Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2008

Tanganku sudah bergemetar untuk menulis, namun otakku serasa berat untuk memuntahkan unek-unekku yang terpendam di kerak mampatnya pikiran. Aku bukanlah orang yang terlalu sadar untuk menuliskan segala kejadian, segala peristiwa yang selalu memacu adrenalinku untuk berontak, meski hanya sebuah berontak dalam kesunyian.
Perkenalkan namaku Tegar, begitu namaku kerap dipanggil, tentunya orang awam akan langsung mengira aku berjenis kelamin laki-laki, namun sejatinya aku adalah perempuan tulen, nama lengkapku Tegarwati, hingga kini aku belum bisa mengerti mengapa orangtuaku menamai dengan nama yang menurutku begitu ambigu. “Supaya kau selalu tegar,”kata ibu, selalu engan jawaban sama, tidak kurang, tidak lebih, padahal bukan jawaban seperti itu yang kumaksud, tidak berhenti hanya sampai disitu, tapi lagi-lagi jawaban Ibu akan selalu sama. Aku sampai malu ketika banyak orang memanggil nama yang berkesan maskulin itu. Banyak teman-teman sekolahku yang sering meledekku, lalu seperti biasa aku akan pulang dalam keadaan menangis dan kemudian Ibu dan Bapak akan bergilir memberikan petuahnya. Namun, lambat laun aku tidak malu lagi dan semakin merasa bangga dengan nama “Tegar’’.
“ibu..ibu, harusnya dari dulu aku tidak selalu mengeluh,harusnya aku berterima kasih pada Ibu,pada Bapak,”desahku lirih,tiba-tiba sosok orangtuaku menjelma nyata dalam imaji pikirku, bila sudah begini dada ini menjadi terasa sesak oleh deburan rasa yang berkompilasi, membentuk tatanan mozaik yang tak beraturan, hingga aku kesulitan untuk menata setiap rasa yang sulit kuterjemahkan.
Bagiku Ibu adalah superwomen, bagaimana beliau mampu berkiprah dalam masyarakat hingga sangat disegani warga, membuatku selalu tersipu karena pujian orang kampung terhadap diriku gara-gara aku adalah anak Ibu, meski begitu beliau tak pernah melalaikan perannya sebagai Ibu, selalu hingga aku terlalu bingung untuk mengalirkan kelebihan aliran listrik kasih sayangnya. Perjuangannya melawan stroke yang terus menggerogoti tubuhnya selama hampir 2 tahun tepat beberapa hari ssetelah kematian Bapak, semakin mengukuhkannya sebagai Superwomen hingga akhir hayatnya.
Sekarang, bagaimana Ibu akan bertanggung jawab atas kerinduan yang sangat dalam di relung hati ini, seperti kapal yang terombang-ambing di lautan luas, tanpa harapan untuk berlabuh, karena dermaga takkan lagi nampak, lalu bagaimana rindu ini secara nyata akan kulabuhkan, dan iblis dalam hatiku akan berteriak semangat mengutuk”Salahkan Tuhan, Tuhan never bless us..”… lalu sisi hati lainnya akan cepat menyela”Gila!!!.. terlalu picik untuk menyimpulkan dengan kalimat kotor itu, aku tidak akan atheis karena masalah ini, bukankah Tuhan akan memberi cobaan bagi hambaNya yang beriman, toh seharusnya yakin bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambaNya.
Brakk!!! Sudah cukup! Urung kulanjutkan perdebatan batin ini. Tanpa sengaja tanganku telah menggebrak meja. Sesaat aku menjadi point of interest, semua menatap bengis padaku, tatapan yang mampu merobek mental sisi sutra hati wanita, Wajar saja karena aku sedang berada di tempat yang seharunya hening, tepatnya di sebuah ruangan perpustakaan pusat Kampus. Tempat yang kunobatkan senagai tempat nongkrong favoritku. Entahlah disini, aku bisa jauh berkontemplasi, membuang jauh kepenatan, hingga terkadang bisa jadi aku hanya bengong, mengamati suasana disekitarku duduk tanpa membaca buku satupun, heran…
***
Sudah hampi 4 jam aku disini, pantatku serasa terbakar, aus bergesek dengan kursi kayu tua perpustakaan ini. Namun sampai sekarang ide tulisan masih enggan muncul.
“Tegar..Tegarwati, mengapa sih nulis saja susahnya minta ampun”racauku gusar. Sebentar lagi limit waktu akan berakhir, yah…aku terbiasa memberi batas waktu untuk memunculkan dan menentukan ide sebelum menulis.
Mataku sepat sedari tadi menekuri kertas putih yang sudah penh dengan coretan abstrak nyaris tanpa tulisan satu hrufpun. Kualihkan pandangan keluar jendela, langit mulai menampilkan warna lembayung senjanya bertabur siluet kawanan awan, kualihkan pandangan ke dalam ruangan, seperti biasa hening, lengang, hanya satu,dua orang yang singgah ke ruangan ini, suasana yang mengingatkanku pada kuburan, mungkin itu menjadi salah satu faktor aku betah singgah berlama-lama disin, sering mengingatkanku pada yang namanya ajal, dengan begitu semangat belajarku akan spontan meninggi, karena sadar limit hidupku di dunia.
“permisi, saudari Tegarwati? Ucap pemuda jangkung di depanku
“Maaf?”tanyaku yang masih terkaget dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba, kebiasaan lagi bagiku. Pemuda itu tersenyum santun, senyum yang bisa dengan mudah membuat simpatik orang.
“Maaf, apakah benar saudari bernama Tegarwati?” lelaki itu mengulang pertanyaannya, mungkin dia paham kalau akun masih belum mengerti dengan maksud peertanyaannya.
“ya benar, anda siapa ya?” aku balik bertanya selidik, kutamati lagi sosoknya, dandanannya rapi dengan pakaian yang casual tapi elegan, wajahnya oval,dengan jambang tipis di dagunya. Sepertinya aku mengenal pemuda ini dan senyum itu juga tidak asing bagiku, tapi kapan dan dimana, aku ragu untuk memastikan.
“aku Ryan, Wati..kau lupa ya, kita sekelas waktu SMP.”ucapnya antusias. Sejenak aku tertegun, Ryan…Ryan, aku terus mengulang kata itu berusaha mengaduk brankas otakku, apakah…
“ooo ya ya, apakah kau Muhammad Ryan?”,
“yup great! Akhirnya kau ingat, aku senang kau tidak lupa seratus persen Wati.” Ucapnya girang, dengan senyum yang kian mengembang, semakin menampakkan deretan giginya yang putih.
Sekilas aku tersipu, dan semakin malu jika aku sadar siapa yang berdiri dihadapanku sekarang. Bagaimana aku bisa melupakan sosok Muhammad Ryan, dia dulu teman satu gengku waktu SMP, satu-satunya teman laki-laki yang memanggilku Wati, sosok yang periang dan selalu tersenyum dalam keadaan apapun, tapi aku sedikit menyadari hal baru pada dirinya, penampilannya yang kini jauh berbeda, bukan lagi Ryan dengan tubuh tirus kurunya, hingga julukan kerangka berjalanpun disandangnya.. Ah segala sesuatunya bisa berubah Tegar, ucapku dalam hati.
“halo Wati, kok bengong?” ucapnya membuatku tersentak kaget,
“oh, maaf..aku bengong lama ya?” ucapku salah tingkah.
Kali ini aku gagal lagi untuk tidak menampakkan ketersipuanku, Ryan pastilah hafal tingkahku yang satu ini, pipiku akan merona merah jika aku tersipu dan marah.Seperti dulu, pastilah puas melihat tingkahku ini. Tapi ternyata tidak, bahkan ia sama sekali tak menatapku, pandangan wajahnya mengarah ke depan tapi sorot matanya tak tertuju padaku.
“Kau masih sama ya Wati, meski semua mengalami proses, aku harap kebiasaanmu yang unik tak banyak terhapus” ucapnya menekankan,
“Eh, ternyata kau kuliah disini juga ya, sudah lama ya gak ketemu”ucapku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, masih terheran dengan sosok Ryan yang begitu baru menurutku, gaya bicaranya mengingatkanku pada teman-teman laki-laki di Sie Kerohanian Islam.
