Tampilkan postingan dengan label rekaaksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekaaksara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2008

Kontemplasi ala Re

“Tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan…”
“pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan…”
“…satu-satunya yang dapat kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu…”


Urung kulanjutkan membaca buku tentang filsafat. Beberapa paragraf saja membuatku lama berpikir. Pikirku berputar antara keheranan dan pemahaman yang sudah terlanjur kuterima bahwa filsafat itu menyesatkan, cara berpikir tak layak buat gapai keimanan haqiqi. Tapi sudahlah, biarlah info itu berhenti pada tataran pemahaman, aku hanya ingin jujur pada diriku, mencoba belajar memahami konteks dari nol. Biarlah kuraih kesadaran pikirku, begitulah sebuah azzam kulantunkan. Kemudian kubaca buku tersebut perlembar. Seberkas senyum mengembang, merona di wajahku. Bukan, terlalu cepat mengatakan aku dapat pencerahan. Semakin membacanya, sama ketika membahas kajian tentang keimanan, hanya saja buku ini berangkat dari sudut pandang yang berbeda. Lama pertanyaanku berkutat, tentang sebenarnya filsafat itu. Jujur lagi, aku tak begitu suka dengan jawaban instan orang yang langsung buyarkan asaku. “Sudahlah, ngapain belajar Filsafat dalam-dalam, kau akan pusing nantinya,” atau begini, “Filsafat itu akan menjerumuskanmu,”. Okey, tapi tolong jelaskan argumen kalian dulu, nihil. Kebanyakan mereka yang kutanya enggan berdiskusi panjang. Gak Asoy banget loe. Mengapa selalu berangkat naik bis tanpa mau naik bis lebih dulu, pinginnya langsung sampai ke tempat tujuan. Kembali pada kontemplasiku…
Lama-lama aku menjadi tertarik untuk membacanya lebih jauh, sudah beberapa buku aku baca, meski terkadang tak selesai. Aku tertarik pada apa yang membuatnya menarik, pada apa hingga sebagian orang menistakannya, hanya itu, belum lebih. Untungnya, ada mata kuliah Filsafat yang kuambil, dan yang paling asoy dosen pengajarnya bukan tipe penghapal apalagi pendoktrin, tapi lebih pada pendongeng. Jangan harap, ketika kalian ikut kelasnya, langsung tahu Filsafat adalah…, lalu tokohnya antara lain…, pembagian Filsafat antara lain…, tidak, sama sekali tidak langsung itu. Karena menurutnya tak terlalu penting. Prinsipnya memahamkan dengan cara beda, tak langsung, tapi tepat sasaran. Filsafat yang pertama kali kukenal, lebih banyak menggunakan analogi dalam mencotohkan sesuatu, mnurutku disinilah kecermatan pikir diasah, karena biasanya analogi itu multi interpretasi.
Para filsuf adalah seorang yang berpikir, memikirkan sesuatu yang dia ingin tahu, radikal dalam mendobrak kemapanan. Ataukah berarti Filsafat anti kemapanan? Kemapanan adalah sesuatu yang mapan, yang eksis hingga tak usah diusik lagi keeksistensiannya. Layaknya kutu anjing yang hidup di sela-sela bulu anjing, kutu tersebut ingin terbang, atau memanjat bulu-bulunya yang licin hingga dirinya mampu melihat si empunya bulu. Itulah Filsuf, berbeda dengan teman-temannya sesama kutu, lebih memilih mendekam dalam hangatnya bulu dan panas tubuh si anjing hingga enggan untuk bertindak seperti temannya, begitulah kira-kira. Para Filsuf sangat menyayangkan tindakan yang demikian, terlalu menerima dengan anggukan yang cepat, bahasa jawanya, Nrimo ing Pandum. Bagi mereka, para Filsuf, disitulah seharusnya yang membedakan manusia dengan makhluk lain, ada akal, Tentu akal sendiri adalah sesuatu yang tak langsung dapat diindra, itu yang membedakannya dari otak, akal yang dapat berfungsi dan ada pada manusia, tidak pada hewan. Namun, tidak semua manusia memiliki kesadaran pikir yang sama, tergantung kekritisan, rasa ingin tahunya, yang memacu akalnya bergerak aktif.
Pikir alias akal. Wow, menarik. Tak semuanya memiliki kesadaran berpikir?yah, tak usah dijelaskan lagi, contohnya seperti analogi kutu diatas. Kesadaran pikir manusia terbelenggu oleh doktrin atau mungkin mitos yang terlanjur ia percaya, hingga sulit untuk sekedar kembali berfikir lagi tentang segala sesuatu yang mampu diindra, tentang hidupnya, siapa dirinya, alam semesta. Jikalau menurut para pecinta kemapanan itu, kebenaran telah berada di tangan mereka, maka itupun lebih banyak karena penerimaan terlebih dulu, tanpa usaha berpikir dari awal.
