi kita, udah gak apa-apa”. Ya sudah, jadilah itu kajian perdanaku, tanpa persiapan pula. Alhamdulillah dalam ucapan dimudahkan Allah. Bener-bener Allah emang Maha Besar. Ya iyalah.&lt;br /&gt;Kau tahu teman, jika menulis atau menggambar aku masih sanggup, tapi kalau suruh bicara aku masih terbata-bata. Maka hal itu paling aku hindari, aku terlalu takut jika perkataanku terlalu menggurui, sampai aku selalu mengulang pertanyaan pada mereka, “Apakah tadi yang kusampaikan jelas, tak terlalu sulitkan?” “Maaf, gak menyinggungkan?” karena kupaham teman, apa yang akan dan setiap kata yang kusampaikan akan sangat menyinggung mereka atau bertolak belakang dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Katakanlah semisal pakaian atau dandanan, mayoritas mereka sungguh seperti wayang. Ataukah mungkin kuliah yang menuntut demikian ?entahlah. Maka  etrakhir penjelasanku, aku menekankan kebenaran apa yang kusampaikan, dan kesadarn untuk melaksanakannya, inilah kewajibanku sebagai saudara, mengingatkan. Akhirnya semua terdiam, begitu juga aku. Mencoba me reka makna diam kami.  Lalu tak terduga kamipun saling sharing, aku kemukakan pengalamanku pertama kali hijrah memakai jilbab dan kerudung. Asyik deh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-8403690892785441164?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/8403690892785441164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=8403690892785441164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8403690892785441164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8403690892785441164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/sepetik-kesadaran-tentang.html' title='Sepetik Kesadaran tentang....'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-6186749737484672879</id><published>2008-09-21T04:59:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T05:07:57.497-07:00</updated><title type='text'>kotak versi baru</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;'kotak'&lt;br /&gt;Saya tidak akan berbicara kotak dalam analisis matematika,tapi bicara wacana lain tentang kotak. Berawal dari obrolan yang menemukan sebuah wacana tentang kotak. Diskusi inipun berawal dari kemumetan saya setelah beberapa lama mengikuti mata kuliah filsafat. Satu-satunya mata kuliah yang bikin saya tambah puyeng daripada mudengnya. Selalu saja  saya menjaga kepala tetap tegak ketika kuliah berlangsung , melawan ngantuk yang tiba-tiba hinggap,sementara mayoritas teman-teman  lebih memilih bertopang dagu  dan mengobrol sendiri. Saya terpana ketika untuk pertama kali bagi saya, ada dosen jurusan kuli gambar yang memaparkan kuliah tentang kehidupan,sejak sekian lama kami, para mahasiswa berkutat tentang gambar-menggambar, meskipun hingga kini saya belum bisa menjawab apa relevansi filsafat ilmu dengan jurusan yang saya tekuni, pun ternyata dialami oleh teman-teman juga. Beliau memperkenalkan tentang filsafat sebagai cara berpikir alternatif,mendobrak status quo cara berpikir yang ada. “Manusia adalah makhluk yang berpikir ,hanya saja tidak semua orang memiliki kesadaran berpikir.”Saya yang dari tadi mengantuk berat, tiba-tiba bersemangat untuk mendengarkan kuliah beliau (tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai ceramah),sejenak saya berpikir tentang apa yang beliau paparkan tentang kesadaran berpikir. Saya mencoba memahami  apa yang beliau maksud tentang kesadaran berpikir, hal yang  perlu saya lakukan karena boleh jadi apa yang beliau pahami tentang hal tersebut berbeda dengan yang saya pahami.Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa hilangnya kesadaran berpikirlah yang menyebabkan kemunduran kondisi bangsa.  Cara berpikir manusia telah terdoktrin oleh cara berpikir pada umumnya, telah terkungkung oleh salah satu cara berpikir yang menyebabkannya sulit  menerima cara berpikir lainnya.Itulah mengapa berpikirnya kebanyakan orang susah berkembang, terlalu cepat menyalahkan suatu hal yang berbeda dalam sudut pandangnya. “Coba, sekarang kalian semua pandang dan lihat saya, tentunya ketika saya tanya ,Apa yang  anda lihat dari penampilan saya, mahasiswa satu dengan yang lain akan berbeda, mahasiswa yang berada tepat di depan saya akan menjawab berbeda dengan mahasiswa yang ada di samping saya, Meskipun begitu tentu saya tidak bisa menyalahkan ataupun membenarkan, karena semua memiliki sudut pandang yang berbeda”papar beliau diikuti anggukan para mahasiswa.Masuk akal juga.Beliaupun menuju papan tulis dan mulai menggambar sesuatu, sebuah kotak dengan titik diluar kotak. “Saya ibaratkan kotak ini adalah penjara, sedangkan titik di luar adalah napi yang berhasil kabur dari penjara,pada waktu itu polisi berusaha mencarinya di semua sudut dalam penjara tapi tidak ketemu, pertanyaannya mengapa polisi begitu sulit menemukan, silahkan anda menjawab.”kamipun langsung menjawab bahwa polisi tidak berhasil menemukan karena  hanya mencari di dalam penjara saja.Beliau tertegun dan melanjutkan pemaparannya. “Begitulah ketika manusia terjebak pada satu kotak pencarian saja, seandainya polisi itu mencari di luar kotak, tentulah peluang menemukannya akan jauh lebih besar.” kali ini saya tertegun, mencoba memahami makna implisit ucapan beliau.”Manusia seyogyanya berusaha keluar dari kotak berpikirnya selama ini, berpikir di luar kebiasaan, berusaha mecari hakikat sesuatu dengan lebih leluasa.”paparan beliau menyudahi kemumetan saya, maklum saya termasuk  orang yang susah memahami kata- kata yang tidak lugas.&lt;br /&gt;Humm……keleluasaan berpikir mencari hakikat kebenaran, begitulah inti paparan beliau yang saya tangkap. Jika boleh saya memberi judul perkuliahan ini adalah “Pencarian makna dibanyaknya analogi berpikir”, karena sejauh ini beliau banyak beranalogi ketika membahas sesuatu, maka saya juga akan belajar beranalogi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Membahas tentang terminal bis, tentu obyek utamanya adalah bis, jika tak ada bis maka terminal itu akan tertolak sebagai terminal bis, begitu juga dengan terminal bis juga akan tertolak jika diaku sebagai terminal kereta api, karena memang dari fungsi awal berdirinya sudah khusus sehingga sarana prasarana yang dibangun juga akan khusus.&lt;br /&gt;Namun baik bis, kereta api, kapal terbang, kapal laut, semua pastilah memiliki orientasi gerak. Tidak ada  yang membuat dengan tujuan agar benda-benda ini tetap diam karena fungsinya sebagai alat transportasi.Karena itulah mereka memiliki jalur sebagai media gerak.  Agar berkendara menjadi lancar, pastilah ada aturan mengemudikan yang benar, aturan berlalu lintas.Jika sedikit saja dilanggar, atau ada peraturan berkendara yang tak ditaati, pastilah akan mengacaukan tatanan lalu lintas.Tidak perlu untuk diuji, toh sudah banyak kasus kecelakaan yang terjadi akibat mal praktek/human error, tentu kecelakaan yang banyak terjadi tidak langsung dengan tergesa akan kita jawab, “Segala sesuatu yang terjadikan sudah ketentuan dari Tuhan” atau “Ah biar sajalah, terserah dengan tindakan kita, mal praktek ataupun bukan, toh ntar juga akan kita pertanggungjawabkan”.&lt;br /&gt;Aturan berlalulintas yang telah ditetapkan misalnya tentu bukan merupakan sebuah paksaan. Sudah sewajarnya kalo Bis melaju di jalan darat, kapal laut di air, kapal terbang melaju di udara, jika kapal terbang melaju di darat maka namanya bukan sedang terbang, dalam bahasa inggrispun namanya landing artinya fungsinya untuk terbang belum terpenuhi. Oleh karena itu, semuanya memiliki pongkalan yang berbeda memang dan juga aturan mainnya ,tidak bisa dikawinsilangkan. Lalu lintas yang teratur tentu lebih dipilih daripada kondisi lalu lintas yang semrawut, negara pengusung liberalismepun akan setuju dengan hal ini, apakah mereka akan mendemo bahwa lancarnya lalu lintas adalah penjara bagi kebebasan berkendara?? Jika memang mau mengikuti alur fredoomnya, pengendara bisa menciptakan kondisi lalu lintas yang diinginkan, ia bisa bertindak ugal-ugalan dalam berkendara, terserah akibatnya nanti, yang penting dia sudah  berexperimen, dan silahkan simpulkan sendiri hasil akumulatifnya. Tentu ada aturan sehingga proses berkendara bisa rapi dan tidak menimbulkan petaka bagi manusia itu sendiri, baik yang berkendara maupun tidak. Aturan dari mulai  melaju hingga kembali ke pangkalannya, begitu juga kendaraan lain  yang kembali pada titik tertentu, semua ada batas laju, artinya dari acuan berangkat sampai acuan berhenti ada aturan  dan media laju yang kudu dipatuhi sehingga tujuanpun bisa dicapai dan tidak mall praktek sehingga tidak akan sampai pada tujuan yang direncanakan. Begitulah analogi diatas dengan proses berpikir yang juga bermacam-macam. Berpikirnya manusia ibarat proses laju, tentu harus ada metodenya, yaitu metode  berpikir rasional, dengan bermacam cara berpikir, baik berpikir ilmiah, berfilsafat (ilmu mantiq),dll.&lt;br /&gt;Metode berpikir rasional adalah baku, Mengapa saya katakan baku? Bukannya saya melakukan doktrinasi,namun karena memang merupakan berpikirnya manusia pada umumnya. Mengapa juga saya bedakan antara metode dan cara? Karena memang keduanya berbeda, metode adalah teknik baku pelaksanaan, sedangkan cara adalah teknik yang bisa berubah-ubah, disesuaikan oleh kondisi pelaksanaan,meskipun tidak pernah jauh menyimpang dari metode pokoknya.Menurut pemahaman saya, manusia berpikir memerlukan 4 komponen, yaitu otak, panca indra,fakta, dan informasi tentang fakta itu sebelumnya.Jika salah satu dihilangkan maka berpikirnya tidak akan utuh. Contoh simplenya adalah ketika seorang dewasa atau profesor sekalipun yang buta pengetahuan tentang huruf china, samapi kapanpun taka akan mampu membaca tulisan berbahasa China. Ia harus belajar dulu (beragam pengetahuan tentang tulisan China) baru ia mulai bisa membaca dan menterjemahkan maksud tulisan tersebut. Ketidakmampuan si profesor membaca dan menterjemahkan tulisan China bukan karena ia bodoh, atau tidak berakal sehat, hanya saja belum sampai padanya pengetahuan tentang bahasa China, salah satu komponen penyempurna proses berpikirnya.  Sedangakn maksud akal adalah pikiran itu sendiri, sesuatu yang tidak konkret tapi nyata, ada dalam penampakannya yang lain, dari produknya. Akal adalah pikiran, proses berpikir, yang hanya dimiliki manusia, maka kesadaran berpikir hanya dimiliki oleh manusia, bukan hewan. Nah, jika ada manusia yang berkelakuan layaknya hewan, seperti kumpul kebo, memamerkan aurat, bugil, bukan berarti manusia ini tidak punya akal, tapi ia melakukan sesuatu yang dilakukan hewan dalam bertindak. Manusia tidak menggunakan akal yang menjadi potensinya, tapi cenderung mendewakan kebutuhan nalurinya untuk dilakukan pemenuhan.&lt;br /&gt;Itulah kesadaran berpikir, dalam artian penulis, adalah bentuk kesadaran manusia akan potensi yang didapatnya gratis dari Sang Pencipta, untuk ia gunakan memikirkan dan merenungi tentang keberadaan dirinya, alam semesta dan kehidupan yang meliputinya, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, yang menjadi sebuah kebingungan (mungkin, sampai disini maka lahirlah banyak filosof dengan tesis filsafatnya yang berbeda satu sama lain)tentang Siapa di balik ini semua?Siapa yang menjadikan?Siapa yang mengatur hingga tertata satu dengan lainnya?Aknkah materi itu sendir berkuasa?atau Siapa? Berkali-kali, Sampai berabad-abad terus dipikirkan kalangan filosof, para pemikir. Memang bagi seorang pemikir, seorang yang tentunya tanggap, inilah yang menjadi kebutuhan untuk segera diselesaikan, harus diketahui tepat jawabannya, untuk kemudian ia dapat menjalani hidupnya dengan gamblang, tanpa abu-abu lagi. Karena ini adalah hal yang mendasar. Inilah kesadaran berpikir. Sadar memikikan dasar, falsajfah kita ada, kita hidup dan menjalani kehidupan, berkelana mencari eksistensi diri dan kebahagiaan. Tentulah ini adalah kunci emas menuju pintu pencerahan.  Memang kesadaran berpikir, penulis setuju jika tak ada doktrinasi karena akan memampatkan laju pikir.  Ada doktrinasi, berarti ada tekanan, membuat orang takut berpikir rasional. Filosof sangatlah menyadari bahaya ini, sebuah pengalaman pahit akan doktrinasi gereja. Tentu masalah diatas adalah manyangkut masalah keimanan, Tuhan memberi peluang yang besra bagi kita untuk berpikir, dalam jangkauan yang memang mampu dipikirkan manusia, mampu dijangkau akal. Karena dalam perjalannya, memang ada hal yang pantas disebut rambu, hal yang tak bisa kita jangkau, conto yang pasti adalah tentang dzat Tuhan. Tuhan sepertia pa dan kerajaannya seperti apa, sampai jebatpun tak akan mendapatkan hasil jawaban yang 100% benar. Disinilah akal tunduk, ini bukanlah doktrinasi, penghambat kesadaran berpikir, penghambat kebebasan berpikir. Tapi sejujurnya, bagi para pencari kebenaran, tentu dengan maklum akan setuju dengan hal ini, jika ngotot dipaksakan bahwa akal bisa menjawab, pastilah jawabannya nisbi. Hanya gambaran akal manusia. Tidak bisa dibuktikan.&lt;br /&gt;Berpikirnya manusia, tentulah ada jalur, seberapa ngawurnya ia akan berkelana dalam pemikirannya. Arahan yang akan mengantarkannya pada tujuan mencari jawaban sesuatu yang ingin diketahuinya. Hanya saja, agar tidak saling tabrak, tentu jalur yang dipakaipun harus tepat, agar sampai ke tempat tujuan. Berpikir ilmiah memang tak salah jika digunakan ketika meneliti suatu benda yang tunduk pada penelitian manusia, yang boleh jadi hasil penelitian kan bisa terbantahkan di kemudian waktu oleh hasil penelitian lain yang dinilai lebih valid. Jika metode ilmiah (cara berpikir dengan meniadakan informasi sebelumnya) dipakai dalam proses keimanan, akan tidak sampai tujuan yang diharapkan, yaitu menggapai keimanan yang haqiqi, keyakinan yang bulat, tidak subhat, karena perkara untuk meyakini dzat Tuhan hanya bisa dicari lewat perantara keberadaannya ciptaannya (seperti analogi simple, ada kursi pasti ada pembuatnyakan?) bukan sampai harus menghadirkan secara nampak mata akan dzat Tuhan, maka hal itu, bagaimana tentang konsep dzat Tuhan, perkara dimana keberadaannya, akal tunduk pada  informasi langsung dari Tuhannya, yaitu lewat Kitab suci yang tersampaikan lewat RasulNya. Tentu ini bukanlah doktrinasi, kita gunakan metode berpikir rasional dalam hal ini, sekali lagi bukan metode ilmiah.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, terkait perbedaan memahami dan menghukumi fakta dan peristiwa, memang harus dilihat banyak hal sebelum menjatuhkan justifikasi, penulis sepakat dengan sang dosen filsafat, hanya saja kita juga jangan terlalu berlaku toleransi, harus diteliti dulu pertamakali, yaitu kesesuaian pemakaian cara berpikir. Sudah tepatkah? Baru dilihat analisis dan dasar argumennya? Jika dari awal sudah tidak tepat menempatkan cara berpikir, mengapa juga dibutuhkan toleransi berkepanjangan? Tentunya teman menolak jika pisang goreng, saya anggap ketela goreng, gara-gara sudut pemikiran yang saya gunakan beda.  