‘’iya, hampir 5 tahun, kau susah sekali dihubungi, nomor hpmu ganti ya?’’
‘’Oh maf, hpku hilang saat pertama masuk SMA, aku kehilangan nomor kontak semua teman-teman, kau tahu sendirikan, daya ingatku sangat payah apalagi aku pindah keluar kota’’ ucapku panjang lebar
‘’ooo, begitu”jawabnya singkat.
Siang itu menjadi hari yang anomali buatku , aku tak menyangka akan bertemu teman lamaku di tempat ini, lama kami membincangkan kisah diri satu sama lain.Jikalau terdapat taman dalam hati ini, pastilah hatiku sudah penuh dengan beragam bunga. Meskipun pertemuan kami singkat, tapi sungguh berkesan, ia memastikan akan bertemu lagi.’’Mungkin kau akan sering kuhubungi, kita pasti akan bertemu lagi, aku tidak ingin kehilangan sahabat lama lagi.’’teriaknya sambil lalu.
***
Everyday is sameday, setiap hari adalah sama bagiku,rutinitas yang membuatku semakin muak, pagi kuliah, lalu tugas menggambar yang akhirnya memaksa mata dan tanganku begadang setiap malam, tapi anehnya aku tetap setia menjalaninya,’’Bukankah ini adalah konsekuensi sebagai mahasiswa…’’bisik hati kecilku memprotes mengingatkan,’’Yah tentu saja..”desahku lirih. Kuliah dan masuk jurusan arsitektur adalah impianku sejak SMP, itu artinya keputusan ini sudah kurencanakan sejak lama, bukankah segala sesuatu ada konsekuensinya, ada h8ukum kausalitas terhadap segala sesuatu,’’Tenang Tegar, masalah ada untuk diselesaikan, dan masalah itu akan selesai jika kau tidak lagi menjadikannya masalah. Kau haruslah tegar.’’ucap batinku meyakinkan.
Pagi ini kulangkahkan kakiku mantap meski dengan sedikit paksaan pada awalnya. Sengaja aku berangkat lebih awal, agar lebih bisa menikmati setiap langkah kaki yang kudaratkan, meresapi tanjakan yang berirama, menghirup dengan puas hawa yang masih suci polusi. Lalu perjalananpun memasuki sebuah gang kecil berbentuk lorong panjang, lorong yang menghubungkan jalan raya kampung dengan kampus, jika dinilai lorong ini tak terhitung jasanya, dengan adanya lorong ini kami, para mahasiswa yang kos di daerah samping kampus tak perlu berjalan berkilo-kilo untuk sampai ke kampus.
Kutamati dinding lorong ini, beragam corak gravity hampir penuh menghiasi dinding yang catnya tak lagi terawat, seperti biasa aku akan berhenti sejenak, meluangkan sedikit waktu menikmati setiap keunikannya, mencoba memahami spirit dari apa yang ingin disampaikan .
‘’Yaah…belum ada yang baru rupanya’’,
‘’eh..’’ucapku kaget, ternyata ada orang dibelakangku, suara laki-laki. Kutolehkan badan, laki-laki itu mematung, matanya begitu serius mengamati gravity dihadapannya, sampai begitu serius hingga tak menghiraukan aku yang mulai menamatinya.
‘’Ryan…’’ucapku menyapa heran, heran entah mengapa, mungkin untuk kedua kalinya Tuhan mempertemukan kami di sudut labirein yang sama, tanpa terduga. Beghitulah Sang Maha, atas kekuasaanNya labirin akan menjelma menjadi jalan yang lurus. Laki-laki yang kusapa Ryan itu menoleh kearahku dengan ekspresi kaget, lalu ekspresi mukanya berubah dengan cepat, seperti biasanya ia akan langsung mengulum senyum, perangainya yang cepat menguasai keadaan masih belum berubah.
“oh Wati..kau lewat sini juga rupanya’’ucapnya sedikit heran
‘’iya, aku ke kampus jalan kaki’’,
“Kosmu dekat sini ya?’’tanyanya kemudian,
‘’iya, lumayan sih kurang lebih ½ kilo dari sini, la kamu?’’
‘’Aku kontrak di belakang kampus bareng temen kampus, kebetulan kemarin malem aku nginep di rumah temen dekat sini, biasalah tugas kuliah,’’ ucapnya menjelaskan
Suasana sejenak menjadi hening, masing-masing dari kami tak lagi melontarkan pertanyaan, aku tidak terlalu lihai berbasa-basi, sementara Ryan yang kukenal hanya kan bertanya jika dibutuhkan saja. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi kami, sering dulu juga seperti ini, hanya saja kondisi sekarang yang berbeda, tidak sekaku ini, maklum kami lama tidak bertemu.
‘’Kamu suka Gravity Wati?’’ tanyanya memecah hening.
Sebatas penikmat, aku kurang mahir di seni ini.’’
‘’ooo’’jawabnya singkat, sembari kembali menekuri garvity di depannya.
Suasana sejenak kembali hening.

‘’Ini yang kusuka dari seni’’ucapnya tiba-tiba.
Yang kusuka dari seni? Tanyaku dalam hati,kutatap sosoknya tak mengerti.
‘’Karya seni seperti lukisan, gravity atau yang lain, memberi kesempatan pada penontonnya untuk menginterpretasikan maksud yang ingin disampaikan pembuatnya.’’ucapnya kemudian.
“iya, justru karena itulah seni bernilai abstrak, membuatnya menjadi seperti sosok yang tidak sombong dan terkesan kmpromistis…”ucapku, ikut mengomentari pembahasan Ryan tentang seni.
Suasana kembali hening. Ada rasa kecewa yang sekilas terbesit di hati, karena aku pikir Ryan akan langsung mengomentari ucapanku. Kulihat lagi sosoknya yang tak bergeming hanya anggukan kepala, entah apa maknanya.
“Kau aktif di BEM?’’tanyanya tiba-tiba.
“Aku?”tanyaku ragu,
“Ya iyalah, manusia yang disinikan cuma kau dan aku, masak aku tanya sama rumput.”ucapnya sambil tertawa, memecah kebekuan yang kurasakan. Seperti tersihir, akupun ikut tertawa, dari dulu aku suka tawa Ryan, bukan bermaksud apa-apa, tapi tawanya begitu jujur, hingga orangpun akan tersihir tertawa bersamanya.
“Enggak, tugas gambar sudah sangat menyita waktu, lagian aku sudah ikut HMJ dan lembaga pers kampus.”
“Wah keren, kalau aku dari awal menjadi mahasiswa aktif di Sie Kerohanian Islam kampus,”ucapnya menjelaskan
“ooo, di SKI, hampir separuh teman sekelasku ikutan aktif disana.”
“Kau tidak Wati, Why?”tanyanya heran
“ehm, karena…”urung kulanjutkan alasanku, mengapa segala sesuatu harus beralasan,desahku dalam hati.
“apa karena kau tidak berkerudung atau merasa belum sempurna, itu tidaklah menjadi masalah Wati, kau percayakan kalau segala sesuatu berproses, tidak harus terlebih dulu sempurna untuk masuk SKI, justru karena ketidaksempurnaan itulah kita bersama-sama belajar.”
“Iya Ryan, aku paham itu. Proses ada pada diri kita masing-masing, hanya saja aku tidak terlalu suka terikat dengan hal seperti itu…”ucapku menggantung,
“Maksudmu terikat dengan apa?”tanyanya selidik,
Aku berpikir sejenak, mencoba meramu kata sehingga berharap tidak ada pertanyaan lagi setelah penjelasanku ini. Tapi haruskah aku jujur, menyatakan yang sebenarnya yang mungkin pula menambah panjang daftar pembicaraan ini.
“Aku ingin memulai pencarian dari nol, pencarian jati diri, pemahamanku tentang alam semesta dan kehidupan ini, aku hanya ingin memiliki kesadaran berpikirku sendiri Ryan, kesadaran yang hanya bisa terwujud jika dogma itu nihil.”ucapku menjelaskan, mencontek pemaparan dosen filsafatku, meski aku sendiri belum terlalu mengerti yang kuucapkan barusan.