Baiklah, Filsafat memang lahir karena rasa ingin tahu manusia, tidak hanya filsuf semua orang aku yakin jika mau kritis juga akan bersikap demikian, karena aku masih percaya pada agama yang kuanut, tak semua agama itu doktrinasi, tapi disini saya tak ingin bahas pembuktian dan lain sebaginya, bukan dalam bahasan kali ini, untuk sementara tak ada kata-kata agama disini, karena aku tak ingin menjadi penumpang bis tanpa naik bis. Keingintahuannyalah yang buat manusia berpikir, karena potensi yang ada dalam dirinya, Lalu darimana datangnya potensi ini ?tentu kita tak bicara tahyul, atau dengan jawaban “sudah takdir bung, mbak,jeng” atau lagi seperti jawaban penganut keabadian materialisme, “sesuatu itu ada dari materi, karena materi itu ada,”, kasihan sekali karena tentunya akan banyak orang yang tak percaya pada sesuatu yang buat tubuh ini hidup.
Sebenarnya, mereka entah yang mengatakan diri mereka Filosof atau bukan, berangkat dari persoalan yang sama, pencarian hakikat diri dan kehidupan, sesuatu yang sangat berarti ketimbang persoalan hidup yang lain, karena semisal makan, tidur, ngeseks atau yang lainnya tergantung pada penentuan jawaban akan hal diatas. Bukankah manusia ingin hidupnya bermakna, tak seperti mayat hidup, hingga ada slogan, buat hidupmu lebih hidup. Hanya saja dalam perjalanan meraih kesadaran pikir tadi yang bikin arah dan jawaban yang berbeda atau dengan kata lain, sangat boleh jadi para manusia membuat cara berpikir sendiri untuk meraih kebenaran jawaban tersebut. Pada mulanya memang demikian, mencari hakikat kebenaran, hakikat kebenaran yang haqiqi, tapi lama-lama sebagian diantara mereka (meski sekarang sudah dijadikan patokan alias opini umum) mulai bertoleransi dan berkesimpulan bahwa tak ada kebenaran yang haqiqi, kebenaran mutlak, karena banyak filosof yang berbeda jawaban karena cara yang mereka gunakan memang menghendaki jawaban yang akan berbeda-beda pula. Semisal kasus darimana datangnya sebuah tanaman tumbuh. Ada yang menjawab dari tanah, karena pada waktu itu ia langsung mengamati tanaman muncul dari dalam tanah, ada lagi yang mengatakan tanaman tumbuh dari air, seperti pengamatan Thales(kata orang sih Filosof pertama) tentang segala sesuatu berasal dari air, karena selama perjalanannya ke Mesir, dia mengamati tanaman yang mulai tumbuh begitu banjir sungai Nil surut. Jawaban bisa berbeda meski semua berasal dari pengamatan. Aku pikir, mengamati saja semua orang bisa, tidak orok tidak orang tua. Tapi apa cukup hanya selesai pada pengamatan?. Memang pengamatan akan berhenti pada materi, sesuatu yang dapat diindra. Tapi hal itu kemudian akan bermasalah ketika disodorkan fakta yang nonreal? Fakta kok nonreal?Lho…bukankah dalam berpikir akan muncul beragam kemungkinan, boleh jadikan dunia ini tak terbatas, boleh jadikan tumbuhan itu tak tumbuh baik di tanah maupun diair, boleh boleh jadi kan ada yang namanya nyawa, spirit yang membuat tubuh ini hidup, boleh jadi juga ada kekuatan abstrak di luar jangkauan kita. Sampai disini, lama aku merenung, menyelami beragam pemikiran yang buatku makin absurd saja. Iya ya, semua bisa boleh jadi. Jawabanpun akhirnya boleh jadi, hingga memperkuat bahwa segala sesuatunya menjadi relatif, berarti juga boleh jadi, jawaban siapa kita sebenarnya berubah dari waktu ke waktu, tergantung zamannya, apakah kala klasik, modern atau postmodern?iyakan? lalu apa bedanya kita dengan kelinci percobaan?ya tidak ada bedanya, sampai disini, sama. Lalu jika kebenaran itu nisbi, berarti bisa saja aku menyimpulkan tidak ada kebenaran di dunia ini, semuanya abstrak, jadi hentikan tindakan konyol kalian mencari hakikat kebenaran, hakikat kebenaran tak dibutuhkan lagi di dunia manusia, silahkan berinterpretasi sendiri-sendiri asalkan sudah melalui proses berpikir. Seperti apa dan sedalam apa proses berpikir yang kalian lakukan terserah pada diri kalian, karena tak ada sesuatu yang haqiqi.