Atau teman saya samaratakan dengan orangutan, gara-gara memang demikianlah hasil penelitian ilmiah saya? Manusia dianggap orangutan yang berevolusi. Walah-walah. Padalah jika mau merunut potensi yang membedakan manusia dengan hewan, tentulah ini tertolak. Kawin silang pemikiran yang gagal dari awal.Iyakan?iya nggak sih???Lalu hubungannya ma kotak diatas?iyaya..apaan ya?he2&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Re_&lt;br /&gt;Akhirnya diskusi kamipun terpaksa diakhiri karena waktu sudah beranjak dini hari&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-6186749737484672879?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/6186749737484672879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=6186749737484672879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/6186749737484672879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/6186749737484672879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/kotak-versi-baru.html' title='kotak versi baru'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-4623283008469874659</id><published>2008-09-21T04:56:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T04:58:23.289-07:00</updated><title type='text'>Autumn leaves R.I.P</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Daun autumn berjatuhan, menari gemulai , memberi warna pelangi pada udara, disampingnya sakura kuning turut menari melambai dalam sapuhan sepoy angin, urun menghias udara yang makin kelabu. Sementara aku berdiri terpaku,menengadahkan kepala, membiarkan rontokan daunnya mamapir, menggores wajahku yang tlah lama luka., tanah semakin memudar warna coklatnya, tergantikan oleh warna pelangi, daun yang gugur memberi warna pada bumi yang monoton, terinjak, membusuk dalam Sang kuasa Raja pengurai, menyisakan kenangan akan keindahan, yang dulu, sebelum jatuhnya pernah mentakjubkan sosok orang, sepertiku. Mereka yang jatuh menjadi sampah yang terlupakan oleh sejarah pandangan subyektif mata…&lt;br /&gt;Muakku, berkali-kali hujamkan ludah yang kian serak, untuk terus menengadahkan wajah yang kian membusuk karena sayatan luka, untuk sekedar berempati, sebelum daun menyentuh ke tanah.&lt;br /&gt; &lt;img height="214" alt="E:\rerechan\my sketch\DSC00844.jpg" src="file:///C:/DOCUME~1/ZANZTS~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" width="192" shapes="Picture_x0020_2" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruntuk:&lt;br /&gt;bagi jiwa yang tlah gugur, menyerah dalam keangkuhan manusia&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-4623283008469874659?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/4623283008469874659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=4623283008469874659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4623283008469874659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4623283008469874659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/autumn-leaves-rip.html' title='Autumn leaves R.I.P'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-1438736181913050276</id><published>2008-09-05T00:33:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T00:36:50.691-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='photo diri'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SMDhcynWX7I/AAAAAAAAAC8/9biEIWJM2yg/s1600-h/DSC00475.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242437850998661042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SMDhcynWX7I/AAAAAAAAAC8/9biEIWJM2yg/s320/DSC00475.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-1438736181913050276?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/1438736181913050276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=1438736181913050276' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1438736181913050276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1438736181913050276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/blog-post_9790.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SMDhcynWX7I/AAAAAAAAAC8/9biEIWJM2yg/s72-c/DSC00475.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-1642131195173192201</id><published>2008-09-05T00:29:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:57:12.560-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rekaaksara'/><title type='text'>Kontemplasi ala Re</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;“Tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan…”&lt;br /&gt;“pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan…”&lt;br /&gt;“…satu-satunya yang dapat kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu…”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Urung kulanjutkan membaca buku tentang filsafat. Beberapa paragraf saja membuatku lama berpikir. Pikirku berputar antara keheranan dan pemahaman yang sudah terlanjur kuterima bahwa filsafat itu menyesatkan, cara berpikir tak layak buat gapai keimanan haqiqi. Tapi sudahlah, biarlah info itu berhenti pada tataran pemahaman, aku hanya ingin jujur pada diriku, mencoba belajar memahami konteks dari nol. Biarlah kuraih kesadaran pikirku, begitulah sebuah azzam kulantunkan. Kemudian kubaca buku tersebut perlembar. Seberkas senyum mengembang, merona di wajahku. Bukan, terlalu cepat mengatakan aku dapat pencerahan. Semakin membacanya, sama ketika membahas kajian tentang keimanan, hanya saja buku ini berangkat dari sudut pandang yang berbeda. Lama pertanyaanku berkutat, tentang sebenarnya filsafat itu. Jujur lagi, aku tak begitu suka dengan jawaban instan orang yang langsung buyarkan asaku. “Sudahlah, ngapain belajar Filsafat dalam-dalam, kau akan pusing nantinya,” atau begini, “Filsafat itu akan menjerumuskanmu,”. Okey, tapi tolong jelaskan argumen kalian dulu, nihil. Kebanyakan mereka yang kutanya enggan berdiskusi panjang. Gak Asoy banget loe. Mengapa selalu berangkat naik bis tanpa mau naik bis lebih dulu, pinginnya langsung sampai ke tempat tujuan. Kembali pada kontemplasiku…&lt;br /&gt;Lama-lama aku menjadi tertarik untuk membacanya lebih jauh, sudah beberapa buku aku baca, meski terkadang tak selesai. Aku tertarik pada apa yang membuatnya menarik, pada apa hingga sebagian orang menistakannya, hanya itu, belum lebih. Untungnya, ada mata kuliah Filsafat yang kuambil, dan yang paling asoy dosen pengajarnya bukan tipe penghapal apalagi pendoktrin, tapi lebih pada pendongeng. Jangan harap, ketika kalian ikut kelasnya, langsung tahu Filsafat adalah…, lalu tokohnya antara lain…, pembagian Filsafat antara lain…, tidak, sama sekali tidak langsung itu. Karena menurutnya tak terlalu penting. Prinsipnya memahamkan dengan cara beda, tak langsung, tapi tepat sasaran. Filsafat yang pertama kali kukenal, lebih banyak menggunakan analogi dalam mencotohkan sesuatu, mnurutku disinilah kecermatan pikir diasah, karena biasanya analogi itu multi interpretasi.&lt;br /&gt;Para filsuf adalah seorang yang berpikir, memikirkan sesuatu yang dia ingin tahu, radikal dalam mendobrak kemapanan. Ataukah berarti Filsafat anti kemapanan? Kemapanan adalah sesuatu yang mapan, yang eksis hingga tak usah diusik lagi keeksistensiannya. Layaknya kutu anjing yang hidup di sela-sela bulu anjing, kutu tersebut ingin terbang, atau memanjat bulu-bulunya yang licin hingga dirinya mampu melihat si empunya bulu. Itulah Filsuf, berbeda dengan teman-temannya sesama kutu, lebih memilih mendekam dalam hangatnya bulu dan panas tubuh si anjing hingga enggan untuk bertindak seperti temannya, begitulah kira-kira. Para Filsuf sangat menyayangkan tindakan yang demikian, terlalu menerima dengan anggukan yang cepat, bahasa jawanya, Nrimo ing Pandum. Bagi mereka, para Filsuf, disitulah seharusnya yang membedakan manusia dengan makhluk lain, ada akal, Tentu akal sendiri adalah sesuatu yang tak langsung dapat diindra, itu yang membedakannya dari otak, akal yang dapat berfungsi dan ada pada manusia, tidak pada hewan. Namun, tidak semua manusia memiliki kesadaran pikir yang sama, tergantung kekritisan, rasa ingin tahunya, yang memacu akalnya bergerak aktif.&lt;br /&gt;Pikir alias akal. Wow, menarik. Tak semuanya memiliki kesadaran berpikir?yah, tak usah dijelaskan lagi, contohnya seperti analogi kutu diatas. Kesadaran pikir manusia terbelenggu oleh doktrin atau mungkin mitos yang terlanjur ia percaya, hingga sulit untuk sekedar kembali berfikir lagi tentang segala sesuatu yang mampu diindra, tentang hidupnya, siapa dirinya, alam semesta. Jikalau menurut para pecinta kemapanan itu, kebenaran telah berada di tangan mereka, maka itupun lebih banyak karena penerimaan terlebih dulu, tanpa usaha berpikir dari awal.&lt;br /&gt;Baiklah, Filsafat memang lahir karena rasa ingin tahu manusia, tidak hanya filsuf semua orang aku yakin jika mau kritis juga akan bersikap demikian, karena aku masih percaya pada agama yang kuanut, tak semua agama itu doktrinasi, tapi disini saya tak ingin bahas pembuktian dan lain sebaginya, bukan dalam bahasan kali ini, untuk sementara tak ada kata-kata agama disini, karena aku tak ingin menjadi penumpang bis tanpa naik bis. Keingintahuannyalah yang buat manusia berpikir, karena potensi yang ada dalam dirinya, Lalu darimana datangnya potensi ini ?tentu kita tak bicara tahyul, atau dengan jawaban “sudah takdir bung, mbak,jeng” atau lagi seperti jawaban penganut keabadian materialisme, “sesuatu itu ada dari materi, karena materi itu ada,”, kasihan sekali karena tentunya akan banyak orang yang tak percaya pada sesuatu yang buat tubuh ini hidup.&lt;br /&gt;Sebenarnya, mereka entah yang mengatakan diri mereka Filosof atau bukan, berangkat dari persoalan yang sama, pencarian hakikat diri dan kehidupan, sesuatu yang sangat berarti ketimbang persoalan hidup yang lain, karena semisal makan, tidur, ngeseks atau yang lainnya tergantung pada penentuan jawaban akan hal diatas. Bukankah manusia ingin hidupnya bermakna, tak seperti mayat hidup, hingga ada slogan, buat hidupmu lebih hidup. Hanya saja dalam perjalanan meraih kesadaran pikir tadi yang bikin arah dan jawaban yang berbeda atau dengan kata lain, sangat boleh jadi para manusia membuat cara berpikir sendiri untuk meraih kebenaran jawaban tersebut. Pada mulanya memang demikian, mencari hakikat kebenaran, hakikat kebenaran yang haqiqi, tapi lama-lama sebagian diantara mereka (meski sekarang sudah dijadikan patokan alias opini umum) mulai bertoleransi dan berkesimpulan bahwa tak ada kebenaran yang haqiqi, kebenaran mutlak, karena banyak filosof yang berbeda jawaban karena cara yang mereka gunakan memang menghendaki jawaban yang akan berbeda-beda pula. Semisal kasus darimana datangnya sebuah tanaman tumbuh. Ada yang menjawab dari tanah, karena pada waktu itu ia langsung mengamati tanaman muncul dari dalam tanah, ada lagi yang mengatakan tanaman tumbuh dari air, seperti pengamatan Thales(kata orang sih Filosof pertama) tentang segala sesuatu berasal dari air, karena selama perjalanannya ke Mesir, dia mengamati tanaman yang mulai tumbuh begitu banjir sungai Nil surut. Jawaban bisa berbeda meski semua berasal dari pengamatan. Aku pikir, mengamati saja semua orang bisa, tidak orok tidak orang tua. Tapi apa cukup hanya selesai pada pengamatan?. Memang pengamatan akan berhenti pada materi, sesuatu yang dapat diindra. Tapi hal itu kemudian akan bermasalah ketika disodorkan fakta yang nonreal? Fakta kok nonreal?Lho…bukankah dalam berpikir akan muncul beragam kemungkinan, boleh jadikan dunia ini tak terbatas, boleh jadikan tumbuhan itu tak tumbuh baik di tanah maupun diair, boleh boleh jadi kan ada yang namanya nyawa, spirit yang membuat tubuh ini hidup, boleh jadi juga ada kekuatan abstrak di luar jangkauan kita. Sampai disini, lama aku merenung, menyelami beragam pemikiran yang buatku makin absurd saja. Iya ya, semua bisa boleh jadi. Jawabanpun akhirnya boleh jadi, hingga memperkuat bahwa segala sesuatunya menjadi relatif, berarti juga boleh jadi, jawaban siapa kita sebenarnya berubah dari waktu ke waktu, tergantung zamannya, apakah kala klasik, modern atau postmodern?iyakan? lalu apa bedanya kita dengan kelinci percobaan?ya tidak ada bedanya, sampai disini, sama. Lalu jika kebenaran itu nisbi, berarti bisa saja aku menyimpulkan tidak ada kebenaran di dunia ini, semuanya abstrak, jadi hentikan tindakan konyol kalian mencari hakikat kebenaran, hakikat kebenaran tak dibutuhkan lagi di dunia manusia, silahkan berinterpretasi sendiri-sendiri asalkan sudah melalui proses berpikir. Seperti apa dan sedalam apa proses berpikir yang kalian lakukan terserah pada diri kalian, karena tak ada sesuatu yang haqiqi.&lt;br /&gt;Sampai disini, aku teringat dengan temanku kuliah yang memprotes nilai Filsafat mereka yang jelek, sementara mereka protes, aku banyak mendengar tanpa mau mengaku nilaiku A jika ditanya, aku hanya ingin tahu alasan mereka protes. “Bukankah kata beliau(dosen filasafat) tak ada kebenaran mutlak, keindahan mutlak, lalu mengapa harus ada ujian dan nilai?” Dan kami saling menjawab kenapa ya?aku sendiri juga tak tahu mengapa nilaiku A, apakah nilai begitu penting, jika segala ukurannya kian tak jelas, karena inilah, hingga kini aku tak begitu menghiraukan nilai A yang kusandang, boleh jadi aku dari total hanya 5 orang yang dapat A adalah terburuk dari mayoritas mahasiswa. Hanya sesuatu yang kerap menggelitikku adalah bagaimana si dosen sampai pada kesimpulannya? Bukan pada apa yang mereka pikirkan, tapi bagaimana mereka menyikapi apa yang mereka pikirkan hingga terbentuk beragam kesimpulan.&lt;br /&gt;Apakah memang sesuatu yang mutlak itu tak pernah ada?apakah memang tak ada kebenaran mutlak?tak ada ataukah ditiadakan?ditiadakan oleh pikiran manusia yang boleh jadi menurut kesimpulan ngawurku terbatas?&lt;br /&gt;Karena aku termasuk orang yang lumayan toleran, maka segala kemungkinan dari hal yang real sampai non realpun aku masukkan ke brankas otakku.Pernah suatu ketika mencapai titik kepuasan pikirku, beberapa waktu tak jenuh mempertanyakan sesuatu, tanpa menggubris pendapat orang atau literatur lain. Hanya saja, kemudian aku sadar terjerembab dalam jawaban khayalku. Kutanya Siapa Tuhan yang selalu dipuja, sosok yang paling digandrungi setiap masa?Lalu jawabanku sampai pada kesimpulan bahwa boleh jadi Tuhan memang ada, terbukti dengan adanya diriku, makku, adikku, si kucing, pohon, apa mungkin mereka menumbuhkan diri mereka sendiri, karena pernah kutanam tumbuhan di tanah tapi selalu mati, berarti tak benar juga kesimpulan yang menyatakan tanah menumbuhkan segala sesuatu. Jika memang benar tanah sumber kehidupan pastilah apapun yang kujatuhkan dan dengan cara apapun pastilah hidup, nyatanya? Lalu sosok Tuhan itu seperti apa? Kulihat tanganku, kemudian kakiku dan akhirnya semua tubuhku. Mungkinkah Tuhan itu wanita sepertiku?ataukah laki-laki?atau mungkin banci?mungkin saja, sehingga Tuhan memiliki tangan, kaki, rumah sama seperti kita, manusia. Begitulah, hingga aku kembali belum terpuaskan dengan sebuah pertanyaan ,“ lalu apa bedanya Tuhan dengan yang diciptakannya?bukankah Tuhan itu adalah agung ,maha lebih diatas segalanya?jika sama dengan yang diciptakannya berarti ia juga bersifat terbatas, jika manusia bisa mati, dan pastilah mati, maka boleh jadi Tuhan akan mati juga, lalu bagaimana otoritasnya sebagai Tuhan?” Ah. Bulshit. Aku bisa gila. Kontemplasi tanpa batasku ini mampu membawaku menjadi seorang ynag atheis.