“Dogma? Apa kau pikir Islam adalah ajaran dogmatis?”
Kali ini aku seperti terdakwa di pengadilan, pertanyaannya bertubi-tubi menghujam kepalaku.
“Baiklah Wati, mungkin aku tidak terlampau mengerti, tapi mungkin kau butuh proses untuk menjawab itu semua.”ucapnya sembari melirik hpnya.
“Oh ya Wati, aku pamit dulu ya, harus buruan ke kampus nih, semoga sukses dengan pencariannya, Salam” ucapnya sambil lalu meninggalkan diriku mematung di lorong ini.
“Wassalam,”ucapku lirih, menatap sosoknya yang berangsur menghilang dari pandangan.
“Astaga” aku tersentak kaget, sesaat setelah kesadaranku berangsur pulih 100%, sengaja kulihat jam di hpku, waktu berjalan melenggang dengan santainya, sementara itu, kaki kecilku ringkih berjingkatan, berlari keluar dari lorong panjang ini, karena 5 menit lagi kuliah pertama dimulai.
***
Kurebahkan dengan kasar punggung ke sandaran kursi studio yang empuk, mencoba memejamkan mata barang sejenak, setelah hampir 4 jam menekuri gambar yang setengah selesai didepanku, masih ada waktu 4 jam lagi untuk segera menyelesaikan desain gambar ini. Kuhirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, merasai gelitikan dinginnya buliran keringat yang membasahi tubuh.
Sudah 2 tahun aku kuliah di jurusan arsitektur ini dan selama iitu pula aku mencoba bersahabat dengan mata kuliah yang banyak membuat diriku insomnia, hal yang sama sekali tak kuduga sejak dulu, bersahabat dengan suasana studio yang pengap dan panas karena salah desain. Berakali-kali aku melaporkan keadaan studio gambar dan penghawaannya yang mirip efek rumah kaca,dan berkali-kali pula pihak dekanat juga menolak rearrange ruang dengan alasan belum ada dana.
Belum ada pendanaan?tanyaku sinis, Ruang studio adalah tempat yang sangat urgent bagi mahasiswa arsitektur, karena mayoritas kegiatan gambar-menggambar kami lakukan disini,lalu bagaimana kami bisa maksimal bekerja dengan kualitas ruang dan peralatannya yang serba minimalis, jeritku dalam hati, selalu begitu, jeritan yang berontak dalam kesunyian, karena lidahku begitu kelu ketika beradu argumen dengan pihak dekanat.
Aku beringsut bangun, menegakkan kembali badanku,kurentangkan tangan keatas sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan lagi. Letih ini sudah hampir berhasil menguasai tubuhku, otakku bekerja keras melawan kondisi yang tak seharusnya datang. Ruangan mulai tampak lengang, satu persatu teman-teman meninggalkan ruangan, tinggal aku dan segelintir temanku, kalau sudah begini, pikiran harus terus fokus meski sejujurnya jantungku berdegup tak karuan karena masih ada pekerjaan desain yang urung juga kelar.
Kubuka buku agenda kecilku, satu-persatu lembaran kubuka,sederet agenda mulai dari rapat, menghadiri seminar, kunjungan ke pameran, dan seabrek kegiatan lainnya. Senyumkupun tersimpul bangga, yah setidaknya aku punya cukup banyak agenda hidup yang lain selain jadi kuli gambar.sorak batinku gembira. Tidak sedikit mahasiswa yang menggadaikan kegiatan sosial mereka untuk segera meraih gelar sarjana. Hingga kini aku masih percaya bisa meraih keduanya, meskipun urun tenaga ekstra.
“Gar, aku duluan ya, dikau belum kelar juga?”ucap Saras, temanku.
“Wah belum kelar nih, tinggal dikit lagi, duluan saja.”ucapku sambil tersenyum, terlihat dipaksakan memang. Bagaimana lagi, karena itu berarti sekarang tinggal 4 orang di studio ini, suasana juga semakin sepi, menambah kencang degup jantungku. Ya tuhan tolong bantu aku mempercepat pekerjaan ini.Cuih, jika dalam kondisi terdesak minta tolong, kau ingat pada Allah Tegar, protes hati kecilku. Yah pada siapa lagi, Presiden atheispun ketika benar-benar dalam keadaan terdesak, dalam keadaan zero mind pun akan spontan menyebut Tuhan. Itu alamiah bukan?
***
“Akhirnya selesai juga,”ucapku samil neregangkan tangan keatas. Ada kepuasan tersendiri setelah berhasil menyelesaikan karya sendiri, hingga pegal dan capai menjadi tak terasa. Perkara besok karyaku dibantai dosen adalah urusan belakangan. Aku akan memuaskan diri untuk menikmati karya-karyaku. Memang, kondisinya akan paradoks jika sudah berurusan dengan pandangan dosen.Kebanggan dan kepuasan awal bisa berubah 180 derajat mkenjadi kekecewaan dan rasa gagal akhirnya.


Bersambung…

REKAMATRA

Sebuah ruangan berkonsep Open Plan, berisi banyak ruangan yang tersekat menggunakan Whiteboard. Jam dinding menunjukkan waktu dini hari, waktu pelepasan penat para manusia, waktu para roh pergi mengembara menuju Peniupnya, hanya saja kali ini adalah anomali bagi 2 karyawan yang mulai lembur di blok sudut ruangan. Gemerutuk tuts keyboard mereka berkompilasi apik dengan detakan jam dinding,menciptakan konser malam yang eksotis, menggema merajai malam.
Sementara lagu Homenya Michael Buble terdengar samar dari sebuah ruangan masif diujung ruang kantor, mengalun menciptakan konser tunggalnya. Terlihat didalamnya,seorang wanita muda, berjalan menuju double glass fasad ruangan, menyibakkan tirai yang menutupinya, hingga tampak jelaslah pemandangan luar, beragam bangunan menjulang bak tumbuhan tinggi yang berlomba menggapai Matahari. Lama menekuri pemandangan di depannya,sang wanita mendongakkan kepalanya,hingarnya cahaya kota membuatnya dan mungkin seluruh penduduk di kota ini tak kuasa menikmati gemerlapnya cahaya bintang di malam hari.
“benar-benar kota yang angkuh.” Ucapnya dingin sambil menutup kembali tirai yang belum lama ia sibakkan.
Si wanita berjalan gontai, menuju meja kerjanya. Tubuhnya menghempas kasar pada sebuah kursi putar di sebalik meja. Wanita itu mencoba memejamkan mata yang kian terasa panas, setelah hampir 15 jam dipaksanya untuk bekerja, baginya keletihan fisik hanya ganjalan sesaat ,resiko yang ia sadari betul. Bagaimanapun ia harus profesional, haruslah menjadi wanita karir yang sukses, terlebih didepan para jajaran yang mayoritas adalah laki-laki. Perlahan,ia bangkit dari sandaran, meraih plat nama di ujung mejanya.
“Intan setia, wakil direktur,”ejanya angkuh.
Ia pandangi seluruh detail ruangan. Ruangan para petinggi, klas VIP, di dalamnya seperangakat sofa empuk bertengger di sudut kanan ruangan, lalu perabot modern yang ia desain ulang, dipadu dengan langgam etnik Jawa, sesuai seleranya, Warna dinding coklat susu, sengaja ia padukan dengan furniture, menciptakan harmoni rasa, keselarasan tampilan. Benar-benar ruangan yang berwibawa ditambah predikat wakil dirut yang disandangnya, membuatnya menjadi sorotan utama di perusahaan ini. Seorang wanita dalam usia 30 tahun sudah berhasil memegang jabatan ini, sungguh prestasi yang membanggakan baginya. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya, hingga nampak jelas lesung pipitnya, membuat wajahnya yang ayu menjadi tambah ayu. Sebuah senyuman yang hanya ia sendiri tahu maknanya.