Sampai disini, aku teringat dengan temanku kuliah yang memprotes nilai Filsafat mereka yang jelek, sementara mereka protes, aku banyak mendengar tanpa mau mengaku nilaiku A jika ditanya, aku hanya ingin tahu alasan mereka protes. “Bukankah kata beliau(dosen filasafat) tak ada kebenaran mutlak, keindahan mutlak, lalu mengapa harus ada ujian dan nilai?” Dan kami saling menjawab kenapa ya?aku sendiri juga tak tahu mengapa nilaiku A, apakah nilai begitu penting, jika segala ukurannya kian tak jelas, karena inilah, hingga kini aku tak begitu menghiraukan nilai A yang kusandang, boleh jadi aku dari total hanya 5 orang yang dapat A adalah terburuk dari mayoritas mahasiswa. Hanya sesuatu yang kerap menggelitikku adalah bagaimana si dosen sampai pada kesimpulannya? Bukan pada apa yang mereka pikirkan, tapi bagaimana mereka menyikapi apa yang mereka pikirkan hingga terbentuk beragam kesimpulan.
Apakah memang sesuatu yang mutlak itu tak pernah ada?apakah memang tak ada kebenaran mutlak?tak ada ataukah ditiadakan?ditiadakan oleh pikiran manusia yang boleh jadi menurut kesimpulan ngawurku terbatas?
Karena aku termasuk orang yang lumayan toleran, maka segala kemungkinan dari hal yang real sampai non realpun aku masukkan ke brankas otakku.Pernah suatu ketika mencapai titik kepuasan pikirku, beberapa waktu tak jenuh mempertanyakan sesuatu, tanpa menggubris pendapat orang atau literatur lain. Hanya saja, kemudian aku sadar terjerembab dalam jawaban khayalku. Kutanya Siapa Tuhan yang selalu dipuja, sosok yang paling digandrungi setiap masa?Lalu jawabanku sampai pada kesimpulan bahwa boleh jadi Tuhan memang ada, terbukti dengan adanya diriku, makku, adikku, si kucing, pohon, apa mungkin mereka menumbuhkan diri mereka sendiri, karena pernah kutanam tumbuhan di tanah tapi selalu mati, berarti tak benar juga kesimpulan yang menyatakan tanah menumbuhkan segala sesuatu. Jika memang benar tanah sumber kehidupan pastilah apapun yang kujatuhkan dan dengan cara apapun pastilah hidup, nyatanya? Lalu sosok Tuhan itu seperti apa? Kulihat tanganku, kemudian kakiku dan akhirnya semua tubuhku. Mungkinkah Tuhan itu wanita sepertiku?ataukah laki-laki?atau mungkin banci?mungkin saja, sehingga Tuhan memiliki tangan, kaki, rumah sama seperti kita, manusia. Begitulah, hingga aku kembali belum terpuaskan dengan sebuah pertanyaan ,“ lalu apa bedanya Tuhan dengan yang diciptakannya?bukankah Tuhan itu adalah agung ,maha lebih diatas segalanya?jika sama dengan yang diciptakannya berarti ia juga bersifat terbatas, jika manusia bisa mati, dan pastilah mati, maka boleh jadi Tuhan akan mati juga, lalu bagaimana otoritasnya sebagai Tuhan?” Ah. Bulshit. Aku bisa gila. Kontemplasi tanpa batasku ini mampu membawaku menjadi seorang ynag atheis.