&lt;br /&gt;Okeilah. Manusia memang punya potensi berupa akal. Itu alamiah, manusia juga bisa tak berakal, boleh dikata itu juga fitroh, semisal pada kasus orang gila, ia tak kuasa menolak dirinya gila, tak berakal. Lalu siapa yang buat itu semua. Kadang segala sesuatu terjadi di luar dugaan kita bukan?, lalu siapa yang buat rekamatra hidup itu? bukankah akan banyak pertanyaan Siapa setelah Mengapa? Siapa akan kita peroleh dari jawaban Mengapa bukan? Mengapa bumi bisa berputar?, Mengapa para planet dapat berputar teratur pada orbitnya?Siapa pencipta Orbit?Apakah segala sesuatunya simsalabim?lalu siapa yang buat sim salabim itu?. Itulah fungsi akal kita. Sampai dsini semuanya akan berjalan lurus. Lalu akan berkelok ketika akal dibiarkan berkelana tanpa arah, karena keterbatasannya, seperti kasus diatas. Manusia akan abstrak menilai wujud Tuhan, sesuatu yang jauh di luar jangkauan akalnya, sampai disini pikirkanlah, semoga ku tak mendoktrin kalian. Jujurlah, bahwa memang ada keterbatasan terhadap segala sesuatu, dan ada sesuatu yang tak terbatas yang buat segala sesuatu yang terbatas itu ada. Entah kalian menyebut sesutu yang tak terbatas itu apa. Tuhankah?atau apa?yang pasti itu mutlak ada meski dzatnya tak langsung dapat kita indra karena keterbatasan tadi. Tapi bukankah sesuatu yang tak terbatas itu jika boleh kusebut Tuhan, tak egois menciptakan sebuah doktrinasi keimanan. Karena iman harus ada karena percaya. Bagaiman percaya adalah dari proses berpikir. Bagaimana berpikir karena ada komponen berpikir . Lalu akhirnya perkenankan daku memberitahu komponen itu, meskipun boleh jadi banyak yang sudah tahu.&lt;br /&gt;Setidaknya ada 4 komponen berpikir. Yang pertama ada otak (sebuah materi, hewan juga punya), yang kedua ada fakta(baik benda maupun peristiwa, sesuatu yang dapat diindra), lalu ada proses pengindraan dan yang terakhir, yang paling penting, adanya informasi sebelumnya, entah langsung terkait pada fakta atau sesuatu yang berhubungan dengannya .Mengapa penting?Taruhlah contoh seorang yang ingin mahir berbahasa China haruslah mempelajari buku panduan berbahasa China atau lewat orang yang mahir bahasa China. Seorang bayi tidak mungkin bisa belajar bahasa China atau hanya sekedar percaya sebuah batang dipegangnya adalah pensil , sebuah alat untuk menulis. Boleh jadi yang terjadi seperti keponakan saya yang masih balita, ia akan memakan pensil tersebut atau sekedar menendangnya dengan tangan, persis sama yang dilakukan kucingku. Mengapa itu terjadi karena bayi ataupun balita tidak memiliki informasi sebelumnya . Tapi bisa sajakan, karena otak mereka yang belum berfungsi sempurna? Baiklah. Taruhlah, seorang manusia dewasa dihadapkan pada tulisan jawa, Jika tak ada sebuah pembelajaran atau Informasi sebelumnya, meski berpikir sejebat apapun tak akan berhasil membacanya.&lt;br /&gt;Sehingga, akhirnya aku masih percaya hingga kini bahwa kebenaran mutlak itu ada, sama percayanya akan sesuatu yang Maha. Ini bukannya doktrinasi, aku terbukti sampai tujuan sesuai keinginanku, tentunya dengan syarat ketepatan penggunaan cara berpikir kita. Sudahlah, segera saja kalian berkontemplasi. Selamat berkontemplasi, temukan hakikat diri, melakukan petualangan pikiran menemukan siapa dibalik segala keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Re_ lagi belajar nulis&lt;br /&gt;1:52 am, 4 september 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-1642131195173192201?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/1642131195173192201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=1642131195173192201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1642131195173192201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1642131195173192201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/kontemplasi-ala-re_05.html' title='Kontemplasi ala Re'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-4158688939351512850</id><published>2008-09-05T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T00:26:46.187-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SMDfF-d6ulI/AAAAAAAAACk/34hC1aU9lR0/s1600-h/constructions_016.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242435260020079186" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SMDfF-d6ulI/AAAAAAAAACk/34hC1aU9lR0/s320/constructions_016.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-4158688939351512850?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/4158688939351512850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=4158688939351512850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4158688939351512850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4158688939351512850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/blog-post_05.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SMDfF-d6ulI/AAAAAAAAACk/34hC1aU9lR0/s72-c/constructions_016.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-4011544857861146068</id><published>2008-09-04T18:24:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:53:32.796-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Tanganku sudah bergemetar untuk menulis, namun otakku serasa berat untuk memuntahkan unek-unekku yang terpendam di kerak mampatnya pikiran. Aku bukanlah orang yang terlalu sadar untuk menuliskan segala kejadian, segala peristiwa yang selalu memacu adrenalinku untuk berontak, meski hanya sebuah berontak dalam kesunyian.&lt;br /&gt;Perkenalkan namaku Tegar, begitu namaku kerap dipanggil, tentunya orang awam akan langsung mengira aku berjenis kelamin laki-laki, namun sejatinya aku adalah perempuan tulen, nama lengkapku Tegarwati, hingga kini aku belum bisa mengerti mengapa orangtuaku menamai dengan nama yang menurutku begitu ambigu. “Supaya kau selalu tegar,”kata ibu, selalu engan jawaban sama, tidak kurang, tidak lebih, padahal bukan jawaban seperti itu yang kumaksud, tidak berhenti hanya sampai disitu, tapi lagi-lagi jawaban Ibu akan selalu sama. Aku sampai malu ketika banyak orang memanggil nama yang berkesan maskulin itu. Banyak teman-teman sekolahku yang sering meledekku, lalu seperti biasa aku akan pulang dalam keadaan menangis dan kemudian Ibu dan Bapak akan bergilir memberikan petuahnya. Namun, lambat laun aku tidak malu lagi dan semakin merasa bangga dengan nama “Tegar’’.&lt;br /&gt;“ibu..ibu, harusnya dari dulu aku tidak selalu mengeluh,harusnya aku berterima kasih pada Ibu,pada Bapak,”desahku lirih,tiba-tiba sosok orangtuaku menjelma nyata dalam imaji pikirku, bila sudah begini dada ini menjadi terasa sesak oleh deburan rasa yang berkompilasi, membentuk tatanan mozaik yang tak beraturan, hingga aku kesulitan untuk menata setiap rasa yang sulit kuterjemahkan.&lt;br /&gt;Bagiku Ibu adalah superwomen, bagaimana beliau mampu berkiprah dalam masyarakat hingga sangat disegani warga, membuatku selalu tersipu karena pujian orang kampung terhadap diriku gara-gara aku adalah anak Ibu, meski begitu beliau tak pernah melalaikan perannya sebagai Ibu, selalu hingga aku terlalu bingung untuk mengalirkan kelebihan aliran listrik kasih sayangnya. Perjuangannya melawan stroke yang terus menggerogoti tubuhnya selama hampir 2 tahun tepat beberapa hari ssetelah kematian Bapak, semakin mengukuhkannya sebagai Superwomen hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana Ibu akan bertanggung jawab atas kerinduan yang sangat dalam di relung hati ini, seperti kapal yang terombang-ambing di lautan luas, tanpa harapan untuk berlabuh, karena dermaga takkan lagi nampak, lalu bagaimana rindu ini secara nyata akan kulabuhkan, dan iblis dalam hatiku akan berteriak semangat mengutuk”Salahkan Tuhan, Tuhan never bless us..”… lalu sisi hati lainnya akan cepat menyela”Gila!!!.. terlalu picik untuk menyimpulkan dengan kalimat kotor itu, aku tidak akan atheis karena masalah ini, bukankah Tuhan akan memberi cobaan bagi hambaNya yang beriman, toh seharusnya yakin bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambaNya.&lt;br /&gt;Brakk!!! Sudah cukup! Urung kulanjutkan perdebatan batin ini. Tanpa sengaja tanganku telah menggebrak meja. Sesaat aku menjadi point of interest, semua menatap bengis padaku, tatapan yang mampu merobek mental sisi sutra hati wanita, Wajar saja karena aku sedang berada di tempat yang seharunya hening, tepatnya di sebuah ruangan perpustakaan pusat Kampus. Tempat yang kunobatkan senagai tempat nongkrong favoritku. Entahlah disini, aku bisa jauh berkontemplasi, membuang jauh kepenatan, hingga terkadang bisa jadi aku hanya bengong, mengamati suasana disekitarku duduk tanpa membaca buku satupun, heran…&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sudah hampi 4 jam aku disini, pantatku serasa terbakar, aus bergesek dengan kursi kayu tua perpustakaan ini. Namun sampai sekarang ide tulisan masih enggan muncul.&lt;br /&gt;“Tegar..Tegarwati, mengapa sih nulis saja susahnya minta ampun”racauku gusar. Sebentar lagi limit waktu akan berakhir, yah…aku terbiasa memberi batas waktu untuk memunculkan dan menentukan ide sebelum menulis.&lt;br /&gt;Mataku sepat sedari tadi menekuri kertas putih yang sudah penh dengan coretan abstrak nyaris tanpa tulisan satu hrufpun. Kualihkan pandangan keluar jendela, langit mulai menampilkan warna lembayung senjanya bertabur siluet kawanan awan, kualihkan pandangan ke dalam ruangan, seperti biasa hening, lengang, hanya satu,dua orang yang singgah ke ruangan ini, suasana yang mengingatkanku pada kuburan, mungkin itu menjadi salah satu faktor aku betah singgah berlama-lama disin, sering mengingatkanku pada yang namanya ajal, dengan begitu semangat belajarku akan spontan meninggi, karena sadar limit hidupku di dunia.&lt;br /&gt;“permisi, saudari Tegarwati? Ucap pemuda jangkung di depanku&lt;br /&gt;“Maaf?”tanyaku yang masih terkaget dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba, kebiasaan lagi bagiku. Pemuda itu tersenyum santun, senyum yang bisa dengan mudah membuat simpatik orang.&lt;br /&gt;“Maaf, apakah benar saudari bernama Tegarwati?” lelaki itu mengulang pertanyaannya, mungkin dia paham kalau akun masih belum mengerti dengan maksud peertanyaannya.&lt;br /&gt;“ya benar, anda siapa ya?” aku balik bertanya selidik, kutamati lagi sosoknya, dandanannya rapi dengan pakaian yang casual tapi elegan, wajahnya oval,dengan jambang tipis di dagunya. Sepertinya aku mengenal pemuda ini dan senyum itu juga tidak asing bagiku, tapi kapan dan dimana, aku ragu untuk memastikan.&lt;br /&gt;“aku Ryan, Wati..kau lupa ya, kita sekelas waktu SMP.”ucapnya antusias. Sejenak aku tertegun, Ryan…Ryan, aku terus mengulang kata itu berusaha mengaduk brankas otakku, apakah…&lt;br /&gt;“ooo ya ya, apakah kau Muhammad Ryan?”,&lt;br /&gt;“yup great! Akhirnya kau ingat, aku senang kau tidak lupa seratus persen Wati.” Ucapnya girang, dengan senyum yang kian mengembang, semakin menampakkan deretan giginya yang putih.&lt;br /&gt;Sekilas aku tersipu, dan semakin malu jika aku sadar siapa yang berdiri dihadapanku sekarang. Bagaimana aku bisa melupakan sosok Muhammad Ryan, dia dulu teman satu gengku waktu SMP, satu-satunya teman laki-laki yang memanggilku Wati, sosok yang periang dan selalu tersenyum dalam keadaan apapun, tapi aku sedikit menyadari hal baru pada dirinya, penampilannya yang kini jauh berbeda, bukan lagi Ryan dengan tubuh tirus kurunya, hingga julukan kerangka berjalanpun disandangnya.. Ah segala sesuatunya bisa berubah Tegar, ucapku dalam hati.&lt;br /&gt;“halo Wati, kok bengong?” ucapnya membuatku tersentak kaget,&lt;br /&gt;“oh, maaf..aku bengong lama ya?” ucapku salah tingkah.&lt;br /&gt;Kali ini aku gagal lagi untuk tidak menampakkan ketersipuanku, Ryan pastilah hafal tingkahku yang satu ini, pipiku akan merona merah jika aku tersipu dan marah.Seperti dulu, pastilah puas melihat tingkahku ini. Tapi ternyata tidak, bahkan ia sama sekali tak menatapku, pandangan wajahnya mengarah ke depan tapi sorot matanya tak tertuju padaku.&lt;br /&gt;“Kau masih sama ya Wati, meski semua mengalami proses, aku harap kebiasaanmu yang unik tak banyak terhapus” ucapnya menekankan,&lt;br /&gt;“Eh, ternyata kau kuliah disini juga ya, sudah lama ya gak ketemu”ucapku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, masih terheran dengan sosok Ryan yang begitu baru menurutku, gaya bicaranya mengingatkanku pada teman-teman laki-laki di Sie Kerohanian Islam.&lt;br /&gt;‘’iya, hampir 5 tahun, kau susah sekali dihubungi, nomor hpmu ganti ya?’’&lt;br /&gt;‘’Oh maf, hpku hilang saat pertama masuk SMA, aku kehilangan nomor kontak semua teman-teman, kau tahu sendirikan, daya ingatku sangat payah apalagi aku pindah keluar kota’’ ucapku panjang lebar&lt;br /&gt;‘’ooo, begitu”jawabnya singkat.&lt;br /&gt;Siang itu menjadi hari yang anomali buatku , aku tak menyangka akan bertemu teman lamaku di tempat ini, lama kami membincangkan kisah diri satu sama lain.Jikalau terdapat taman dalam hati ini, pastilah hatiku sudah penuh dengan beragam bunga. Meskipun pertemuan kami singkat, tapi sungguh berkesan, ia memastikan akan bertemu lagi.’’Mungkin kau akan sering kuhubungi, kita pasti akan bertemu lagi, aku tidak ingin kehilangan sahabat lama lagi.’’teriaknya sambil lalu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Everyday is sameday, setiap hari adalah sama bagiku,rutinitas yang membuatku semakin muak, pagi kuliah, lalu tugas menggambar yang akhirnya memaksa mata dan tanganku begadang setiap malam, tapi anehnya aku tetap setia menjalaninya,’’Bukankah ini adalah konsekuensi sebagai mahasiswa…’’bisik hati kecilku memprotes mengingatkan,’’Yah tentu saja..”desahku lirih. Kuliah dan masuk jurusan arsitektur adalah impianku sejak SMP, itu artinya keputusan ini sudah kurencanakan sejak lama, bukankah segala sesuatu ada konsekuensinya, ada h8ukum kausalitas terhadap segala sesuatu,’’Tenang Tegar, masalah ada untuk diselesaikan, dan masalah itu akan selesai jika kau tidak lagi menjadikannya masalah. Kau haruslah tegar.’’ucap batinku meyakinkan.&lt;br /&gt;Pagi ini kulangkahkan kakiku mantap meski dengan sedikit paksaan pada awalnya. Sengaja aku berangkat lebih awal, agar lebih bisa menikmati setiap langkah kaki yang kudaratkan, meresapi tanjakan yang berirama, menghirup dengan puas hawa yang masih suci polusi. Lalu perjalananpun memasuki sebuah gang kecil berbentuk lorong panjang, lorong yang menghubungkan jalan raya kampung dengan kampus, jika dinilai lorong ini tak terhitung jasanya, dengan adanya lorong ini kami, para mahasiswa yang kos di daerah samping kampus tak perlu berjalan berkilo-kilo untuk sampai ke kampus.&lt;br /&gt;Kutamati dinding lorong ini, beragam corak gravity hampir penuh menghiasi dinding yang catnya tak lagi terawat, seperti biasa aku akan berhenti sejenak, meluangkan sedikit waktu menikmati setiap keunikannya, mencoba memahami spirit dari apa yang ingin disampaikan .&lt;br /&gt;‘’Yaah…belum ada yang baru rupanya’’,&lt;br /&gt;‘’eh..’’ucapku kaget, ternyata ada orang dibelakangku, suara laki-laki. Kutolehkan badan, laki-laki itu mematung, matanya begitu serius mengamati gravity dihadapannya, sampai begitu serius hingga tak menghiraukan aku yang mulai menamatinya.