Tiba-tiba pandangannya beradu dengan sebuah foto yang terbingkai apik di sudut mejanya, bingkai mungil yang tersembunyi disamping kertas kerjanya yang menggunung. Ia menatapnya lama, tangannya meraih bingkai foto dan mengusapnya berulang seolah berusaha membersihkannya dari debu yang menempel kuat. Matanya mulai berkaca-kaca, menciptakan riak gelombang yang enggan tumpah, entahlah, dirinya sungguh enggan untuk kembali menangis, menangisi sebuah lini hidupnya yang buram, tak seindah perjalanan karirnya yang melangit. Dahinya berkerut, senyuman yang tadinya merekah tiba-tiba lenyap tanpa jejak, menampakkkan rona yang sama sekali baru, gurat kesedihan kian nampak di wajahnya.Batinnya berkecamuk, ketaksingkronan akal dan suara hati dalam dirinya kembali muncul. Sebuah keadaan yang hingga kini berkali-kali ia cari penangkalnya, dan berkali-kali juga ia gagal. Melihat foto ini, mengingatkannya pada babak sakral hidupnya yang di ujung tanduk. Tangannya masih saja meraba kaca bingkai, terpampang disana foto suami istri dengan seorang bayi dalam dekapan Ibunya, mereka semua tertawa bahagia, terlebih si balita dengan tawanya yang menggemaskan ditambah lesung pipit menambah keelokan diwajah imutnya, sebuah tawa yang nampak lepas tanpa dosa. Namun itu momen 6 tahun silam, saat riak gelombang belum kuat menggoncang bahtera, saat nahkoda kapal dan awaknya masih saling percaya dan mengerti.
“Farah, sekarang kamu pastilah sudah besar, bunda kangen, Nak” ucapnya lirih,
Hah, kangen, bukankah kau yang memilih jalan ini Intan, apa kau amnesia, kau sendiri yang memutuskan mengakhiri ikatan sakral yang begitu menjerat sisi kebebasanmu. Bukankah kau dari awal menjalaninya karena terpaksa…suara batinnya menggema.. tak terasa buliran air mata mengucur deras membasahi pipinya.
“iya..iya kau betul, memang aku yang memutuskan semua ini, tapi …” ucapnya getir. Urung ia lanjutkan kata-katanya, terdengar suara pintu diketuk. Cepat-cepat ia benarkan posisi duduknya sambil ia hapus air mata yang menempel pekat, bersatu dengan sisa make upnya. Pastilah itu karyawan yang menyerahkan pekerjaan lemburnya, lalu ijin pulang. Ia tak mau, karyawannya melihat keadaannya saat ini.
“Masuk,”ucapnya dengan posisi duduk membelakangi meja.
Terdengar pintu berderit, sepasang laki-laki berjalan perlahan mendekati meja si wanita, yang tak lain atasan mereka.
“Bu Intan, kami sudah selesai, ini pekerjannya,” ucap salah seorang diantara mereka.
“yah, taruh saja diatas meja, kalian boleh pulang,”ucapnya sampil melayangkan tangan, kode agar mereka segera beranjak pergi. Seperti pasukan, mereka bergerak bersama, patuh ikut aba-aba pimpinan.
“dasar,tentu saja kami akan pulang, lembur inikan maumu, memang kami workaholic apa,” seorang dari mereka bergumam lirih
“tunggu,” suara Intan menggema, menghentikan tapak kaki mereka, yang mulai melangkah pergi.
Bagai tersengat listrik, mereka berhenti, berdiri kaku, dengan suara gigi yang bergemerutuk, tubuh mereka berguncang, bulu kuduk mereka berdiri. Batin mereka berkecamuk, menduga apakah atasan mereka mendengar gumaman tadi. Kali ini tampang mereka persis maling ayam yang ketangkap warga, siap untuk disidang massal.
“Oiya, salam buat keluarga di rumah,” ucap Intan ramah.
“Iya Bu, terima kasih,”ucap mereka serentak, ada perasaan lega tersembul, lalu mereka terus berjalan ke luar ruangan, sambil membawa segudang perasaan aneh tentang atasannya. Meraka pikir sudah sangat mengenali atasannya, tapi ternyata tidak, wanita itu memiliki beragam teka-teki yang sulit ditebak.
“Wanita aneh,”gumam seorang dari mereka sambil menggelengkan kepalanya heran.
Intan, sang direktur masih saja menekuri foto didepannya, foto yang selalu menemaninya menghabiskan hari di kantor ini. Sejak beberapa tahun terakhir setelah babak kelam kehidupannya dimulai, dirinya sering menghabiskan waktu seharian di ruang ini, seperti orang yang homeless, tunawisma. Lebih baik baginya menghabiskan waktu untuk kerja di kantor ini, daripada pulang ke rumah yang tidak menyiratkan kehangatan sama sekali. Rumah megah itu kini kosong tak berpenghuni, sejak mereka, dirinya dan suaminya memutuskan pisah rumah 6 tahun lalu, tepat 6 bulan sejak kelahiran anak pertamanya. Ia memutuskan tetap tinggal di rumah megah itu, sementara dirinya merelakan suaminya pergi dan membawa serta anak mereka. Intan berjalan gontai menuju sofa, merebahkan tubuhnya yang sudah tak berasa letih, karena bebalnya. Lemat-lemat pandangannya mengabur menjadi abu-abu, dan kemudian kegelapan menyelimuti pandangannya.
***
Prang.suara piring yang dibanting, mencipta gema di sebuah ruangan besar. Sebuah rumah megah di pusat kota. Piring itu melayang, berjatuhan mengalunkan irama yang mengiris jiwa. Berkali-kali terdengar teriakan wanita dan laki-laki yang beradu mulut. Si wanita histeris, si laki-laki mengeluarkan suara bassnya dengan kuat. Perpecahan yang kerap terjadi. Untunglah rumah itu terletak di kota, dengan kekerabatan penduduknya yang minim, beruntung rumah itu tidak terletak di desa. Pastilah setiap hari, tidak siang, tidak malam, menjadi tontonan warga desa.
“Aku sudah jenuh padamu mas, kau egois,selalu mengekang keinginanku, selalu kau kritik apa yang kulakukan,” ucap si wanita berteriak.
“keinginan apa heh, apa kebebasanmu yang keblabasan. Ingat tan, kita sudah menikah, ada Farah yang butuh perhatianmu,” ucap si laki-laki tak kalah keras.
“oo, jadi mas menyalahkan aku, sementara mas kerja seharian dan aku di rumah ngurus Farah. Aku kerja juga buat anak kita, harusnya mas juga pengertian dong, gimana sih,”
“ Kau tahu hidup kita tak kekurangan materi, ah…sudahlah aku malas berdebat denganmu, atau mungkin kau menyesal melahirkannya, menghambat karirmu, iya?!” ucap si laki-laki lagi sambil menudingkan tangan ke arah wanita yang berdiri di depannya.
Tiba-tiba suasana menjadi sunyi, masing-masing dari mereka diam, tak bicara, saling bersingkuran. Ada panas yang menggelegak dalam hati si wanita, hingga ia tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan laki-laki yang tak lain adalah suaminya. Bagaimana ia harus menjawab, meski semuanya tak sepenuhnya benar, tapi memang begitu adanya. Dulu ia pikir pernikahan bisa menentramkan jiwa, lama-lama jiwa kefeminisannya berontak mencari celah bebas dari perubahan rutinitas yang disandangnya, seorang wanita muda dengan karir yang menanjak, harus bermetamorfosis menjadi Ibu rumah tangga seperti yang diidamkan suaminya. Jujur, egonya terlalu besar untuk ikhlas menerima, meski dengan hadirnya Farah dalam kehidupan mereka. Mengapa Farah harus jadi hambatan?Benarkah ia seorang Ibu dan istri yang kejam?