Okeilah. Manusia memang punya potensi berupa akal. Itu alamiah, manusia juga bisa tak berakal, boleh dikata itu juga fitroh, semisal pada kasus orang gila, ia tak kuasa menolak dirinya gila, tak berakal. Lalu siapa yang buat itu semua. Kadang segala sesuatu terjadi di luar dugaan kita bukan?, lalu siapa yang buat rekamatra hidup itu? bukankah akan banyak pertanyaan Siapa setelah Mengapa? Siapa akan kita peroleh dari jawaban Mengapa bukan? Mengapa bumi bisa berputar?, Mengapa para planet dapat berputar teratur pada orbitnya?Siapa pencipta Orbit?Apakah segala sesuatunya simsalabim?lalu siapa yang buat sim salabim itu?. Itulah fungsi akal kita. Sampai dsini semuanya akan berjalan lurus. Lalu akan berkelok ketika akal dibiarkan berkelana tanpa arah, karena keterbatasannya, seperti kasus diatas. Manusia akan abstrak menilai wujud Tuhan, sesuatu yang jauh di luar jangkauan akalnya, sampai disini pikirkanlah, semoga ku tak mendoktrin kalian. Jujurlah, bahwa memang ada keterbatasan terhadap segala sesuatu, dan ada sesuatu yang tak terbatas yang buat segala sesuatu yang terbatas itu ada. Entah kalian menyebut sesutu yang tak terbatas itu apa. Tuhankah?atau apa?yang pasti itu mutlak ada meski dzatnya tak langsung dapat kita indra karena keterbatasan tadi. Tapi bukankah sesuatu yang tak terbatas itu jika boleh kusebut Tuhan, tak egois menciptakan sebuah doktrinasi keimanan. Karena iman harus ada karena percaya. Bagaiman percaya adalah dari proses berpikir. Bagaimana berpikir karena ada komponen berpikir . Lalu akhirnya perkenankan daku memberitahu komponen itu, meskipun boleh jadi banyak yang sudah tahu.
Setidaknya ada 4 komponen berpikir. Yang pertama ada otak (sebuah materi, hewan juga punya), yang kedua ada fakta(baik benda maupun peristiwa, sesuatu yang dapat diindra), lalu ada proses pengindraan dan yang terakhir, yang paling penting, adanya informasi sebelumnya, entah langsung terkait pada fakta atau sesuatu yang berhubungan dengannya .Mengapa penting?Taruhlah contoh seorang yang ingin mahir berbahasa China haruslah mempelajari buku panduan berbahasa China atau lewat orang yang mahir bahasa China. Seorang bayi tidak mungkin bisa belajar bahasa China atau hanya sekedar percaya sebuah batang dipegangnya adalah pensil , sebuah alat untuk menulis. Boleh jadi yang terjadi seperti keponakan saya yang masih balita, ia akan memakan pensil tersebut atau sekedar menendangnya dengan tangan, persis sama yang dilakukan kucingku. Mengapa itu terjadi karena bayi ataupun balita tidak memiliki informasi sebelumnya . Tapi bisa sajakan, karena otak mereka yang belum berfungsi sempurna? Baiklah. Taruhlah, seorang manusia dewasa dihadapkan pada tulisan jawa, Jika tak ada sebuah pembelajaran atau Informasi sebelumnya, meski berpikir sejebat apapun tak akan berhasil membacanya.
Sehingga, akhirnya aku masih percaya hingga kini bahwa kebenaran mutlak itu ada, sama percayanya akan sesuatu yang Maha. Ini bukannya doktrinasi, aku terbukti sampai tujuan sesuai keinginanku, tentunya dengan syarat ketepatan penggunaan cara berpikir kita. Sudahlah, segera saja kalian berkontemplasi. Selamat berkontemplasi, temukan hakikat diri, melakukan petualangan pikiran menemukan siapa dibalik segala keterbatasan.

Re_ lagi belajar nulis
1:52 am, 4 september 2008

Kamis, 04 September 2008

Kontemplasi lagi, lagiii dan laaagiiii………

Pernahkah kau berpikir teman, tentang hidupmu? Tentang eksistensimu?Mengapa dan apa gunamu di dunia? Sejak kecil, sejak pertama aku bisa mengingat, itulah pikiran pertama yang terbesit dalam benak, sambil lalu dengan jawaban mengambang, bagiku biarlah waktu yang menjawabnya. Begitulah, hingga sampai akhirnya aku kebingungan sendiri dalam makna eksistensinya, karena meski aku cenderung penganut easy going tapi aku selalu tak ingin stagnan, maka pertanyaan itu selalu terngiang, hingga dalam mimpiku, namun tetap saja aku masih menganggapnya sambil lalu. Lama-lama kubosan, aku kecewa pada waktu.Waktu berjalan arogan, tanpa beri jawaban, beriku waktu untuk sekedar meraba. Ah, lalu setelah kupikir-pikir mengapa pula kusalahkan waktu yang bungkam? Bukankah dari waktu yang berjalan terbentuklah matra kehidupan yang penuh labirin, hanya diriku saja yang malas untuk terus mencari pintu, hingga kumampu merangkak lebih maju.
Sekarang kuputuskan untuk menjawab, dengan berpikir tentunya, aku kurang terlalu yakin dengan peran perasaan dalam proses perubahan. Pikirku mengatakan perasaan adalah komponen penguat setelah berpikir, maka muncullah apa yang disebut keyakinan.Perasaan akan menguatkan pemikiran kita, karena itu keyakinan kian kokoh.