&lt;br /&gt;‘’Ryan…’’ucapku menyapa heran, heran entah mengapa, mungkin untuk kedua kalinya Tuhan mempertemukan kami di sudut labirein yang sama, tanpa terduga. Beghitulah Sang Maha, atas kekuasaanNya labirin akan menjelma menjadi jalan yang lurus. Laki-laki yang kusapa Ryan itu menoleh kearahku dengan ekspresi kaget, lalu ekspresi mukanya berubah dengan cepat, seperti biasanya ia akan langsung mengulum senyum, perangainya yang cepat menguasai keadaan masih belum berubah.&lt;br /&gt;“oh Wati..kau lewat sini juga rupanya’’ucapnya sedikit heran&lt;br /&gt;‘’iya, aku ke kampus jalan kaki’’,&lt;br /&gt;“Kosmu dekat sini ya?’’tanyanya kemudian,&lt;br /&gt;‘’iya, lumayan sih kurang lebih ½ kilo dari sini, la kamu?’’&lt;br /&gt;‘’Aku kontrak di belakang kampus bareng temen kampus, kebetulan kemarin malem aku nginep di rumah temen dekat sini, biasalah tugas kuliah,’’ ucapnya menjelaskan&lt;br /&gt;Suasana sejenak menjadi hening, masing-masing dari kami tak lagi melontarkan pertanyaan, aku tidak terlalu lihai berbasa-basi, sementara Ryan yang kukenal hanya kan bertanya jika dibutuhkan saja. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi kami, sering dulu juga seperti ini, hanya saja kondisi sekarang yang berbeda, tidak sekaku ini, maklum kami lama tidak bertemu.&lt;br /&gt;‘’Kamu suka Gravity Wati?’’ tanyanya memecah hening.&lt;br /&gt;Sebatas penikmat, aku kurang mahir di seni ini.’’&lt;br /&gt;‘’ooo’’jawabnya singkat, sembari kembali menekuri garvity di depannya.&lt;br /&gt;Suasana sejenak kembali hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Ini yang kusuka dari seni’’ucapnya tiba-tiba.&lt;br /&gt;Yang kusuka dari seni? Tanyaku dalam hati,kutatap sosoknya tak mengerti.&lt;br /&gt;‘’Karya seni seperti lukisan, gravity atau yang lain, memberi kesempatan pada penontonnya untuk menginterpretasikan maksud yang ingin disampaikan pembuatnya.’’ucapnya kemudian.&lt;br /&gt;“iya, justru karena itulah seni bernilai abstrak, membuatnya menjadi seperti sosok yang tidak sombong dan terkesan kmpromistis…”ucapku, ikut mengomentari pembahasan Ryan tentang seni.&lt;br /&gt;Suasana kembali hening. Ada rasa kecewa yang sekilas terbesit di hati, karena aku pikir Ryan akan langsung mengomentari ucapanku. Kulihat lagi sosoknya yang tak bergeming hanya anggukan kepala, entah apa maknanya.&lt;br /&gt;“Kau aktif di BEM?’’tanyanya tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Aku?”tanyaku ragu,&lt;br /&gt;“Ya iyalah, manusia yang disinikan cuma kau dan aku, masak aku tanya sama rumput.”ucapnya sambil tertawa, memecah kebekuan yang kurasakan. Seperti tersihir, akupun ikut tertawa, dari dulu aku suka tawa Ryan, bukan bermaksud apa-apa, tapi tawanya begitu jujur, hingga orangpun akan tersihir tertawa bersamanya.&lt;br /&gt;“Enggak, tugas gambar sudah sangat menyita waktu, lagian aku sudah ikut HMJ dan lembaga pers kampus.”&lt;br /&gt;“Wah keren, kalau aku dari awal menjadi mahasiswa aktif di Sie Kerohanian Islam kampus,”ucapnya menjelaskan&lt;br /&gt;“ooo, di SKI, hampir separuh teman sekelasku ikutan aktif disana.”&lt;br /&gt;“Kau tidak Wati, Why?”tanyanya heran&lt;br /&gt;“ehm, karena…”urung kulanjutkan alasanku, mengapa segala sesuatu harus beralasan,desahku dalam hati.&lt;br /&gt;“apa karena kau tidak berkerudung atau merasa belum sempurna, itu tidaklah menjadi masalah Wati, kau percayakan kalau segala sesuatu berproses, tidak harus terlebih dulu sempurna untuk masuk SKI, justru karena ketidaksempurnaan itulah kita bersama-sama belajar.”&lt;br /&gt;“Iya Ryan, aku paham itu. Proses ada pada diri kita masing-masing, hanya saja aku tidak terlalu suka terikat dengan hal seperti itu…”ucapku menggantung,&lt;br /&gt;“Maksudmu terikat dengan apa?”tanyanya selidik,&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak, mencoba meramu kata sehingga berharap tidak ada pertanyaan lagi setelah penjelasanku ini. Tapi haruskah aku jujur, menyatakan yang sebenarnya yang mungkin pula menambah panjang daftar pembicaraan ini.&lt;br /&gt;“Aku ingin memulai pencarian dari nol, pencarian jati diri, pemahamanku tentang alam semesta dan kehidupan ini, aku hanya ingin memiliki kesadaran berpikirku sendiri Ryan, kesadaran yang hanya bisa terwujud jika dogma itu nihil.”ucapku menjelaskan, mencontek pemaparan dosen filsafatku, meski aku sendiri belum terlalu mengerti yang kuucapkan barusan.&lt;br /&gt;“Dogma? Apa kau pikir Islam adalah ajaran dogmatis?”&lt;br /&gt;Kali ini aku seperti terdakwa di pengadilan, pertanyaannya bertubi-tubi menghujam kepalaku.&lt;br /&gt;“Baiklah Wati, mungkin aku tidak terlampau mengerti, tapi mungkin kau butuh proses untuk menjawab itu semua.”ucapnya sembari melirik hpnya.&lt;br /&gt;“Oh ya Wati, aku pamit dulu ya, harus buruan ke kampus nih, semoga sukses dengan pencariannya, Salam” ucapnya sambil lalu meninggalkan diriku mematung di lorong ini.&lt;br /&gt;“Wassalam,”ucapku lirih, menatap sosoknya yang berangsur menghilang dari pandangan.&lt;br /&gt;“Astaga” aku tersentak kaget, sesaat setelah kesadaranku berangsur pulih 100%, sengaja kulihat jam di hpku, waktu berjalan melenggang dengan santainya, sementara itu, kaki kecilku ringkih berjingkatan, berlari keluar dari lorong panjang ini, karena 5 menit lagi kuliah pertama dimulai.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kurebahkan dengan kasar punggung ke sandaran kursi studio yang empuk, mencoba memejamkan mata barang sejenak, setelah hampir 4 jam menekuri gambar yang setengah selesai didepanku, masih ada waktu 4 jam lagi untuk segera menyelesaikan desain gambar ini. Kuhirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, merasai gelitikan dinginnya buliran keringat yang membasahi tubuh.&lt;br /&gt;Sudah 2 tahun aku kuliah di jurusan arsitektur ini dan selama iitu pula aku mencoba bersahabat dengan mata kuliah yang banyak membuat diriku insomnia, hal yang sama sekali tak kuduga sejak dulu, bersahabat dengan suasana studio yang pengap dan panas karena salah desain. Berakali-kali aku melaporkan keadaan studio gambar dan penghawaannya yang mirip efek rumah kaca,dan berkali-kali pula pihak dekanat juga menolak rearrange ruang dengan alasan belum ada dana.&lt;br /&gt;Belum ada pendanaan?tanyaku sinis, Ruang studio adalah tempat yang sangat urgent bagi mahasiswa arsitektur, karena mayoritas kegiatan gambar-menggambar kami lakukan disini,lalu bagaimana kami bisa maksimal bekerja dengan kualitas ruang dan peralatannya yang serba minimalis, jeritku dalam hati, selalu begitu, jeritan yang berontak dalam kesunyian, karena lidahku begitu kelu ketika beradu argumen dengan pihak dekanat.&lt;br /&gt;Aku beringsut bangun, menegakkan kembali badanku,kurentangkan tangan keatas sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan lagi. Letih ini sudah hampir berhasil menguasai tubuhku, otakku bekerja keras melawan kondisi yang tak seharusnya datang. Ruangan mulai tampak lengang, satu persatu teman-teman meninggalkan ruangan, tinggal aku dan segelintir temanku, kalau sudah begini, pikiran harus terus fokus meski sejujurnya jantungku berdegup tak karuan karena masih ada pekerjaan desain yang urung juga kelar.&lt;br /&gt;Kubuka buku agenda kecilku, satu-persatu lembaran kubuka,sederet agenda mulai dari rapat, menghadiri seminar, kunjungan ke pameran, dan seabrek kegiatan lainnya. Senyumkupun tersimpul bangga, yah setidaknya aku punya cukup banyak agenda hidup yang lain selain jadi kuli gambar.sorak batinku gembira. Tidak sedikit mahasiswa yang menggadaikan kegiatan sosial mereka untuk segera meraih gelar sarjana. Hingga kini aku masih percaya bisa meraih keduanya, meskipun urun tenaga ekstra.&lt;br /&gt;“Gar, aku duluan ya, dikau belum kelar juga?”ucap Saras, temanku.&lt;br /&gt;“Wah belum kelar nih, tinggal dikit lagi, duluan saja.”ucapku sambil tersenyum, terlihat dipaksakan memang. Bagaimana lagi, karena itu berarti sekarang tinggal 4 orang di studio ini, suasana juga semakin sepi, menambah kencang degup jantungku. Ya tuhan tolong bantu aku mempercepat pekerjaan ini.Cuih, jika dalam kondisi terdesak minta tolong, kau ingat pada Allah Tegar, protes hati kecilku. Yah pada siapa lagi, Presiden atheispun ketika benar-benar dalam keadaan terdesak, dalam keadaan zero mind pun akan spontan menyebut Tuhan. Itu alamiah bukan?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Akhirnya selesai juga,”ucapku samil neregangkan tangan keatas. Ada kepuasan tersendiri setelah berhasil menyelesaikan karya sendiri, hingga pegal dan capai menjadi tak terasa. Perkara besok karyaku dibantai dosen adalah urusan belakangan. Aku akan memuaskan diri untuk menikmati karya-karyaku. Memang, kondisinya akan paradoks jika sudah berurusan dengan pandangan dosen.Kebanggan dan kepuasan awal bisa berubah 180 derajat mkenjadi kekecewaan dan rasa gagal akhirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;em&gt;Bersambung…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-4011544857861146068?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/4011544857861146068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=4011544857861146068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4011544857861146068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4011544857861146068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/tanganku-sudah-bergemetar-untuk-menulis.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-8513987709160179471</id><published>2008-09-04T18:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:55:25.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>REKAMATRA</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Sebuah ruangan berkonsep Open Plan, berisi banyak ruangan yang tersekat menggunakan Whiteboard. Jam dinding menunjukkan waktu dini hari, waktu pelepasan penat para manusia, waktu para roh pergi mengembara menuju Peniupnya, hanya saja kali ini adalah anomali bagi 2 karyawan yang mulai lembur di blok sudut ruangan. Gemerutuk tuts keyboard mereka berkompilasi apik dengan detakan jam dinding,menciptakan konser malam yang eksotis, menggema merajai malam.&lt;br /&gt;Sementara lagu Homenya Michael Buble terdengar samar dari sebuah ruangan masif diujung ruang kantor, mengalun menciptakan konser tunggalnya. Terlihat didalamnya,seorang wanita muda, berjalan menuju double glass fasad ruangan, menyibakkan tirai yang menutupinya, hingga tampak jelaslah pemandangan luar, beragam bangunan menjulang bak tumbuhan tinggi yang berlomba menggapai Matahari. Lama menekuri pemandangan di depannya,sang wanita mendongakkan kepalanya,hingarnya cahaya kota membuatnya dan mungkin seluruh penduduk di kota ini tak kuasa menikmati gemerlapnya cahaya bintang di malam hari.&lt;br /&gt;“benar-benar kota yang angkuh.” Ucapnya dingin sambil menutup kembali tirai yang belum lama ia sibakkan.&lt;br /&gt;Si wanita berjalan gontai, menuju meja kerjanya. Tubuhnya menghempas kasar pada sebuah kursi putar di sebalik meja. Wanita itu mencoba memejamkan mata yang kian terasa panas, setelah hampir 15 jam dipaksanya untuk bekerja, baginya keletihan fisik hanya ganjalan sesaat ,resiko yang ia sadari betul. Bagaimanapun ia harus profesional, haruslah menjadi wanita karir yang sukses, terlebih didepan para jajaran yang mayoritas adalah laki-laki. Perlahan,ia bangkit dari sandaran, meraih plat nama di ujung mejanya.&lt;br /&gt;“Intan setia, wakil direktur,”ejanya angkuh.&lt;br /&gt;Ia pandangi seluruh detail ruangan. Ruangan para petinggi, klas VIP, di dalamnya seperangakat sofa empuk bertengger di sudut kanan ruangan, lalu perabot modern yang ia desain ulang, dipadu dengan langgam etnik Jawa, sesuai seleranya, Warna dinding coklat susu, sengaja ia padukan dengan furniture, menciptakan harmoni rasa, keselarasan tampilan. Benar-benar ruangan yang berwibawa ditambah predikat wakil dirut yang disandangnya, membuatnya menjadi sorotan utama di perusahaan ini. Seorang wanita dalam usia 30 tahun sudah berhasil memegang jabatan ini, sungguh prestasi yang membanggakan baginya. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya, hingga nampak jelas lesung pipitnya, membuat wajahnya yang ayu menjadi tambah ayu. Sebuah senyuman yang hanya ia sendiri tahu maknanya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba pandangannya beradu dengan sebuah foto yang terbingkai apik di sudut mejanya, bingkai mungil yang tersembunyi disamping kertas kerjanya yang menggunung. Ia menatapnya lama, tangannya meraih bingkai foto dan mengusapnya berulang seolah berusaha membersihkannya dari debu yang menempel kuat. Matanya mulai berkaca-kaca, menciptakan riak gelombang yang enggan tumpah, entahlah, dirinya sungguh enggan untuk kembali menangis, menangisi sebuah lini hidupnya yang buram, tak seindah perjalanan karirnya yang melangit. Dahinya berkerut, senyuman yang tadinya merekah tiba-tiba lenyap tanpa jejak, menampakkkan rona yang sama sekali baru, gurat kesedihan kian nampak di wajahnya.Batinnya berkecamuk, ketaksingkronan akal dan suara hati dalam dirinya kembali muncul. Sebuah keadaan yang hingga kini berkali-kali ia cari penangkalnya, dan berkali-kali juga ia gagal. Melihat foto ini, mengingatkannya pada babak sakral hidupnya yang di ujung tanduk. Tangannya masih saja meraba kaca bingkai, terpampang disana foto suami istri dengan seorang bayi dalam dekapan Ibunya, mereka semua tertawa bahagia, terlebih si balita dengan tawanya yang menggemaskan ditambah lesung pipit menambah keelokan diwajah imutnya, sebuah tawa yang nampak lepas tanpa dosa. Namun itu momen 6 tahun silam, saat riak gelombang belum kuat menggoncang bahtera, saat nahkoda kapal dan awaknya masih saling percaya dan mengerti.&lt;br /&gt;“Farah, sekarang kamu pastilah sudah besar, bunda kangen, Nak” ucapnya lirih,&lt;br /&gt;Hah, kangen, bukankah kau yang memilih jalan ini Intan, apa kau amnesia, kau sendiri yang memutuskan mengakhiri ikatan sakral yang begitu menjerat sisi kebebasanmu. Bukankah kau dari awal menjalaninya karena terpaksa…suara batinnya menggema.. tak terasa buliran air mata mengucur deras membasahi pipinya.&lt;br /&gt;“iya..iya kau betul, memang aku yang memutuskan semua ini, tapi …” ucapnya getir. Urung ia lanjutkan kata-katanya, terdengar suara pintu diketuk. Cepat-cepat ia benarkan posisi duduknya sambil ia hapus air mata yang menempel pekat, bersatu dengan sisa make upnya. Pastilah itu karyawan yang menyerahkan pekerjaan lemburnya, lalu ijin pulang. Ia tak mau, karyawannya melihat keadaannya saat ini.&lt;br /&gt;“Masuk,”ucapnya dengan posisi duduk membelakangi meja.&lt;br /&gt;Terdengar pintu berderit, sepasang laki-laki berjalan perlahan mendekati meja si wanita, yang tak lain atasan mereka.&lt;br /&gt;“Bu Intan, kami sudah selesai, ini pekerjannya,” ucap salah seorang diantara mereka.&lt;br /&gt;“yah, taruh saja diatas meja, kalian boleh pulang,”ucapnya sampil melayangkan tangan, kode agar mereka segera beranjak pergi. Seperti pasukan, mereka bergerak bersama, patuh ikut aba-aba pimpinan.