Akhirnya pertengkaran itu selesai seperti biasa, tanpa solusi, menyisakan kebungkaman yang menyakitkan hati kedua belah pihak.Si wanita berjalan gontai menuju kamar kerjanya. Setumpuk pertanyaan memenuhi brankas otaknya, Lalu bagaimana sebenarnya berperan menjadi seorang Istri dan Ibu yang baik?bukankah apa yang kulakukan sudah benar, aku melakukan apa yang menjadi perjuanganku hingga kini, sebagai pejuang feminis sejati. Harusnya ini berjalan layaknya penyelesaian seperti yang kerap ia baca di buku tentang peran sejati wanita. Diraihnya buku di rak almari, sebuah buku berjudul ‘ Aktifitas Feminis sejati’, seperti kerasukan setan, ia lempar kasar buku tersebut ke lantai, ia comot lagi sebuah buku berjudul ‘Perjuangan Kesetaraan Jender, Kebahagiaan Sejati Seorang Wanita’, tangannya mengusap berkali-kali buku yang dipegangnya dan membanting kasar ke lantai. Hingga akhirnya Ia robohkan tatanan buku di depannya yang tersusun rapi. Wanita itu mengacak rambutnya, menjambaki tak beraturan. Sementara ,samar terdengar deru mobil dari luar, deru mobil yang ia kenal betul, suara mobil suaminya. Bergegas ia menghampiri jendela kamar, terlihat suaminya mengepak barang di begasi mobil, dengan menggendong seorang anak. Sadar akan apa yang dilihatnya, ia mengambil langkah seribu, tak peduli apa yang dihadapannya ia terjang, hingga tersungkur berkali-kali karena tak menghiraukan pile lantai.Namun terlambat baginya, mobil sudah keluar dari pagar rumahnya. Langkahnya mendadak berhenti, tercekat di pintu rumah sambil terus memandang mobil yang mulai hilang dari pandangan. Ia tahu, mengejarnya adalah suatu hal yang utopis. Ia sadar, mulai detik ini ia akan kehilangan kedua jantung hatinya, untuk pertama kalinya menjalani Ramadhan sendirian, hanya dirinya bersama rumah sombong ini.
***
Suara deru mobil masih terngiang di telinganya, kali ini suaranya bergemuruh, ramai membuat bising telinganya. Mata Intan terbuka pelan, ia segera bangkit dari tidurnya, menerawang kesekeliling ruangan, ternyata itu semua mimpi. Ia berjalan menghampiri jendela yang tak tertutupi tirai. Matahari sudah mulai meninggi, sementara deru mobil kian membahana membanjiri kota yang sarat polusi, sepertinya para manusia sudah tak peduli dengan keadaan lingkungan yang kian sekarat. Tentunya mobil itu makin membanjiri kota, terlebih bulan ini bulan puasa, banyak yang tidak mau berpanas-panas ria atau bercapai-capai ria pergi dengan berjalan kaki.Bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, bulan segala ampunan, membasuh jiwa-jiwa manusia yang kotor, kajian yang rutin ia dapatkan di pengajian kantor. Sudah hampir 6 kali ia lewatkan bulan ini sendirian, tanpa keluarga yang utuh. Sungguh ironis memang, di KTPnya jelas tertera statusnya yang tak lagi lajang. Yah, ini memang hukuman bagi dirinya, terlambat mengerti, memahami makna perannya sebagai istri dan Ibu, kesadaran yang muncul selalu ia lindas dengan keegoan diri akan pemahamanharkat mmartabat diri yang keliru. Kesadaran yang kini telah pulih, memperjelas sesuatu yang abu-abu menjadi putih kembali, tak bisa mengembalikan saat-saat itu, saat 6 tahun yang lalu. Intan berjalan menuju cermin besar yang tertempel di dinding, membenahi kerudung dan pakaian gamisnya yang sedikit berantakan. Dua tahun yang lalu ia putuskan mengakhiri perjuangannya yang keliru, jauh menyimpang dari jalan kebenaran, meraih kebenaran lain yang menjanjikan kebahagiaan haqiqi. Meski berproses tertatih, tapi dirinya begitu menikmati guyuran iman yang merasupi jiwanya yang tlah lama gersang. Ia pasrah jika tiba-tiba sebuah surat cerai sampai ke tangannya. Berkali-kali ia hubungi nomor suaminya, tapi berkali-kali juga tak ada tanggapan.
“Semoga mas mendapatkan seorang istri dan Ibu yang baik buat Farah,”gumamnya lirih.
Hari ini, keputusannya sudah bulat, mengakhiri sesuatu yang dulu begitu diperjuangkannya. Sebuah surat pengunduran diri sudah ia layangkan seminggu yang lalu ke tangan dewan direksi, hari ini waktunya mengemasi barang-barangnya. Berpasang-pasang mata mulai mengamati tingkahnya dari pintu yang dibiarkan terbuka. Sepertinya mereka sadar, akan kehilangan atasan yang memiliki dedikasi tinggi, meski terkadang pola kepemimpinannya kurang begitu mereka sukai.
Setelah selesai mengepak barang dan berpamitan pada atasan dan karyawannya,bergegas ia menuju basement dan memacu mobilnya pergi meninggalkan kantor ini, pergi dan tak kembali. Belum lama ia mengemudikan mobilnya, sebuah mobil Mercy hitam mengklaksonnya berkali-kali dari belakang. Bukan malah berhenti, Intan semakin mempercepat laju mobilnya. Mungkin orang iseng pikirnya, toh ia tak berbuat salah, dasar orang aneh, masih saja mengklakson. Bulu kuduk Intan semakin merinding, mobil itu masih saja membuntutinya, kali ini laju Mercy hitam meninggi, hingga mampu menyalip mobilnya.Perlahan Intan menghentikan laju mobilnya, menepi. Segala pikiran buruk coba ia tepis.Tangannya berkeringat dingin, mengumpulkan mental untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Mobilnyapun berhenti, begitu juga mobil mercy hitam di depannya yang juga ikut berhenti. Kali ini keberaniannya memuncak,paling tidak ia harus menyelesaikan tindakan konyol pengemudi Mercy urakan itu, pikirnya. Untungnya sewaktu kuliah dulu, dirinya ikut UKM beladiri. Paling tidak ada sebuah perlawanan berarti meski akhirnya harus kalah.
Intan keluar dari mobilnya, berjalan mendekati Mercy di depannya. Langkahnya tiba-tiba terhenti, seorang laki-laki berpakaian kasual keluar dari mobil itu.Mata Intan terpana, terpaku akan sebuah pemandangan di depannya.
“Assalamu’alaikum, Farah merindukan bundanya,” ucap laki-laki itu sambil merangkul bahu seorang anak disampingnya.
Buliran airmata membasahi pipi Intan, ia ingin mengucapkan sepatah kata kerinduan,lalu menghambur ke pelukan orang yang dicintainya.
“Ayo, Farah, panggil Bunda untuk pulang,”ucap laki-laki itu sambil menuntun maju anak kecil yang bernama Farah.
“Assalamu’alaikum, Senora…”ucap laki-laki itu sambil menghapus buliran air mata di pipi Intan.
“Wa’alaikumsalam, Senor,”ucapnya terbata.
Siang itu begitu sejuk bagi Intan. Tak pernah ia rasakan kesejukan siang yang sangat. Jiwanya begitu damai. Berjuta ucapan syukur ingin ia muntahkan pada Sang pembuat matra kehidupan, menciptakan rekamatra kehidupannya yang menakjubkan. Hanya hamburan pelukan yang ia lakukan, menjawab semua rasa yang lama ia pendam. Menghambur kedalam pelukan kedua jantung hatinya.


Dalam ambigu eksistensi diri
Re_

Minggu, 24 Agustus 2008

The Journey

The Journey
Kuterpekur memandang luar jendela bis Sumber Kencono, setelah dari tadi tak kuhiraukan tirai biru yang menutupnya. Mungkin karena ku terlalu jenuh dengan pemandangan dalam bis, terpampang bermacam ekspresi wajah orang, dan sudah puas kutamati semua pandangan yang tertangkap oleh mata. Kebiasaan aneh mungkin, ini sengaja kulakukan agar kesadaranku terjaga, yah agar terus terjaga, sadar bahwa diriku masih ada di dunia, masih bernafas dan menjalani kehidupan hingga detik ini.