&lt;br /&gt;“dasar,tentu saja kami akan pulang, lembur inikan maumu, memang kami workaholic apa,” seorang dari mereka bergumam lirih&lt;br /&gt;“tunggu,” suara Intan menggema, menghentikan tapak kaki mereka, yang mulai melangkah pergi.&lt;br /&gt;Bagai tersengat listrik, mereka berhenti, berdiri kaku, dengan suara gigi yang bergemerutuk, tubuh mereka berguncang, bulu kuduk mereka berdiri. Batin mereka berkecamuk, menduga apakah atasan mereka mendengar gumaman tadi. Kali ini tampang mereka persis maling ayam yang ketangkap warga, siap untuk disidang massal.&lt;br /&gt;“Oiya, salam buat keluarga di rumah,” ucap Intan ramah.&lt;br /&gt;“Iya Bu, terima kasih,”ucap mereka serentak, ada perasaan lega tersembul, lalu mereka terus berjalan ke luar ruangan, sambil membawa segudang perasaan aneh tentang atasannya. Meraka pikir sudah sangat mengenali atasannya, tapi ternyata tidak, wanita itu memiliki beragam teka-teki yang sulit ditebak.&lt;br /&gt;“Wanita aneh,”gumam seorang dari mereka sambil menggelengkan kepalanya heran.&lt;br /&gt;Intan, sang direktur masih saja menekuri foto didepannya, foto yang selalu menemaninya menghabiskan hari di kantor ini. Sejak beberapa tahun terakhir setelah babak kelam kehidupannya dimulai, dirinya sering menghabiskan waktu seharian di ruang ini, seperti orang yang homeless, tunawisma. Lebih baik baginya menghabiskan waktu untuk kerja di kantor ini, daripada pulang ke rumah yang tidak menyiratkan kehangatan sama sekali. Rumah megah itu kini kosong tak berpenghuni, sejak mereka, dirinya dan suaminya memutuskan pisah rumah 6 tahun lalu, tepat 6 bulan sejak kelahiran anak pertamanya. Ia memutuskan tetap tinggal di rumah megah itu, sementara dirinya merelakan suaminya pergi dan membawa serta anak mereka. Intan berjalan gontai menuju sofa, merebahkan tubuhnya yang sudah tak berasa letih, karena bebalnya. Lemat-lemat pandangannya mengabur menjadi abu-abu, dan kemudian kegelapan menyelimuti pandangannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Prang.suara piring yang dibanting, mencipta gema di sebuah ruangan besar. Sebuah rumah megah di pusat kota. Piring itu melayang, berjatuhan mengalunkan irama yang mengiris jiwa. Berkali-kali terdengar teriakan wanita dan laki-laki yang beradu mulut. Si wanita histeris, si laki-laki mengeluarkan suara bassnya dengan kuat. Perpecahan yang kerap terjadi. Untunglah rumah itu terletak di kota, dengan kekerabatan penduduknya yang minim, beruntung rumah itu tidak terletak di desa. Pastilah setiap hari, tidak siang, tidak malam, menjadi tontonan warga desa.&lt;br /&gt;“Aku sudah jenuh padamu mas, kau egois,selalu mengekang keinginanku, selalu kau kritik apa yang kulakukan,” ucap si wanita berteriak.&lt;br /&gt;“keinginan apa heh, apa kebebasanmu yang keblabasan. Ingat tan, kita sudah menikah, ada Farah yang butuh perhatianmu,” ucap si laki-laki tak kalah keras.&lt;br /&gt;“oo, jadi mas menyalahkan aku, sementara mas kerja seharian dan aku di rumah ngurus Farah. Aku kerja juga buat anak kita, harusnya mas juga pengertian dong, gimana sih,”&lt;br /&gt;“ Kau tahu hidup kita tak kekurangan materi, ah…sudahlah aku malas berdebat denganmu, atau mungkin kau menyesal melahirkannya, menghambat karirmu, iya?!” ucap si laki-laki lagi sambil menudingkan tangan ke arah wanita yang berdiri di depannya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba suasana menjadi sunyi, masing-masing dari mereka diam, tak bicara, saling bersingkuran. Ada panas yang menggelegak dalam hati si wanita, hingga ia tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan laki-laki yang tak lain adalah suaminya. Bagaimana ia harus menjawab, meski semuanya tak sepenuhnya benar, tapi memang begitu adanya. Dulu ia pikir pernikahan bisa menentramkan jiwa, lama-lama jiwa kefeminisannya berontak mencari celah bebas dari perubahan rutinitas yang disandangnya, seorang wanita muda dengan karir yang menanjak, harus bermetamorfosis menjadi Ibu rumah tangga seperti yang diidamkan suaminya. Jujur, egonya terlalu besar untuk ikhlas menerima, meski dengan hadirnya Farah dalam kehidupan mereka. Mengapa Farah harus jadi hambatan?Benarkah ia seorang Ibu dan istri yang kejam?&lt;br /&gt;Akhirnya pertengkaran itu selesai seperti biasa, tanpa solusi, menyisakan kebungkaman yang menyakitkan hati kedua belah pihak.Si wanita berjalan gontai menuju kamar kerjanya. Setumpuk pertanyaan memenuhi brankas otaknya, Lalu bagaimana sebenarnya berperan menjadi seorang Istri dan Ibu yang baik?bukankah apa yang kulakukan sudah benar, aku melakukan apa yang menjadi perjuanganku hingga kini, sebagai pejuang feminis sejati. Harusnya ini berjalan layaknya penyelesaian seperti yang kerap ia baca di buku tentang peran sejati wanita. Diraihnya buku di rak almari, sebuah buku berjudul ‘ Aktifitas Feminis sejati’, seperti kerasukan setan, ia lempar kasar buku tersebut ke lantai, ia comot lagi sebuah buku berjudul ‘Perjuangan Kesetaraan Jender, Kebahagiaan Sejati Seorang Wanita’, tangannya mengusap berkali-kali buku yang dipegangnya dan membanting kasar ke lantai. Hingga akhirnya Ia robohkan tatanan buku di depannya yang tersusun rapi. Wanita itu mengacak rambutnya, menjambaki tak beraturan. Sementara ,samar terdengar deru mobil dari luar, deru mobil yang ia kenal betul, suara mobil suaminya. Bergegas ia menghampiri jendela kamar, terlihat suaminya mengepak barang di begasi mobil, dengan menggendong seorang anak. Sadar akan apa yang dilihatnya, ia mengambil langkah seribu, tak peduli apa yang dihadapannya ia terjang, hingga tersungkur berkali-kali karena tak menghiraukan pile lantai.Namun terlambat baginya, mobil sudah keluar dari pagar rumahnya. Langkahnya mendadak berhenti, tercekat di pintu rumah sambil terus memandang mobil yang mulai hilang dari pandangan. Ia tahu, mengejarnya adalah suatu hal yang utopis. Ia sadar, mulai detik ini ia akan kehilangan kedua jantung hatinya, untuk pertama kalinya menjalani Ramadhan sendirian, hanya dirinya bersama rumah sombong ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Suara deru mobil masih terngiang di telinganya, kali ini suaranya bergemuruh, ramai membuat bising telinganya. Mata Intan terbuka pelan, ia segera bangkit dari tidurnya, menerawang kesekeliling ruangan, ternyata itu semua mimpi. Ia berjalan menghampiri jendela yang tak tertutupi tirai. Matahari sudah mulai meninggi, sementara deru mobil kian membahana membanjiri kota yang sarat polusi, sepertinya para manusia sudah tak peduli dengan keadaan lingkungan yang kian sekarat. Tentunya mobil itu makin membanjiri kota, terlebih bulan ini bulan puasa, banyak yang tidak mau berpanas-panas ria atau bercapai-capai ria pergi dengan berjalan kaki.Bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, bulan segala ampunan, membasuh jiwa-jiwa manusia yang kotor, kajian yang rutin ia dapatkan di pengajian kantor. Sudah hampir 6 kali ia lewatkan bulan ini sendirian, tanpa keluarga yang utuh. Sungguh ironis memang, di KTPnya jelas tertera statusnya yang tak lagi lajang. Yah, ini memang hukuman bagi dirinya, terlambat mengerti, memahami makna perannya sebagai istri dan Ibu, kesadaran yang muncul selalu ia lindas dengan keegoan diri akan pemahamanharkat mmartabat diri yang keliru. Kesadaran yang kini telah pulih, memperjelas sesuatu yang abu-abu menjadi putih kembali, tak bisa mengembalikan saat-saat itu, saat 6 tahun yang lalu. Intan berjalan menuju cermin besar yang tertempel di dinding, membenahi kerudung dan pakaian gamisnya yang sedikit berantakan. Dua tahun yang lalu ia putuskan mengakhiri perjuangannya yang keliru, jauh menyimpang dari jalan kebenaran, meraih kebenaran lain yang menjanjikan kebahagiaan haqiqi. Meski berproses tertatih, tapi dirinya begitu menikmati guyuran iman yang merasupi jiwanya yang tlah lama gersang. Ia pasrah jika tiba-tiba sebuah surat cerai sampai ke tangannya. Berkali-kali ia hubungi nomor suaminya, tapi berkali-kali juga tak ada tanggapan.&lt;br /&gt;“Semoga mas mendapatkan seorang istri dan Ibu yang baik buat Farah,”gumamnya lirih.&lt;br /&gt;Hari ini, keputusannya sudah bulat, mengakhiri sesuatu yang dulu begitu diperjuangkannya. Sebuah surat pengunduran diri sudah ia layangkan seminggu yang lalu ke tangan dewan direksi, hari ini waktunya mengemasi barang-barangnya. Berpasang-pasang mata mulai mengamati tingkahnya dari pintu yang dibiarkan terbuka. Sepertinya mereka sadar, akan kehilangan atasan yang memiliki dedikasi tinggi, meski terkadang pola kepemimpinannya kurang begitu mereka sukai.&lt;br /&gt;Setelah selesai mengepak barang dan berpamitan pada atasan dan karyawannya,bergegas ia menuju basement dan memacu mobilnya pergi meninggalkan kantor ini, pergi dan tak kembali. Belum lama ia mengemudikan mobilnya, sebuah mobil Mercy hitam mengklaksonnya berkali-kali dari belakang. Bukan malah berhenti, Intan semakin mempercepat laju mobilnya. Mungkin orang iseng pikirnya, toh ia tak berbuat salah, dasar orang aneh, masih saja mengklakson. Bulu kuduk Intan semakin merinding, mobil itu masih saja membuntutinya, kali ini laju Mercy hitam meninggi, hingga mampu menyalip mobilnya.Perlahan Intan menghentikan laju mobilnya, menepi. Segala pikiran buruk coba ia tepis.Tangannya berkeringat dingin, mengumpulkan mental untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mobilnyapun berhenti, begitu juga mobil mercy hitam di depannya yang juga ikut berhenti. Kali ini keberaniannya memuncak,paling tidak ia harus menyelesaikan tindakan konyol pengemudi Mercy urakan itu, pikirnya. Untungnya sewaktu kuliah dulu, dirinya ikut UKM beladiri. Paling tidak ada sebuah perlawanan berarti meski akhirnya harus kalah.&lt;br /&gt;Intan keluar dari mobilnya, berjalan mendekati Mercy di depannya. Langkahnya tiba-tiba terhenti, seorang laki-laki berpakaian kasual keluar dari mobil itu.Mata Intan terpana, terpaku akan sebuah pemandangan di depannya.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum, Farah merindukan bundanya,” ucap laki-laki itu sambil merangkul bahu seorang anak disampingnya.&lt;br /&gt;Buliran airmata membasahi pipi Intan, ia ingin mengucapkan sepatah kata kerinduan,lalu menghambur ke pelukan orang yang dicintainya.&lt;br /&gt;“Ayo, Farah, panggil Bunda untuk pulang,”ucap laki-laki itu sambil menuntun maju anak kecil yang bernama Farah.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum, Senora…”ucap laki-laki itu sambil menghapus buliran air mata di pipi Intan.&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam, Senor,”ucapnya terbata.&lt;br /&gt;Siang itu begitu sejuk bagi Intan. Tak pernah ia rasakan kesejukan siang yang sangat. Jiwanya begitu damai. Berjuta ucapan syukur ingin ia muntahkan pada Sang pembuat matra kehidupan, menciptakan rekamatra kehidupannya yang menakjubkan. Hanya hamburan pelukan yang ia lakukan, menjawab semua rasa yang lama ia pendam. Menghambur kedalam pelukan kedua jantung hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;em&gt;Dalam ambigu eksistensi diri&lt;br /&gt;Re_&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-8513987709160179471?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/8513987709160179471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=8513987709160179471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8513987709160179471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8513987709160179471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/rekamatra.html' title='REKAMATRA'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-7506100227077474664</id><published>2008-09-04T18:17:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:57:36.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rekaaksara'/><title type='text'>Kontemplasi lagi, lagiii dan laaagiiii………</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Pernahkah kau berpikir teman, tentang hidupmu? Tentang eksistensimu?Mengapa dan apa gunamu di dunia? Sejak kecil, sejak pertama aku bisa mengingat, itulah pikiran pertama yang terbesit dalam benak, sambil lalu dengan jawaban mengambang, bagiku biarlah waktu yang menjawabnya. Begitulah, hingga sampai akhirnya aku kebingungan sendiri dalam makna eksistensinya, karena meski aku cenderung penganut easy going tapi aku selalu tak ingin stagnan, maka pertanyaan itu selalu terngiang, hingga dalam mimpiku, namun tetap saja aku masih menganggapnya sambil lalu. Lama-lama kubosan, aku kecewa pada waktu.Waktu berjalan arogan, tanpa beri jawaban, beriku waktu untuk sekedar meraba. Ah, lalu setelah kupikir-pikir mengapa pula kusalahkan waktu yang bungkam? Bukankah dari waktu yang berjalan terbentuklah matra kehidupan yang penuh labirin, hanya diriku saja yang malas untuk terus mencari pintu, hingga kumampu merangkak lebih maju.&lt;br /&gt;Sekarang kuputuskan untuk menjawab, dengan berpikir tentunya, aku kurang terlalu yakin dengan peran perasaan dalam proses perubahan. Pikirku mengatakan perasaan adalah komponen penguat setelah berpikir, maka muncullah apa yang disebut keyakinan.Perasaan akan menguatkan pemikiran kita, karena itu keyakinan kian kokoh.&lt;br /&gt;Lalu ada sebuah pertanyaan muncul di benakku, Apakah aku akan menjadi orang seperti yang biasa kulihat disekitarku?Seperti merekakah?Aku akan tumbuh besar, bersekolah, jika mujur bisa sampai ke perguruan tinggi, menikah, punya anak, cucu, cicit lalu seterusnya, dan mati?Mirip dengan kebanyakan orang, tentunya, bukankah diriku juga orang?Ah, aku menjadi jenuh. Kalau begitu tak ada yang istimewa pada diriku, Apa yang memberiku arti hingga aku berarti dan terasa istimewa?Kutakbicara soal kecerdasan ataupun keelokan fisik?Karena jawabnya sudah bisa kutebak, Standart. Manusia yang standart. Jika aku lebih dari hewan, maka egoku kini meninggi, aku ingin lebih dari manusia pada umumnya. Indra keenam?apa pula itu?aku tak paham, mungkin aku tak punya, jadi lupakan khayalan itu. Lalu apa sebenarnya yang buat hidup lebih dari sekedar hidup kebanyakan?&lt;br /&gt;Itulah kebingunganku teman, tak apalah jika kalian tak ingin sepusing aku, memang tak usah terlalu dipusingkan,mungkin ada benarnya pula aku terlalu berlebihan, lalu kau mencibirku,Mengapa hidup kau bikin susah sendiri?Lalu kau sendiri hidup buat apa? Buat makan atau makan buat hidup?buat jadi orang kaya?buat cari cowok atau punya pacar banyak?atau hidupmu buat cari kebahagiaan yang sebanyak-banyaknya?&lt;br /&gt;Tentu, aku juga inginkan itu teman, tapi itu nanti dulu. Percayalah, aku sudah hampir mengalaminya, meski tak seperti orang lain, karena bukankah segala yang terjadi bumbunya akan berbeda permasing kehidupan manusia? Tapi aku bukan ingin itu dulu, sekali lagi, belum itu dulu.&lt;br /&gt;Jika itu dulu, maka semisal kebahagiaan aku akan bertanya lagi, kebahagiaan macam apa?kaya seperti apa?apakah tepat pula jika kusamakan dengan pendapat kebanyakan orang?Jika ya, mungkin makna kebahagiaan adalah pemuasaan kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya, semisal bagi orang yang lapar akan mengatakan kebahagiaan adalah makan sepuasnya, berbeda-beda. Lalu akan muncul pertanyaan apa sebenarnya kebahagiaan itu?Tidakkah itu bisa disamakan?Kebahagiaan global misal?&lt;br /&gt;Hahaha…lalu kau akan menertawakanku sambil terkencing-kencing di celanamu. Mungkin kau akan berkata jika segala sesutau kau pikirkan tak jelas seperti itu kau bisa menjadi kandidat penghuni RSJ nomor wahid. Ah, dikau teman,tega benar. Lalu bagaimana, banyak teman yang kutanya tapi hanya menjawab sambil lalu, seolah pertanyaanku konyol saja. Tiba-tiba terbesit pertanyaan, Apakah manusia bisa menentukan apa yang baik bagi dirinya semisal bahagia haqiqi menurutnya? Lalu, ia akan umumkan dan patenkan menjadi sebuah patokan bagi semua manusia?Lalu bagaimana jika tak sesuai bagi yang lainnya? Bulshit, diman kemutlakan itu ada? Ah, algi-lagi kau akan menertawakanku. Yah, kutahu seperti yang kita pelajari bersama tentang kemutlakan dalam filsafat adalah nihil,nir…Tapi sudah lama kutakyakin dengan jawaban dari berfilsafat yang semakin memberi keabsurdan. Hakikat kebenaran yang dicari tidak lagi sebuah hakikat, akrena mereka, para filosof lagi kebingungan menterjemahkan kehakikatan. Jika akal sudah kepalang mentok, mereka selalu berujar, memang tak ada sesuatu yang mutlak didunia ini ibarat sebuah nilai yang sangat nisbi. Bagiku mereka gagah di awal atau cuman gagah-gagahan, masak iya, iya gak sih?&lt;br /&gt;Lalu standard kehidupan, termasuk hidup dan guna kuhidup, kucari pada siapa?dimana?sekarang kau bungkam teman,menatapku tajam, kau ingin jawab, tanya saja ke dosen Filsafat, tapi urung kau lakukan, karena kau tahu itu bukanlah solusi, atau kau mau mengatakan tanya saja ke psikolog, tapi juga urung kalakukan, karena kau juga tahu para psikolog belajar psikologi, sama saja, tentang filsafat cuman obyeknya adalah manusia, jiwa manusia. Kali ini kau benar-benar bungkan, tak berani menertawakanku lagi. Kau semakin terlibat dalam irama sesuatu yang membuatku bingung, dahimu berkenyit tajam,kau semakin bingung, terlihat dari berkali-kali kau garuk kepalamu yang tak gatal, karena kutahu kau rajin shampoan, tak sepertiku yang sudah lumutan.&lt;br /&gt;Akhirnya, kuterduduk lemas, tak berani tatap mentari, sinarnya menyengat seolah menghinaku.Lalu…………………&lt;br /&gt;Silahkan lanjut pada kontemplasiku selanjutnya&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;.he…he…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Re_&lt;br /&gt;Urung selesai teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-7506100227077474664?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/7506100227077474664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=7506100227077474664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7506100227077474664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/7506100227077474664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/kontemplasi-lagi-lagiii-dan-laaagiiii.html' title='Kontemplasi lagi, lagiii dan laaagiiii………'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-3175100178852781969</id><published>2008-09-02T00:04:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:59:34.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rekaaksara'/><title type='text'>Saat itu tlah tiba</title><content type='html'>&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Kukerjapkan mata berkali-kali, hingga perih rasanya, tak jemu kupandangi laju jarum penunjuk waktu. Hampir Isya, ada sebersit rasa rindu, ada seberkas gores luka, luka yang tak kumengerti maknanya. Andai dua rasa itu terjelmakan hitam dan putih, saat ini pastilah hatiku abu-abu, warna yang busa buat jiwa mati, menurutku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Sebentar lagi Isya, Isya, tertanggal i september esoknya, berarti setelah Isya adalah terawih perdana. Pikiranku kalut, jantungku berdegup tak monoton.Re bentar lagi tarawih, esok dikau pastilah puasa, apalagi dikau tidak haid, kau tak bisa beralasan pada Tuhanmu, hatiku mempermainkan akal yang sedang berdegradasi. Iya aku tahu, siapa yang menyangkal saat ini tiba, sisi pikirku bicara. Lalu khayalpun tiba, memperkelam kesadaran yang ingin putih, pengandaian menjadi mozaik kata yang sukar direka. Andai saat ini masih berbulan-bulan kemudian, atau setahun lagi, atau beberapa hari lagi, kali ini khayal merajuk, menjilat minta posisi legalisasi. Jarum jam tetap melaju, tak mengindahkan kesimpangsiuran akal dan hatiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;"Ahh..."akhirnya mulutku mendesah, hanya bisa mendesah, masing-masing masih bersitegang dalam perang sunyi dalam diri yang letih, letih merasai diri, letih merajai langkah yang kian tertatih dalam labirin kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;"Tuhan...."kini mulutku mulai bisa berteriak, berteriak atas kekonyolan diri yang belum mampu memberi warna pada eksistensi. Jarum jam kian berlalu, dari jam menjadi menit kemudian detik. dan................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;"Aaaaagggghhh.........."akhirnya teriakku tak tertahan, tubuhku bergunjang hebat, apakah gempa?apakah aku akan mati dalam perubahanku yang terus mengalami degradasi?apakah ini Tuhan jawaban atas kelahiranku ke dunia?tidakkah Kau berikan aku kesempatan lagi untuk menambah citarasaku?Tuhan.....aku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;"Hei....Re kamu itu ngapain nduk,sana cepetan wudhu dah adzan",ucap Ibu sembari terus menggoncang tubuhku yang mulai kaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Wualaah Reeeeeeeeeee!!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-3175100178852781969?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/3175100178852781969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=3175100178852781969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/3175100178852781969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/3175100178852781969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/09/saat-itu-tlah-tiba.html' title='Saat itu tlah tiba'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-8302888766799505549</id><published>2008-08-24T21:36:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:58:27.136-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rekaaksara'/><title type='text'>Serba-serbi pencarian eksistensi</title><content type='html'>&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Dalam gemuruh terpaan badai kebingungan akan sebuah eksistensi, di tengah rimba belantara keterasingan, rupanya kita masih sedia bertahan, melawan sayatan duri, lubang skeptisme, membuat kepayang akan sebuah penanggalan asa.Lihatlah beberapa manusia yang berakal tak sadar, terlalu manja, bergerumul dengan belitan keteraturan,keteraturan yang membuat mereka makin mabuk kepayang,menikmati setiap eluan kemapanan, bagiku, ataukah mungkin bagi kita, adalah terpaan badai topan yang membuat manusia terhempas, meninggalkan sisi diri yang teralienasi di rimba sendiri. Berjuang, bagiku adalah kemuakan yang terus ingin kumuntahkan, karena teriakku dan tangisku tak mempan melawan kalian, para manusia berakal tak sadar.Jablai kuaakan hyadirnya seorang kawan, hangatnya tinjuan mereka yang buatku sadar,hingga aku mampu mengatakan diriku bukan lagi alien, di tengah mereka para pemeluk pragmatisme persoalan.Tapi kalian memilih terkubur dirimbunnya ilalang perkotakkan, kotak yang membuatku menjelma menjadi sesuatu yang abstrak, bentuk yang sama sekali tak geometris, bentuk yang lama tlah buat kalian muak.Lalu kuterpaku akan sebuah pencarian eksistensi jiwa di rimba keterasingan, bukan lagi fisik yang nyata, karena bagiku semua itu omong kosong.Dimana sabetan pedang revolusimu, bukankah sabetan itu yang buatku menikmati sakitnya, hingga duri jahanam rimba tak mempan merasai sensor kulitku, lalu dimana......Kuterpekur sekali lagi, menanti roh kalian yang menjelma menjadi malaikat yang suci, tak mengerti, amnesia akan memori petualangan letih ini,menunggui jasad kalian yang terkotak di peti mati akan sebuah nama...Hingga akhirnya dunia menjadi gelap bagiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Re_&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;di suatu sudut bumi yang ringkih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-8302888766799505549?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/8302888766799505549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=8302888766799505549' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8302888766799505549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/8302888766799505549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/08/serba-serbi-pencarian-eksistensi.html' title='Serba-serbi pencarian eksistensi'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-768331992121681799</id><published>2008-08-24T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T20:11:17.945-07:00</updated><title type='text'>sajakkoe</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;ANDAI KAU TAHU, HATI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Kau tahu hati,&lt;br /&gt;Menghakimimu dalam pengasingan&lt;br /&gt;Pengacuhan di peradapan akal&lt;br /&gt;Menurut dalam tunduk palsu&lt;br /&gt;Teriakan sunyimu&lt;br /&gt;Kata  pengadilan&lt;br /&gt;Akal sangatlah kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu hati,&lt;br /&gt;Berontak dalam sunyi&lt;br /&gt;Berontak tunjukkan asamu&lt;br /&gt;Tunjukkan sucimu&lt;br /&gt;Dari lumpur pekat hati&lt;br /&gt;Pakaianmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu hati,&lt;br /&gt;Peradapan akal&lt;br /&gt;Melenggang&lt;br /&gt;Berwibawa, kokoh&lt;br /&gt;Laksana cor beton saja&lt;br /&gt;Tegangan kuat, tegangan tarik&lt;br /&gt;itu kebanggaannya&lt;br /&gt;Itu saja punyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu hati,&lt;br /&gt;Segumpal daging&lt;br /&gt;Berjalan kronis&lt;br /&gt;Akal meradang&lt;br /&gt;Menahan badai, angin&lt;br /&gt;Mengibas, kikis habis&lt;br /&gt;Angkuh, kokohnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kau tahu hati,&lt;br /&gt;Akal berteriak parau&lt;br /&gt;Mencari sesuatu&lt;br /&gt;bukan ada pada dirinya&lt;br /&gt;Bukan miliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kau tahu akal,&lt;br /&gt;pastilah mencari aku&lt;br /&gt;Sahabatmu&lt;br /&gt;Kata hati&lt;br /&gt;Dalam sekarat sunyi&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;em&gt;dari segumpal daging&lt;br /&gt;Sekarat menanti ajal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-768331992121681799?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/768331992121681799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=768331992121681799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/768331992121681799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/768331992121681799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/08/sajakkoe.html' title='sajakkoe'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-4163706083202639524</id><published>2008-08-24T20:03:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:56:05.763-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>The Journey</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;color:#009900;"&gt;&lt;strong&gt;The Journey&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Kuterpekur memandang luar jendela bis Sumber Kencono, setelah dari tadi tak kuhiraukan tirai biru yang menutupnya. Mungkin karena ku terlalu jenuh dengan pemandangan dalam bis, terpampang bermacam ekspresi wajah orang, dan sudah puas kutamati semua pandangan yang tertangkap oleh mata. Kebiasaan aneh mungkin, ini sengaja kulakukan agar kesadaranku terjaga, yah agar terus terjaga, sadar bahwa diriku masih ada di dunia, masih bernafas dan menjalani kehidupan hingga detik ini.&lt;br /&gt;Terkadang halusinasi mengajak pikiranku melayang, menentang waktu yang berjalan, menghentikan sejenak dan kenangan itu dengan sendirinya akan muncul hingga flashback waktu itu terasa nyata dan kehidupanku yang sekarang adalah ilusi. Tapi tidak, tidak untuk kali ini, meski itu terkadang menyenangkan, pikiranku masih sehat untuk meraba fakta, mana ilusi dan kenyataan…&lt;br /&gt;Kenyataan……puff, aku mendesah lirih,kutarik nafas panjang mencoba menata setiap tarikan nafas yang tersengal.Kutatap panorama senja, hari kian larut, langit memamerkan gradasi warna lembayung yang memukau, Karya Sang Creator, Sang Painter Agung.&lt;br /&gt;“Ya Allah maafkan hambaMu”ucapku lirih.Maafkan aku…Sungguh maafkan aku Ya Rob ulangku dalam hati.Mencoba memaafkan diri atas kerisauan yang tak beralasan, kegalauan yang jika diteruskan mungkin akan mengantarkan pada sikap kufur nikmat. Sekejap bulu kudukku merinding, membayangkan saja aku ngeri, seorang yang kufur nikmat, semoga tidak menimpaku.&lt;br /&gt;“Persiapan..Palur..Palur..!!”teriakan kernet bis membuyarkan kontemplasiku. Ah sudah sampai Solo rupanya, sekitar 2 kilo lagi akan sampai Sekarpace.Cepat sekali, kulirik jam di hp-ku, sekitar 2jam bis biru ini membawa ragaku jauh pergi meninggalkan kampung halaman menuju kota batik ini, kota yang kupilih sebagai tempatku mengadu ilmu. Padahal baru kemarin pulang, hari ini juga harus kembali, yah sudah konsekuensi, hiburku. Jika boleh mengadu, sebenarnya aku sangat belum puas bercengkrama dengan mereka, para saudaraku tercinta, adik dan kakakku, mereka soulmate yang masih kumiliki..&lt;br /&gt;Mengingat mereka, membuat dada ini sesak. Sudah berapa lama aku tidak melihat mereka seperti dulu saat-saat….ah urung kulanjutkan, memang takusahlah dilanjutkan. Mereka adalah sosok yang terdewasakan waktu, mungkin juga dengan diriku, ah aku benar-benar malu. Ku melihat dan menamati perubahan yang signifikan pada diri mereka, jauh lebih dewasa dan semakin matang dalam pendewasaannya, hingga aku merasa mereka adalah alien di rumah tua kami atau mungkin aku yang terlalu shock akan realitas yang terus berubah.&lt;br /&gt;Kumencoba mengingat peristiwa yang lalu, mecoba mengambil beberapa mozaik yang telah tertata, untuk sekilas mengenangnya. Waktu dimana aku memiliki keluarga yang lengkap, mungkin keharmonisannya akan membuat banyak keluarga lain iri. Bagiku saat-saat itulah kehidupan.Ketakutan bagiku adalah jika kelengkapan itu hilang, lalu bagaimana jika……Tidak, ah tidak mungkin, Allah tidak akan begitu tega melakukannya. Hai manusia bodoh, kenapa tidak, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin atas kuasaNYa, sudut lain brankas otakku bicara.&lt;br /&gt;Aaaaagghhh…hingga kemungkinan itu terjadi aku masih bisa berteriak mengelak, tidak bukan mengelak,lebih tepatnya lari dari kenyataan. Saat-saat itulah diriku bermimikri menjadi pecundang sejati, mencoba lari dari kenyataan, kenyataan yang mengantarkan pada perubahan pada diri kami, perubahan yang kubenci, perubahan yang mengantarkan pada ketidakpastian…anggapanku kala itu.