Terkadang halusinasi mengajak pikiranku melayang, menentang waktu yang berjalan, menghentikan sejenak dan kenangan itu dengan sendirinya akan muncul hingga flashback waktu itu terasa nyata dan kehidupanku yang sekarang adalah ilusi. Tapi tidak, tidak untuk kali ini, meski itu terkadang menyenangkan, pikiranku masih sehat untuk meraba fakta, mana ilusi dan kenyataan…
Kenyataan……puff, aku mendesah lirih,kutarik nafas panjang mencoba menata setiap tarikan nafas yang tersengal.Kutatap panorama senja, hari kian larut, langit memamerkan gradasi warna lembayung yang memukau, Karya Sang Creator, Sang Painter Agung.
“Ya Allah maafkan hambaMu”ucapku lirih.Maafkan aku…Sungguh maafkan aku Ya Rob ulangku dalam hati.Mencoba memaafkan diri atas kerisauan yang tak beralasan, kegalauan yang jika diteruskan mungkin akan mengantarkan pada sikap kufur nikmat. Sekejap bulu kudukku merinding, membayangkan saja aku ngeri, seorang yang kufur nikmat, semoga tidak menimpaku.
“Persiapan..Palur..Palur..!!”teriakan kernet bis membuyarkan kontemplasiku. Ah sudah sampai Solo rupanya, sekitar 2 kilo lagi akan sampai Sekarpace.Cepat sekali, kulirik jam di hp-ku, sekitar 2jam bis biru ini membawa ragaku jauh pergi meninggalkan kampung halaman menuju kota batik ini, kota yang kupilih sebagai tempatku mengadu ilmu. Padahal baru kemarin pulang, hari ini juga harus kembali, yah sudah konsekuensi, hiburku. Jika boleh mengadu, sebenarnya aku sangat belum puas bercengkrama dengan mereka, para saudaraku tercinta, adik dan kakakku, mereka soulmate yang masih kumiliki..
Mengingat mereka, membuat dada ini sesak. Sudah berapa lama aku tidak melihat mereka seperti dulu saat-saat….ah urung kulanjutkan, memang takusahlah dilanjutkan. Mereka adalah sosok yang terdewasakan waktu, mungkin juga dengan diriku, ah aku benar-benar malu. Ku melihat dan menamati perubahan yang signifikan pada diri mereka, jauh lebih dewasa dan semakin matang dalam pendewasaannya, hingga aku merasa mereka adalah alien di rumah tua kami atau mungkin aku yang terlalu shock akan realitas yang terus berubah.
Kumencoba mengingat peristiwa yang lalu, mecoba mengambil beberapa mozaik yang telah tertata, untuk sekilas mengenangnya. Waktu dimana aku memiliki keluarga yang lengkap, mungkin keharmonisannya akan membuat banyak keluarga lain iri. Bagiku saat-saat itulah kehidupan.Ketakutan bagiku adalah jika kelengkapan itu hilang, lalu bagaimana jika……Tidak, ah tidak mungkin, Allah tidak akan begitu tega melakukannya. Hai manusia bodoh, kenapa tidak, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin atas kuasaNYa, sudut lain brankas otakku bicara.
Aaaaagghhh…hingga kemungkinan itu terjadi aku masih bisa berteriak mengelak, tidak bukan mengelak,lebih tepatnya lari dari kenyataan. Saat-saat itulah diriku bermimikri menjadi pecundang sejati, mencoba lari dari kenyataan, kenyataan yang mengantarkan pada perubahan pada diri kami, perubahan yang kubenci, perubahan yang mengantarkan pada ketidakpastian…anggapanku kala itu.
Kami ibarat ABK di dalam kapal tak bernahkoda. Hanya ada tiga pilihan yang bisa kupikirkan, membiarklan diri kami terombang ambing terbawa arus tanpa tujuan, memilih menceburkan diri ke laut atau masing-masing diri belajar keras menjadi nahkoda yang handal. Lalu kamipun berproses menjadi pilihan ketiga. Dulu aku adalah pemuja kestatisan, karena bagiku statis itu indah……”biarlah waktu berhenti pada kebersamaan itu sempurna bagiku”. Tapi bagi diriku yang merasai hidup, ketika ku mencoba berkenalan dengan kehidupan lebih jauh, mencoba menempatkan akal diatas perasaan. Kehidupan mengajarkan padaku bahwa perubahan itu nyata, pengalaman empirikku bergerak, bagai film dokumenter perjalanan kehidupan seorang “DIRI”, menjadi bukti bahwa hidup itu dinamis tidak sestatis yang dibayangkan, bahwa yang kuaku selama ini adalah kedinamisan itu sendiri, oleh karena itulah perubahan itu nyata. Perubahan itu ada. Yah… hingga akhirnya aku tertunduk, pemikiran yang mampu menundukkan ego “sang pecinta kestagnanan”, “sang pecundang” penentang kepastian. Memang apa salahnya dengan perubahan?biarlah ia menjadi spirit labirin yang penuh kejutan.
“Persiapan…Sekarpace..sekarpace!!”
Here we go……
Hidup ini dinamis Mift, akan ada banyak pintu menuju perubahan. Pilihan akan slalu datang, karena disinilah manusia berkuasa memilih jalannya untuk berubah. Takut pada perubahan adalah pecundang karena memngingkari eksistensinya pada kehidupan. Tentu..
Kulangkahkan kakiku turun dari bis, entah untuk yang keberapa…sejak pertama kali ku tiba di kota batik ini.
Tapi yang penting kupastikan langkahku kali ini mantap. Mantap mengazamkan diri sebagai Agen of Change Sang Creator di planet biru ini.

Dari kalianlah aku belajar

Sumringah keep on moving

Sumringah Keep on Moving
Perempuan muda itu duduk diam di atas karang batu. Matanya sembab,membengkak seperti mata ikan koki, lingkar matanya lebam menghitam. Pandangannya nanar,jauh, menerawang kosong, layaknya tatapan orang buta. Beberapa hari yang lalu sejak kepulangannya di desa tanah kelahirannya, perempuan itu kerap mendatangai tempat ini, di tepian daerah aliran Sungai Bengawan Solo, tak jauh dari perkampungan penduduk. Sebentar-sebentar ia akan turun ke tepian sungai, menceburkan kakinya dan bermain air, setelah itu kembali duduk terdiam, mematung di atas karang batu. Seakan dirinya sedang memikirkan sesuatu dengan begitu dalam, terlihat dahinya yang mengernyit tajam, raut mukanya jauh dari binar ceria.
“Sum…Sumi”terdengar suara serak wanita tua berteriak, berulang kali, dari arah sebuah rumah, beberapa meter dari tempat perempuan itu duduk.
Bak tersengat listrik, perempuan berkerudung dan berpakaian seperti daster itu melonjak kaget, seperti baru sadar menginjakkan kaki di alam nyata.
“Itu suara Ibu memanggilku,” ucap perempuan yang dipanggil Sumi beringsut bangun dari duduknya.
Sumi alias Sumringah nama panjangnya. Anak dari keluarga priyayi, masih keturunan jauh trah Kraton Solohadiningrat. Sudah 2 tahun lamanya sejak memutuskan hijrah ke Jakarta karena tuntutan kuliah, baru kali ini ia pulang ke desanya, sebuah desa dengan kekentalan budaya jawa yang sangat, desa yang menjunjung tinggi norma kejawennya.
“Nggih Buk,” teriak Sumi, berlari tergopoh mendekati sumber suara. Tampak di depannya seorang wanita tua dengan kemben berbalut Jarit, dengan pakaian seperti itu tampak jelas tonjolan tulang bahu dan belikatnya, seperti tonjolan batu karang di hamparan coklat Sungai Bengawan Solo.
Jika dihitung lagi, sudah genap 3 bulan ini Sumi pulang ke desanya. Bapaknya baru saja meninggal, sedang Ibunya kerap sakit. Ia harus rela menggenapkan cuti kuiliah satu semesternya disini, meskipun sebenarnya akal Sumi enggan untuk berlama-lama, di sebuah tempat yang boleh jadi mampu merontokkan sisi idealismenya, di suatu sudut bumi yang masyarakatnya sudah kelewatan menuhankan adat. Namun, dirinya sadar disini masih ada Ibunya, sanak saudaranya, sebagai anak ia harus merawat dan menjaganya, tetap tinggal bukan lagi pilihan melainkan sebuah keharusan.