&lt;br /&gt;Kami ibarat ABK di dalam kapal tak bernahkoda. Hanya ada tiga pilihan yang bisa kupikirkan, membiarklan diri kami terombang ambing terbawa arus tanpa tujuan, memilih menceburkan diri ke laut atau masing-masing diri belajar keras menjadi nahkoda yang handal. Lalu kamipun berproses menjadi pilihan ketiga. Dulu aku adalah pemuja kestatisan, karena bagiku statis itu indah……”biarlah waktu berhenti pada kebersamaan itu sempurna bagiku”. Tapi bagi diriku yang merasai hidup, ketika ku mencoba berkenalan dengan kehidupan lebih jauh, mencoba menempatkan akal diatas perasaan. Kehidupan mengajarkan padaku bahwa perubahan itu nyata, pengalaman empirikku bergerak, bagai film dokumenter perjalanan kehidupan seorang “DIRI”, menjadi bukti bahwa hidup itu dinamis tidak sestatis yang dibayangkan, bahwa yang kuaku selama ini adalah kedinamisan itu sendiri, oleh karena itulah perubahan itu nyata. Perubahan itu ada. Yah… hingga akhirnya aku tertunduk, pemikiran yang mampu menundukkan ego “sang pecinta kestagnanan”, “sang pecundang” penentang kepastian. Memang apa salahnya dengan perubahan?biarlah ia menjadi spirit labirin yang penuh kejutan.&lt;br /&gt;“Persiapan…Sekarpace..sekarpace!!”&lt;br /&gt;Here we go……&lt;br /&gt;Hidup ini dinamis Mift, akan ada banyak pintu menuju perubahan. Pilihan akan slalu datang, karena disinilah manusia berkuasa memilih jalannya untuk berubah. Takut pada perubahan adalah pecundang karena memngingkari eksistensinya pada kehidupan. Tentu..&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku turun dari bis, entah untuk yang keberapa…sejak pertama kali ku tiba di kota batik ini.&lt;br /&gt;Tapi yang penting kupastikan langkahku kali ini mantap. Mantap mengazamkan diri sebagai Agen of Change Sang Creator di planet biru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Dari kalianlah aku belajar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-4163706083202639524?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/4163706083202639524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=4163706083202639524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4163706083202639524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4163706083202639524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/08/journey.html' title='The Journey'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-5010148259407003679</id><published>2008-08-24T06:30:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:56:37.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Sumringah keep on moving</title><content type='html'>Sumringah Keep on Moving&lt;br /&gt;Perempuan muda itu duduk diam di atas karang batu. Matanya sembab,membengkak seperti mata ikan koki, lingkar matanya lebam menghitam. Pandangannya nanar,jauh, menerawang kosong, layaknya tatapan orang buta. Beberapa hari yang lalu sejak kepulangannya di desa tanah kelahirannya, perempuan itu kerap mendatangai tempat ini, di tepian daerah aliran Sungai Bengawan Solo, tak jauh dari perkampungan penduduk. Sebentar-sebentar ia akan turun ke tepian sungai, menceburkan kakinya dan bermain air, setelah itu kembali duduk terdiam, mematung di atas karang batu. Seakan dirinya sedang memikirkan sesuatu dengan begitu dalam, terlihat dahinya yang mengernyit tajam, raut mukanya jauh dari binar ceria.&lt;br /&gt;“Sum…Sumi”terdengar suara serak wanita tua berteriak, berulang kali, dari arah sebuah rumah, beberapa meter dari tempat perempuan itu duduk.&lt;br /&gt;Bak tersengat listrik, perempuan berkerudung dan berpakaian seperti daster itu melonjak kaget, seperti baru sadar menginjakkan kaki di alam nyata.&lt;br /&gt;“Itu suara Ibu memanggilku,” ucap perempuan yang dipanggil Sumi beringsut bangun dari duduknya.&lt;br /&gt;Sumi alias Sumringah nama panjangnya. Anak dari keluarga priyayi, masih keturunan jauh trah Kraton Solohadiningrat. Sudah 2 tahun lamanya sejak memutuskan hijrah ke Jakarta karena tuntutan kuliah, baru kali ini ia pulang ke desanya, sebuah desa dengan kekentalan budaya jawa yang sangat, desa yang menjunjung tinggi norma kejawennya.&lt;br /&gt;“Nggih Buk,” teriak Sumi, berlari tergopoh mendekati sumber suara. Tampak di depannya seorang wanita tua dengan kemben berbalut Jarit, dengan pakaian seperti itu tampak jelas tonjolan tulang bahu dan belikatnya, seperti tonjolan batu karang di hamparan coklat Sungai Bengawan Solo.&lt;br /&gt;Jika dihitung lagi, sudah genap 3 bulan ini Sumi pulang ke desanya. Bapaknya baru saja meninggal, sedang Ibunya kerap sakit. Ia harus rela menggenapkan cuti kuiliah satu semesternya disini, meskipun sebenarnya akal Sumi enggan untuk berlama-lama, di sebuah tempat yang boleh jadi mampu merontokkan sisi idealismenya, di suatu sudut bumi yang masyarakatnya sudah kelewatan menuhankan adat. Namun, dirinya sadar disini masih ada Ibunya, sanak saudaranya, sebagai anak ia harus merawat dan menjaganya, tetap tinggal bukan lagi pilihan melainkan sebuah keharusan.&lt;br /&gt;“Nggih Buk, ada apa?” tanya Sumi sambil mengatur napsnya yang tersengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kok ada apa tho, kamu ini dari mana saja, sejak pagi pergi dari rumah, kayak di rumah nggak ada kerjaan saja,” ucap ibunya heran.&lt;br /&gt;“Iya Buk, Sumi ngerti, tapi kan Sumi cuman jalan-jalan sebentar,”&lt;br /&gt;“Besok itu acara sewon-sewon, seribu harinya Bapakmu meninggal, sudah banyak tetangga yang rewang, kamunya malah ngluyur, ibukan jadi malu, mbokya kamu itu, nduk, bantu-bantu sedikit di pawon, ngethok ning masyarakat, gitu,” ucap ibunya panjang lebar.&lt;br /&gt;Kalau sudah seperti ini, Sumi merasa ibunya mirip daiyah, malahan gaya bicaranya lebih dahsyat dari teh Ninih, Guru ngajinya di Jakarta. Mengingat metafor ini, Sumringah tersenyum geli, ketawa cekikikan, lupa kalau dirinya lagi kena sidang kasus kluyuran, pergi tanpa pamit dari rumah.&lt;br /&gt;“Lho…lho, kok malah cekikikan tho bocah iki, wis sekarang cepetan kamu mandi, terus rewang ning pawon,”ucap ibunya menggelengkan kepalanya heran sembari mengunyah kembali susurnya.&lt;br /&gt;Sumipun mengangguk patuh, dirinya memilih diam, menuruti kata-kata ibunya. Ia lelah bertengakr dengan ibunya, beradu mulut dengan keluarga besarnya, kekuatan adat itu menjelma menjadi dinding besi yang kian kokoh.&lt;br /&gt;Sejak awal hadirnya di desa ini, perang pikir dan batin kerap hadir pada diri Sumi, tidak seperti dua tahun yang lalu, saat-saat semua masih berjalan apa adanya, diri Sumi adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyrakat. Hatinya, pikirannya, menyatu, tunduk mengikuti setiap lekuk budaya masyarakatnya. Dahulu, ia bangga, cenderung senang malah. Sumi masih ingat betul saat dirinya mencuri ingkung ayam sajen di punden tengah sawah bersama teman-temannya,sampai rela berlumpur-lumpur ria, menceburkan diri ke blethok sawah agar tak ketahuan warga, pun saat berenang rame-rame dan melabuhkan swajen hasil panen ke Sungai Bengawan Solo.”Agar yang Mbahu Rekso sungai ini tidak marah dan membawa petaka bagi warga.” Begitu kata Bapak.Mulanya Sumi kecil tak paham dengan alasan yang dikemukakan Bapk juga Simbahnya, hingga akhirnya semua menjadi jelas dimatanya kini. Itu adalah sirik, dan sirik adalah dosa besar yang tak terampuni. Kata-kata itu terus terngiang di benak Sumi, bagai gelegar petir di telinganya,kajian pertama yang ia dapat dalam perhelatan akbar kajian Sie Kerohanian Islan Kampus,kala pertama menjadi mahasiswa. Rasa ingin tahunya yang sangat, mendorongnya bersedia digembleng oleh seorang wanita yang sering dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan Murobiah, tapi Sumi lebih senang memanggilnya the Ninih.&lt;br /&gt;“jangan lama-lama mandinya nduk, ntar masuk angin kamu.” Teriak ibunya mengagetkan Sumi.&lt;br /&gt;Sejenak dirinya tercengang, baru tersadar kalau semenjak masuk kamar mandi belum melepaskan baju, tahu-tahu bajunya sudah basah oleh air, cepat-cepat ia tanggalkan bajunya, lalu ia usapkan sabun herbal pelan, merambat, menggerayangi tubuhnya. Aroma herbal sabun membuat pikirannya menjadi rileks. Setelah puas, kembali ia ayunkan segayung air ke tubuhnya. Silir angin dari celah kisi lubang angin menambah kesejukan yang sangat.&lt;br /&gt;Sumi berpikir, sudah berapa gayung yang ia ayunkan, berapa banyak air yang muncrat ke tubuhnya, namun kesejukan ini, baru ia rasakan. Apakah karena sedari tadi pikirannya melayang, mengembara mengarungi lautan mozaik kenangan, hingga kesadaran akan apa yang dilakukan perlahan hilang. Apakah benar karena kesadaran yang membuatnya merasai kesejukan ini, sadar akan apa yangt dilakukan. Sadar. Sadar.&lt;br /&gt;Kata itu tiba-tiba muncul di tembok kamar mandi yang catnya mulai mengelupas, membentuk beragam corak gravity yang indah.&lt;br /&gt;“Ah, Sumi…Sumi, sekarang kamu mudah sekali melamun,” ucapnya sambil menepuk bergantian pipinya.&lt;br /&gt;Bergegas ia handuki badannya dan keluar kamar mandi sebelum ibunya kembali bgerteriak.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ragu, Sumi melangkahkan kaki ke pawon, dari jarak beberapa meter saja sudah terdengar gemerisik suara Ibu-ibu ribut di pawon, enytah apa yang diobrolkan, tak jelas di telinga Sumi. Sejenak, langkahnya terhenti, hatinya mendesir, membuat bulu kuduknya berdiri, kali ini kakinya terasa berat untuk melangkahlagi, satu langkah kedepan sepuluh kali langkah ia ingin mundur. Baginya pilihan adalah seperti memakan buah simalakama, saat ini.&lt;br /&gt;“Ayo Sumi, maju!!” ucap Sumi memberi semangat pada dirinya.&lt;br /&gt;Mendadak suara gemerisik ibu-ibu lenyap, berganti memandangi sosoknya yang baru saja datang. Pandangan mereka yang aneh nyaris saja merontokkan mental Sumi.&lt;br /&gt;“Eh, den ayu Sumi, kok tindak gdateng pawonan tho, mangke lek kotor badannya,” ucap seorang tua dari mereka, rasa-rasanya ia mengenal Simbah ini, tapi lupa namanya.&lt;br /&gt;“Mestinya den ayu Sumi lupa sama njenengan Mbah. Ini yu Siyem, masak den ayu lupa…” ucap salah seorang ibu-ibu, sepertinya tahu8 mimik muka Sumi yang kebingungan, dan segera saja Sumi nimbrung di kerumunan ibu-ibu, agar kebingungannya tak semakin kentara. Suasanapun kembali renyah oleh basa-basi Sumi, disambut celotehan dan tawa ibu-ibu.&lt;br /&gt;Sepasang mata mengintip melalui celah pintu yang tak tertutup rapat. Sorot matanya sendu, penuh binar keharuan di dalamnya.&lt;br /&gt;“anakku…kaukah itu,” pemilik mata berucap lirih sembari mengusap air matanya yang mulai tumpah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sumi merebahkan badannya kasar di kasur yang tak lagi empuk, kapuknya semakin mampat oleh usia dan tindihan badan yang tak lagi kecil. Bagi badannya yang lelah, kasur mampatpun terasa nikmat. Ingin dirinya langsung tidur, bermimpi berkelana mengarung samudra berlayar bersama rombongan kapal, berjuang bersama dalam satu tujuan, mendarat ke tanah impian, dimana tertegakkan kalimat Tuhan, namun matanya tetap tak mau terpejam, entah apa yang terjadi dengan saraf-sarafnya, apakah antar saraf tak lagi singkron, apakah sedang terjadi perang antar saraf, seperti yang terjadi pada babak kehidupannya kini, antara idealismenya dan realita masyarakat desa.&lt;br /&gt;Sumi mendesah berat, dadanya kembang kempis tak teratur, beberapa kali dirinya menghembuskan napas kasar, seperti ingin membuang sial saja. Lama ia tertegun, menekuri langit-langit kamarnya, mozaik peristiwa-peristiwa sejak awal kedatangannya beterbangan, melayang-layang dalam balon imajinasi.&lt;br /&gt;“Anak durhaka kowe nduk, berani melawan orang tua.” Suara bapak meradang, berteriak meninggi bagai halilintar di telinga Sumi. Tiba-tiba badan Sumi menggigil. Belum pernah Bapak Sumi duka, marah seperti ini. Tapi Sumi bukan lagi anak kecil yang cengeng, dibentak sedikit langsung ngumpet dibelakang jarit ibunya sambil nangis merajuk minta suaka.&lt;br /&gt;Sumi sadar, dirinyalah yang memulai perang, kejadian ini suatu saat pasti akan terjadi dan sekaranglah waktunya. Sumi sangat yakin apa yang dilakukannya benar, ia berjuang melawan adat yang menurutnya sirik dan sangat tidak logis.&lt;br /&gt;“Adat kok dilogis-logiskan lho, kuwalat kowe nduuk, dasar geblek!!” suara bapak semakin berang saat dirinya kembali mengemukakan penjelasan.&lt;br /&gt;“Jangan keminter kamu Sum, anak bau kencur berani nyeramahi orangtua. Ini gara-gara kamu, Sumitro, berani menyekolahkan anakmu di Jakarta, mestinya sekolahkan anakmu di sekolah kepribadian kraton, biar nggak lupa sama adatnya, lah ini tho hasilknya…”ucap Pakdhe Parto berganti menyudutkan Bapak Sumi, Sumitropun terdiam,mengalihkan pandangan yang sedari tadi tak jemu memelototi Sumi, keluar jendela sambil mengisap cerutunya dalam.&lt;br /&gt;Seandainya ada teman-temannya disini, teman-teman dengan idealisme yang sama dengannya, berjuang dalam suka dan duka, melawan kebobrokan sistem, berdemo bersama menghujat bejatnya Kapitalisme, desah Sumi dalam hati. Kini, Sumi benar-benar berjuang sendirian. Rayuan skeptis mulai menari-nari di benaknya, melawan sisi ideologinya yang masih sisakan bara.&lt;br /&gt;Sumi merasa dirinya sebagai terdakwa di sebuah Pengadilan Agung, tanp pembela, tanpa pendukung, semua yang hadir meyalahkan dirinya. Keringat dingin bergulir bergantian membasahi baju mihnahnya. Ingin sekali dirinya mundur, menyudahi debat kusir dengan keluarganya. Matanya lelah menatap sorot tajam mata Bapak, Pakdhe dan yang lainnya. Gusti Allah, kuatkan hambamu. Mengapa susah sekali merubah pemikiran orang, lebih susah perjuangannya daripada di kampus. Desah Sumi lagi dalam hati.&lt;br /&gt;Perdebatanpun berakhir tanpa hasil, baik diri Sumi maupun keluarga besarnya adalah militan sejati penjaga idealismenya masing-masing.&lt;br /&gt;Satu-persatu balon imajinasi Sumi pecah, menyisakan kegetiran di hatinya. Meskipun begitu, dirinya akan selalu mengingat segala peristiwa, terlebih saat-saat terakhir bersama bapaknya.&lt;br /&gt;“Maafkan Sumi, Pak, nyuwun ngapunten,” ucap Sumi lirih, buliran airmatanya mulai membasahi pipinya, membuat pandangan matanya menjadi kelabu. Air matanya kian deras mengalir, tak kuasa pikirannya membendung. Teringat akan semua itu membuat hatinya sakit, jiwanya terkoyak.&lt;br /&gt;“Harus berapa lama lagi ya Gusti, perjuangan ini,…” desah Sumi dalam, sambil menggigit getir bibirnya.&lt;br /&gt;“Nduk, kamu sudah tidur?” terdengar suara ibunya semabri menotok lirih pintu kamar Sumi.&lt;br /&gt;Tak berapa lama pintupun berderit lirih, mulai terbuka perlahan, menandakan kehati-hatian si pembuka.&lt;br /&gt;Sadar akan hal itu, Sumipun cepat menyeka air matanya dan bergegas membalikkan badannya. Sumipun menutup paksa matanya. Ia tak mau ibunya tahu kalau dirinya baru saja menangis.&lt;br /&gt;Langakah kai ibunya kian mendekati ranjangnya. Perlahan ibunya duduk di tepi ranjang, ranjang kayupun berderit pelan.&lt;br /&gt;“Kamu sudah tidur nduk, pasti kamu capek, rewang seharian,” ucap ibunya sambil mengelus rambut Sumi.&lt;br /&gt;Sejenak suasana menjadi hening, kehangatan merayapi jiwa Sumi. Sudah berapa lama sejak bertahun-tahun, ia tak m,ersakan belaian lembut ibunya.&lt;br /&gt;“Maafkan Ibu Bapakmu,nduk, sebenarnya Bapakmu pernah cerita sama Ibu kalu beliau paham maksudmu…” ucap ibunya sambil terus mengelus rambut Sumi. Jantung sumi berdegup tak beraturan, ingin ia cepat-cepat mengetahui penuturan selanjutnya.&lt;br /&gt;“dari dulu kami paham apa yang kami lakukan itu ora logis, sirik, tapi mau gimana lagi, Bapak sudah lama menjadi tetua adat, keluarga kitakan masih keturunan trah kraton, jadi…” ucap ibunya, urung melanjutkan ucapannya.