“Nggih Buk, ada apa?” tanya Sumi sambil mengatur napsnya yang tersengal.

“kok ada apa tho, kamu ini dari mana saja, sejak pagi pergi dari rumah, kayak di rumah nggak ada kerjaan saja,” ucap ibunya heran.
“Iya Buk, Sumi ngerti, tapi kan Sumi cuman jalan-jalan sebentar,”
“Besok itu acara sewon-sewon, seribu harinya Bapakmu meninggal, sudah banyak tetangga yang rewang, kamunya malah ngluyur, ibukan jadi malu, mbokya kamu itu, nduk, bantu-bantu sedikit di pawon, ngethok ning masyarakat, gitu,” ucap ibunya panjang lebar.
Kalau sudah seperti ini, Sumi merasa ibunya mirip daiyah, malahan gaya bicaranya lebih dahsyat dari teh Ninih, Guru ngajinya di Jakarta. Mengingat metafor ini, Sumringah tersenyum geli, ketawa cekikikan, lupa kalau dirinya lagi kena sidang kasus kluyuran, pergi tanpa pamit dari rumah.
“Lho…lho, kok malah cekikikan tho bocah iki, wis sekarang cepetan kamu mandi, terus rewang ning pawon,”ucap ibunya menggelengkan kepalanya heran sembari mengunyah kembali susurnya.
Sumipun mengangguk patuh, dirinya memilih diam, menuruti kata-kata ibunya. Ia lelah bertengakr dengan ibunya, beradu mulut dengan keluarga besarnya, kekuatan adat itu menjelma menjadi dinding besi yang kian kokoh.
Sejak awal hadirnya di desa ini, perang pikir dan batin kerap hadir pada diri Sumi, tidak seperti dua tahun yang lalu, saat-saat semua masih berjalan apa adanya, diri Sumi adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyrakat. Hatinya, pikirannya, menyatu, tunduk mengikuti setiap lekuk budaya masyarakatnya. Dahulu, ia bangga, cenderung senang malah. Sumi masih ingat betul saat dirinya mencuri ingkung ayam sajen di punden tengah sawah bersama teman-temannya,sampai rela berlumpur-lumpur ria, menceburkan diri ke blethok sawah agar tak ketahuan warga, pun saat berenang rame-rame dan melabuhkan swajen hasil panen ke Sungai Bengawan Solo.”Agar yang Mbahu Rekso sungai ini tidak marah dan membawa petaka bagi warga.” Begitu kata Bapak.Mulanya Sumi kecil tak paham dengan alasan yang dikemukakan Bapk juga Simbahnya, hingga akhirnya semua menjadi jelas dimatanya kini. Itu adalah sirik, dan sirik adalah dosa besar yang tak terampuni. Kata-kata itu terus terngiang di benak Sumi, bagai gelegar petir di telinganya,kajian pertama yang ia dapat dalam perhelatan akbar kajian Sie Kerohanian Islan Kampus,kala pertama menjadi mahasiswa. Rasa ingin tahunya yang sangat, mendorongnya bersedia digembleng oleh seorang wanita yang sering dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan Murobiah, tapi Sumi lebih senang memanggilnya the Ninih.
“jangan lama-lama mandinya nduk, ntar masuk angin kamu.” Teriak ibunya mengagetkan Sumi.
Sejenak dirinya tercengang, baru tersadar kalau semenjak masuk kamar mandi belum melepaskan baju, tahu-tahu bajunya sudah basah oleh air, cepat-cepat ia tanggalkan bajunya, lalu ia usapkan sabun herbal pelan, merambat, menggerayangi tubuhnya. Aroma herbal sabun membuat pikirannya menjadi rileks. Setelah puas, kembali ia ayunkan segayung air ke tubuhnya. Silir angin dari celah kisi lubang angin menambah kesejukan yang sangat.
Sumi berpikir, sudah berapa gayung yang ia ayunkan, berapa banyak air yang muncrat ke tubuhnya, namun kesejukan ini, baru ia rasakan. Apakah karena sedari tadi pikirannya melayang, mengembara mengarungi lautan mozaik kenangan, hingga kesadaran akan apa yang dilakukan perlahan hilang. Apakah benar karena kesadaran yang membuatnya merasai kesejukan ini, sadar akan apa yangt dilakukan. Sadar. Sadar.
Kata itu tiba-tiba muncul di tembok kamar mandi yang catnya mulai mengelupas, membentuk beragam corak gravity yang indah.
“Ah, Sumi…Sumi, sekarang kamu mudah sekali melamun,” ucapnya sambil menepuk bergantian pipinya.
Bergegas ia handuki badannya dan keluar kamar mandi sebelum ibunya kembali bgerteriak.
***
Ragu, Sumi melangkahkan kaki ke pawon, dari jarak beberapa meter saja sudah terdengar gemerisik suara Ibu-ibu ribut di pawon, enytah apa yang diobrolkan, tak jelas di telinga Sumi. Sejenak, langkahnya terhenti, hatinya mendesir, membuat bulu kuduknya berdiri, kali ini kakinya terasa berat untuk melangkahlagi, satu langkah kedepan sepuluh kali langkah ia ingin mundur. Baginya pilihan adalah seperti memakan buah simalakama, saat ini.
“Ayo Sumi, maju!!” ucap Sumi memberi semangat pada dirinya.
Mendadak suara gemerisik ibu-ibu lenyap, berganti memandangi sosoknya yang baru saja datang. Pandangan mereka yang aneh nyaris saja merontokkan mental Sumi.
“Eh, den ayu Sumi, kok tindak gdateng pawonan tho, mangke lek kotor badannya,” ucap seorang tua dari mereka, rasa-rasanya ia mengenal Simbah ini, tapi lupa namanya.
“Mestinya den ayu Sumi lupa sama njenengan Mbah. Ini yu Siyem, masak den ayu lupa…” ucap salah seorang ibu-ibu, sepertinya tahu8 mimik muka Sumi yang kebingungan, dan segera saja Sumi nimbrung di kerumunan ibu-ibu, agar kebingungannya tak semakin kentara. Suasanapun kembali renyah oleh basa-basi Sumi, disambut celotehan dan tawa ibu-ibu.
Sepasang mata mengintip melalui celah pintu yang tak tertutup rapat. Sorot matanya sendu, penuh binar keharuan di dalamnya.
“anakku…kaukah itu,” pemilik mata berucap lirih sembari mengusap air matanya yang mulai tumpah.
***
Sumi merebahkan badannya kasar di kasur yang tak lagi empuk, kapuknya semakin mampat oleh usia dan tindihan badan yang tak lagi kecil. Bagi badannya yang lelah, kasur mampatpun terasa nikmat. Ingin dirinya langsung tidur, bermimpi berkelana mengarung samudra berlayar bersama rombongan kapal, berjuang bersama dalam satu tujuan, mendarat ke tanah impian, dimana tertegakkan kalimat Tuhan, namun matanya tetap tak mau terpejam, entah apa yang terjadi dengan saraf-sarafnya, apakah antar saraf tak lagi singkron, apakah sedang terjadi perang antar saraf, seperti yang terjadi pada babak kehidupannya kini, antara idealismenya dan realita masyarakat desa.
Sumi mendesah berat, dadanya kembang kempis tak teratur, beberapa kali dirinya menghembuskan napas kasar, seperti ingin membuang sial saja. Lama ia tertegun, menekuri langit-langit kamarnya, mozaik peristiwa-peristiwa sejak awal kedatangannya beterbangan, melayang-layang dalam balon imajinasi.
“Anak durhaka kowe nduk, berani melawan orang tua.” Suara bapak meradang, berteriak meninggi bagai halilintar di telinga Sumi. Tiba-tiba badan Sumi menggigil. Belum pernah Bapak Sumi duka, marah seperti ini. Tapi Sumi bukan lagi anak kecil yang cengeng, dibentak sedikit langsung ngumpet dibelakang jarit ibunya sambil nangis merajuk minta suaka.