&lt;br /&gt;Hati Sumi yang hampir berbunga, mendadak kembali layu.&lt;br /&gt;“tapi ibu yakin padamu nduk, akan usahamu, tapi ingatlah satu hal, masyarakat kita masih mengagungkan adat, adat lebih kuat dari hukum apapun, termasuk hukum agama. Kamu kudu pinter, bermain cantik di masyarakat, jadilah lakon. Wis… saiki kamu cepetan tidur,” ucap ibunya, lalu bangkit dari duduknya semabri mengecup kepala Sumi.&lt;br /&gt;Mata Sumi tetap terpejam, hanya leleran air mata, menandakan kalau dirinya belum tidur.&lt;br /&gt;“Ibu…”desah Sumi lirih.&lt;br /&gt;Ia dekapkan bantal ke wajahnya, seakan malu akan tampang dirinya sekarang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi ini cerah, secerah pikiran Sumringah saat ini. Acara sewon-sewon berlangsung lancar tadi malam meski tanpa hadirnya Sumi. Ibu Sumi yang membuat alasan kalau dirinya sedang tak enak badan dan harus beristirahat di kamar.&lt;br /&gt;Mengapa tak cepat ia sadari akan ada banyak kesemapatan dan pendukung menanti di depannya. Perlahan dan hati-hati, ia turuni jalan setapak menuju ke tepian Sungai, kemudian naik ke karang batu, tempat favoritnya berkontemplasi selama ini. Lama Sumi terpekur, sensor kulitnya mulai merasai hadirnya hangat sinar mentari. Ia dongakkan kepala, memandang hamparan biru langit bertabur kawanan awan.&lt;br /&gt;“kompilasi yang unik,” ucapnya sambil menunjuk kumpulan awan denagn beragam bentuk.&lt;br /&gt;Suara ceracau burung pipit terdengar indah di telinga Sumi. Entah mengapa semuanya kini menjadi indah. Bukankah pemandangan desa ini sudahj indah dari dulu. Kenapa lama aku mulai menyadarinya kembali, ucap Sumi membatin.&lt;br /&gt;Sumi mulai sadar betul, sadar akan keberadaannya. Kali ini dirinya nyata berada di suatu lingkungan yang jauh berbeda denagn lingkunagn mahasiswa. Disini, ia bukan lagi sebagai macan forum, dengan semangat membara menggulingkan argumen dan semangat lawan. Tidak bisa seenak udelnya berteriak lantang demokrasi yang utopis, kapitalis yang bejat, bukan disini dan memang masih belum saatnya.&lt;br /&gt;Jajaran karang di depannya mengusik perhatian Sumi, lama ia tertegun memandang jajaran karang di tepian sungai. Ya, masyarakat ibarat jajaran batu karang, sedang adat adalah kekuatan ikatan batu yang menyusunnya. Merekla adalah satu, dan air adalah sesuatu yang lain meskipun jarak mereka tak terpisahkan. Air adalah sesuatu yang mampu mengalir. Melalui cara ia mengalir dan waktu akan sanggup baginya mengkaramkan batu karang yang besar sekalipun.Bukankah indah tidaknya pahatan batu, tergantung dari si pemahat.&lt;br /&gt;Sumipun beringsut bangun, cepat-cepat ia berlari pulang. Tak lagi dirinya berlama-lama termenung, berkontemplasi lama menunggu secercah sinar keajaiban, itu semua bohong. Ia sudah lama tahu bahwa itu adalah sebuah pel;arian dirinya.&lt;br /&gt;Ia hanya berteriak marah, bersemangat seperti bara yang terus membakarnya saat demo tiba, menentang bejatnya sistem Kapitalisme, sistem yang terus menggerogoti sisi kemanusiaan seorang manusia. Sumi tak sadar setajam mana retorikanya, setinggi apa nadanya, dirinya lama lupa akan keberadaannya. Sumi terus saja berlari, bergegas menuju kesadaran yang berusaha dipetiknya dari pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Re_&lt;br /&gt;bagimu,bagiku,bagikita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-5010148259407003679?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/5010148259407003679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=5010148259407003679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/5010148259407003679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/5010148259407003679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/08/sumringah-keep-on-moving.html' title='Sumringah keep on moving'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-1826219878700253246</id><published>2008-06-25T05:41:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T17:59:06.811-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rekaaksara'/><title type='text'>G Penting</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;^G’ PENTING^&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Perubahan, satu kata yang tak asing lagi bagi orang yang menamakan dirinya sebagai agen of change, pun masyarakat awam. Realitas kehidupan mengenalkan dan mengajarkan mereka akan keniscayaan suatu perubahan. Namun, perubahan yang diyakini sebagai sebuah fakta kehidupan, tidak mutlak disukai oleh mereka yang merasai hidup. Sebut saja Heni, seorang mahasiswi yang penulis temui sedang bengong di sudut taman perpustakaan kampus Hijau. Ditanya pendapat seputar perubahan, dia mangaku phobi dengan yang namanya perubahan. Baginya perubahan adalah pintu menuju ketidakpastian meskipun dia sendiri juga paham bahwa perubahan dalam skala kecilpun pasti ada dan menimpa semua orang termasuk dirinya, “Sebuah empirik hidup saja kok mbak” begitu ungkapnya.&lt;br /&gt;Dyah, seorang mahasiswi lainnya, mengaku juga kalau dirinya kurang begitu suka dengan perubahan yang terjadi baik yang menyangkut diri, keluarga dan masyarakat. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kemampuan meraba dan adaptasinya yang kurang terhadap perubahan tersebut. Salah satu usaha mengatasi adalah easy going sehinga tidak terlalu membuat dirinya tertekan, “Hidup itu untuk dijalani dengan rileks mbak, meski perubahan itu yakin ada, tapi ya easy going ajah…”ungkapnya.&lt;br /&gt;2 mahasiswi diatas adalah salah dua contoh bagi mereka yang kurang atau bahkan tidak suka akan adanya perubahan, meskipun contoh ini tidak cukup untuk dijadikan argumen dalam menggeneralisir alasan ketidaksukaan terhadap hal ini, namun secara berani penulis melihat ada kesamaan dari contoh diatas, yaitu penerimaan atas adanya perubahan dan yang kerap bermasalah adalah bagaimana menghadapi perubahan, bukan pada perubahan itu sendiri. Mungkin juga karena perubahan yang terjadi lebih banyak merupakan “Shock Therapy”.&lt;br /&gt;Perubahan menurut penulis ada yang bersifat alami dan bersifat buatan. Inti dari perubahan yang bersifat alami adalah ketidakberdayaan manusia dalam proses perubahan di dalamnya, atau lebih agamisnya adalah sudah ketentuan Tuhan,contohnya adalah pertumbuhan makhluk hidup, dulunya kecil berubah , berkembang menjadi besar, muda menjadi tua, dulunya hidup kemudian mati. Sedangkan inti dari perubahan yang bersifat buatan adalah masih adanya upaya manusia dalam proses pembentukannya, meskipun dalam kesemuanya sudah berlaku ketetapan Tuhan. Contohnya antara lain kasus climate change akibat global warming,perubahan harga kebutuhan pokok manusia, perubahan kondisi masyarakat, dll. Namun ada juga kalangan yang tidak setuju dengan pengkotakan ini. Pertanyaan yang kemudian muncul, misalnya “Kenapa harus ada pembedaan seperti ini?”, “Mengapa juga harus ada perubahan alami?”&lt;br /&gt;Kemudian ada argumen yang menyatakan bahwa perubahan sendiri selalu mengkaitkan manusia di dalamnya, atau perubahan adalah produk dari tindakan manusia itu sendiri. Terkait dengan perubahan alami dengan Tuhan sebagai Penguasa, maka Sang Penguasa akan digantikan dengan materi, karena segala sesuatunya adalah materi, perubahan adalah dari materi kepada m,ateri, yang kesemuanaya masih ada dalam jangkauan manusia. Sehingga perubahan merupakan suatu hal yang rasional , itulah yang membuat perubahan ada dan dapat dijalankan. Argumen seperti ini akan membuat rancu perletakan tentang perubahan mana yang masih ada dalam koridor manusia sehinga akan sangat terkait dengan metode dan cara yang digunakan untuk mencapainya. Seperti halnya pada kasus feminitas pada wanita dan maskulinitas pada pria. Jika diasumsikan bahwa pelekatannya adalah produk budaya maka feminitas dan maskulinitas boleh saja terjadi kemungkinan perubahan silang yaitu maskulinitas pada wanita atau feminitas pada pria karena hal ini termasuk pada perubahan buatan, manusia masih bisa “merubah” dalam prosesnya.&lt;br /&gt;Memang akan ada banyak asumsi terkait dengan makna perubahan dan bagaimana manusia memahami dan menjalankan dan berupaya meraihnya. Asumsi adalah pendapat seseorang terhadap suatu hal yang didasarkankan pada realitas dan pemikiran tertentu . Oleh karena itu asumsi yang banyak berkembang tentulah dengan bijak dipelajari dan diteliti lebih jauh, karena realitas yang dijadikan salah satu acuan berpikirnya bisa mengalami perubahan dari waktu ke waktu, hal ini boleh jadi berpengaruh dengan konklusi awal. Maka penulis lebih suka mengembalikan pada empirik masing-masing individu. Dengan itu manusia akan lebih jujur menganalisa adanya perubahan, bahwa kehidupan tidaklah dinamis. Perubahan adalah inti, sebuah poros kehidupan, dengannya kehidupan berputar. Dalam empiriknya, manusia kan lebih jujur menilai bahwa manusia bisa menjadi subjek ataupun objek perubahan tergantung bagaimana menempatkan diri, dan ternyata dalam kesemuanya terdapat The Invisible hand sebagai pengendali roda kehidupan, sehingga perubahan yang terjadi didalamnya baik buatan dan alami tidaklah berjalan dengan metode yang acak adul tanpa aturan, sehingga perubahan yang terjadi malah menimbulkan kesengsaraan bagi subjek dan objeknya.&lt;br /&gt;Selamat Menganalisa dan Merasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disudut taman_”Puff…daripada bengong..” ^0^&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-1826219878700253246?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/1826219878700253246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=1826219878700253246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1826219878700253246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/1826219878700253246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/06/g-penting.html' title='G Penting'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-749306944396463920</id><published>2008-05-30T21:33:00.001-07:00</published><updated>2008-05-30T21:45:09.700-07:00</updated><title type='text'>Puzzle oh elzzuP</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; Ada seorang penjahat kabur dari sel tahanannya....kontan ja itu buat pusing para petugas tahanan, tapi setelah dicari di seluruh sudut penjara tetep g ketemu juga, Kenapa yak bisa begitu??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-749306944396463920?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/749306944396463920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=749306944396463920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/749306944396463920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/749306944396463920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/05/puzzle-oh-elzzup.html' title='Puzzle oh elzzuP'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-4932235070913750660</id><published>2008-05-30T20:41:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T21:23:06.043-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-family: lucida grande;"&gt;"Sekarang lihat di televisi, banyak iklan tentang arti kebangkitan, semuanya pada tidak netral, sangat terlihat membawa maksud tersembunyi, harusnya kebangkitan dan apapun harus diartikan secara netral......" kata seorang dosen filsafat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-family: lucida grande;"&gt;"hidup tuh harus netral g boleh memihak, perjuangan membela rakyat juga harus netral dari segala kepentingan biar tujuan tercapai......."ujar seorang aktivis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-family: lucida grande;"&gt;"hidup itu harus memihak, tidak ada seorangpun di dunia ini yang netral, sekecil apapun pasti ada keberpihakan, entah pada idealismenya sendiri, atau membebek idealisme orang. Idealisme itulah yang memebuat segala yang dilakukan ada ikatan dan tujuan, ada keberpihakan....." ujar aktivis lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0); font-family: lucida grande;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0); font-family: lucida grande;"&gt;    Ehm, tentang keberpihakan?menarik juga dicermati, coz setelah Mift menerima banyak pengertian keberpihakan, akhirnya jadi memikirkan kembali tentang apa yg tlah dilakuin. Harus berpihak atau tidak berpihak???seperti yang mereka katakan tentang netral....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0); font-family: lucida grande;"&gt;    Klo, dipiki2 lagi,Netral sendiri g da batasan yang jelas, Sering Mift nanya balik tentang netral ke mereka yang berkoar kudu netral,dan masing2 dari mereka memberi pengertian yang beda, bukankah hal itu juga "netral"(maksud disini, ada keberpihakan arti menurut apa yang jadi idealisme mereka, weaakkks). Masalahnya bukan pada harus berpihak atau tidak, tapi apakah salah dengan keberpihakan itu sendiri, selama ini masih rancu, akan berpengaruh juga pada tindakan kita. :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-4932235070913750660?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/4932235070913750660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=4932235070913750660' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4932235070913750660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/4932235070913750660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/05/sekarang-lihat-di-televisi-banyak-iklan.html' title=''/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6295111112071507211.post-339243763164266676</id><published>2008-05-02T14:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-02T14:24:53.631-07:00</updated><title type='text'>Ta'aruf</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold; font-family: verdana;"&gt;Assalamu'alaikum...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;salam kenal untuk semuanyah, terima kasih telah bergabung ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;disini saya berusaha berbagi tentang segala sesuatu dengan kalian...saling memberi dan menerima ilmu,..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-weight: bold;"&gt;Semoga apa yang kita lakukan diridhoi olehNya....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;Wassalamu'alaikum....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6295111112071507211-339243763164266676?l=miftaharrahmah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/feeds/339243763164266676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6295111112071507211&amp;postID=339243763164266676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/339243763164266676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6295111112071507211/posts/default/339243763164266676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftaharrahmah.blogspot.com/2008/05/taaruf.html' title='Ta&apos;aruf'/><author><name>miftaharrahmah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05995188643580175906</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_0dCz2F87oik/SzMBOGyjqBI/AAAAAAAAAEY/AVkVHh7TVG0/S220/Untitled-3+copy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