Sumi sadar, dirinyalah yang memulai perang, kejadian ini suatu saat pasti akan terjadi dan sekaranglah waktunya. Sumi sangat yakin apa yang dilakukannya benar, ia berjuang melawan adat yang menurutnya sirik dan sangat tidak logis.
“Adat kok dilogis-logiskan lho, kuwalat kowe nduuk, dasar geblek!!” suara bapak semakin berang saat dirinya kembali mengemukakan penjelasan.
“Jangan keminter kamu Sum, anak bau kencur berani nyeramahi orangtua. Ini gara-gara kamu, Sumitro, berani menyekolahkan anakmu di Jakarta, mestinya sekolahkan anakmu di sekolah kepribadian kraton, biar nggak lupa sama adatnya, lah ini tho hasilknya…”ucap Pakdhe Parto berganti menyudutkan Bapak Sumi, Sumitropun terdiam,mengalihkan pandangan yang sedari tadi tak jemu memelototi Sumi, keluar jendela sambil mengisap cerutunya dalam.
Seandainya ada teman-temannya disini, teman-teman dengan idealisme yang sama dengannya, berjuang dalam suka dan duka, melawan kebobrokan sistem, berdemo bersama menghujat bejatnya Kapitalisme, desah Sumi dalam hati. Kini, Sumi benar-benar berjuang sendirian. Rayuan skeptis mulai menari-nari di benaknya, melawan sisi ideologinya yang masih sisakan bara.
Sumi merasa dirinya sebagai terdakwa di sebuah Pengadilan Agung, tanp pembela, tanpa pendukung, semua yang hadir meyalahkan dirinya. Keringat dingin bergulir bergantian membasahi baju mihnahnya. Ingin sekali dirinya mundur, menyudahi debat kusir dengan keluarganya. Matanya lelah menatap sorot tajam mata Bapak, Pakdhe dan yang lainnya. Gusti Allah, kuatkan hambamu. Mengapa susah sekali merubah pemikiran orang, lebih susah perjuangannya daripada di kampus. Desah Sumi lagi dalam hati.
Perdebatanpun berakhir tanpa hasil, baik diri Sumi maupun keluarga besarnya adalah militan sejati penjaga idealismenya masing-masing.
Satu-persatu balon imajinasi Sumi pecah, menyisakan kegetiran di hatinya. Meskipun begitu, dirinya akan selalu mengingat segala peristiwa, terlebih saat-saat terakhir bersama bapaknya.
“Maafkan Sumi, Pak, nyuwun ngapunten,” ucap Sumi lirih, buliran airmatanya mulai membasahi pipinya, membuat pandangan matanya menjadi kelabu. Air matanya kian deras mengalir, tak kuasa pikirannya membendung. Teringat akan semua itu membuat hatinya sakit, jiwanya terkoyak.
“Harus berapa lama lagi ya Gusti, perjuangan ini,…” desah Sumi dalam, sambil menggigit getir bibirnya.
“Nduk, kamu sudah tidur?” terdengar suara ibunya semabri menotok lirih pintu kamar Sumi.
Tak berapa lama pintupun berderit lirih, mulai terbuka perlahan, menandakan kehati-hatian si pembuka.
Sadar akan hal itu, Sumipun cepat menyeka air matanya dan bergegas membalikkan badannya. Sumipun menutup paksa matanya. Ia tak mau ibunya tahu kalau dirinya baru saja menangis.
Langakah kai ibunya kian mendekati ranjangnya. Perlahan ibunya duduk di tepi ranjang, ranjang kayupun berderit pelan.
“Kamu sudah tidur nduk, pasti kamu capek, rewang seharian,” ucap ibunya sambil mengelus rambut Sumi.
Sejenak suasana menjadi hening, kehangatan merayapi jiwa Sumi. Sudah berapa lama sejak bertahun-tahun, ia tak m,ersakan belaian lembut ibunya.
“Maafkan Ibu Bapakmu,nduk, sebenarnya Bapakmu pernah cerita sama Ibu kalu beliau paham maksudmu…” ucap ibunya sambil terus mengelus rambut Sumi. Jantung sumi berdegup tak beraturan, ingin ia cepat-cepat mengetahui penuturan selanjutnya.
“dari dulu kami paham apa yang kami lakukan itu ora logis, sirik, tapi mau gimana lagi, Bapak sudah lama menjadi tetua adat, keluarga kitakan masih keturunan trah kraton, jadi…” ucap ibunya, urung melanjutkan ucapannya.
Hati Sumi yang hampir berbunga, mendadak kembali layu.
“tapi ibu yakin padamu nduk, akan usahamu, tapi ingatlah satu hal, masyarakat kita masih mengagungkan adat, adat lebih kuat dari hukum apapun, termasuk hukum agama. Kamu kudu pinter, bermain cantik di masyarakat, jadilah lakon. Wis… saiki kamu cepetan tidur,” ucap ibunya, lalu bangkit dari duduknya semabri mengecup kepala Sumi.
Mata Sumi tetap terpejam, hanya leleran air mata, menandakan kalau dirinya belum tidur.
“Ibu…”desah Sumi lirih.
Ia dekapkan bantal ke wajahnya, seakan malu akan tampang dirinya sekarang.
***
Pagi ini cerah, secerah pikiran Sumringah saat ini. Acara sewon-sewon berlangsung lancar tadi malam meski tanpa hadirnya Sumi. Ibu Sumi yang membuat alasan kalau dirinya sedang tak enak badan dan harus beristirahat di kamar.
Mengapa tak cepat ia sadari akan ada banyak kesemapatan dan pendukung menanti di depannya. Perlahan dan hati-hati, ia turuni jalan setapak menuju ke tepian Sungai, kemudian naik ke karang batu, tempat favoritnya berkontemplasi selama ini. Lama Sumi terpekur, sensor kulitnya mulai merasai hadirnya hangat sinar mentari. Ia dongakkan kepala, memandang hamparan biru langit bertabur kawanan awan.
“kompilasi yang unik,” ucapnya sambil menunjuk kumpulan awan denagn beragam bentuk.
Suara ceracau burung pipit terdengar indah di telinga Sumi. Entah mengapa semuanya kini menjadi indah. Bukankah pemandangan desa ini sudahj indah dari dulu. Kenapa lama aku mulai menyadarinya kembali, ucap Sumi membatin.
Sumi mulai sadar betul, sadar akan keberadaannya. Kali ini dirinya nyata berada di suatu lingkungan yang jauh berbeda denagn lingkunagn mahasiswa. Disini, ia bukan lagi sebagai macan forum, dengan semangat membara menggulingkan argumen dan semangat lawan. Tidak bisa seenak udelnya berteriak lantang demokrasi yang utopis, kapitalis yang bejat, bukan disini dan memang masih belum saatnya.
Jajaran karang di depannya mengusik perhatian Sumi, lama ia tertegun memandang jajaran karang di tepian sungai. Ya, masyarakat ibarat jajaran batu karang, sedang adat adalah kekuatan ikatan batu yang menyusunnya. Merekla adalah satu, dan air adalah sesuatu yang lain meskipun jarak mereka tak terpisahkan. Air adalah sesuatu yang mampu mengalir. Melalui cara ia mengalir dan waktu akan sanggup baginya mengkaramkan batu karang yang besar sekalipun.Bukankah indah tidaknya pahatan batu, tergantung dari si pemahat.
Sumipun beringsut bangun, cepat-cepat ia berlari pulang. Tak lagi dirinya berlama-lama termenung, berkontemplasi lama menunggu secercah sinar keajaiban, itu semua bohong. Ia sudah lama tahu bahwa itu adalah sebuah pel;arian dirinya.
Ia hanya berteriak marah, bersemangat seperti bara yang terus membakarnya saat demo tiba, menentang bejatnya sistem Kapitalisme, sistem yang terus menggerogoti sisi kemanusiaan seorang manusia. Sumi tak sadar setajam mana retorikanya, setinggi apa nadanya, dirinya lama lupa akan keberadaannya. Sumi terus saja berlari, bergegas menuju kesadaran yang berusaha dipetiknya dari pengalaman.

Re_
bagimu,bagiku,bagikita