Lalu ada sebuah pertanyaan muncul di benakku, Apakah aku akan menjadi orang seperti yang biasa kulihat disekitarku?Seperti merekakah?Aku akan tumbuh besar, bersekolah, jika mujur bisa sampai ke perguruan tinggi, menikah, punya anak, cucu, cicit lalu seterusnya, dan mati?Mirip dengan kebanyakan orang, tentunya, bukankah diriku juga orang?Ah, aku menjadi jenuh. Kalau begitu tak ada yang istimewa pada diriku, Apa yang memberiku arti hingga aku berarti dan terasa istimewa?Kutakbicara soal kecerdasan ataupun keelokan fisik?Karena jawabnya sudah bisa kutebak, Standart. Manusia yang standart. Jika aku lebih dari hewan, maka egoku kini meninggi, aku ingin lebih dari manusia pada umumnya. Indra keenam?apa pula itu?aku tak paham, mungkin aku tak punya, jadi lupakan khayalan itu. Lalu apa sebenarnya yang buat hidup lebih dari sekedar hidup kebanyakan?
Itulah kebingunganku teman, tak apalah jika kalian tak ingin sepusing aku, memang tak usah terlalu dipusingkan,mungkin ada benarnya pula aku terlalu berlebihan, lalu kau mencibirku,Mengapa hidup kau bikin susah sendiri?Lalu kau sendiri hidup buat apa? Buat makan atau makan buat hidup?buat jadi orang kaya?buat cari cowok atau punya pacar banyak?atau hidupmu buat cari kebahagiaan yang sebanyak-banyaknya?
Tentu, aku juga inginkan itu teman, tapi itu nanti dulu. Percayalah, aku sudah hampir mengalaminya, meski tak seperti orang lain, karena bukankah segala yang terjadi bumbunya akan berbeda permasing kehidupan manusia? Tapi aku bukan ingin itu dulu, sekali lagi, belum itu dulu.
Jika itu dulu, maka semisal kebahagiaan aku akan bertanya lagi, kebahagiaan macam apa?kaya seperti apa?apakah tepat pula jika kusamakan dengan pendapat kebanyakan orang?Jika ya, mungkin makna kebahagiaan adalah pemuasaan kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya, semisal bagi orang yang lapar akan mengatakan kebahagiaan adalah makan sepuasnya, berbeda-beda. Lalu akan muncul pertanyaan apa sebenarnya kebahagiaan itu?Tidakkah itu bisa disamakan?Kebahagiaan global misal?
Hahaha…lalu kau akan menertawakanku sambil terkencing-kencing di celanamu. Mungkin kau akan berkata jika segala sesutau kau pikirkan tak jelas seperti itu kau bisa menjadi kandidat penghuni RSJ nomor wahid. Ah, dikau teman,tega benar. Lalu bagaimana, banyak teman yang kutanya tapi hanya menjawab sambil lalu, seolah pertanyaanku konyol saja. Tiba-tiba terbesit pertanyaan, Apakah manusia bisa menentukan apa yang baik bagi dirinya semisal bahagia haqiqi menurutnya? Lalu, ia akan umumkan dan patenkan menjadi sebuah patokan bagi semua manusia?Lalu bagaimana jika tak sesuai bagi yang lainnya? Bulshit, diman kemutlakan itu ada? Ah, algi-lagi kau akan menertawakanku. Yah, kutahu seperti yang kita pelajari bersama tentang kemutlakan dalam filsafat adalah nihil,nir…Tapi sudah lama kutakyakin dengan jawaban dari berfilsafat yang semakin memberi keabsurdan. Hakikat kebenaran yang dicari tidak lagi sebuah hakikat, akrena mereka, para filosof lagi kebingungan menterjemahkan kehakikatan. Jika akal sudah kepalang mentok, mereka selalu berujar, memang tak ada sesuatu yang mutlak didunia ini ibarat sebuah nilai yang sangat nisbi. Bagiku mereka gagah di awal atau cuman gagah-gagahan, masak iya, iya gak sih?
Lalu standard kehidupan, termasuk hidup dan guna kuhidup, kucari pada siapa?dimana?sekarang kau bungkam teman,menatapku tajam, kau ingin jawab, tanya saja ke dosen Filsafat, tapi urung kau lakukan, karena kau tahu itu bukanlah solusi, atau kau mau mengatakan tanya saja ke psikolog, tapi juga urung kalakukan, karena kau juga tahu para psikolog belajar psikologi, sama saja, tentang filsafat cuman obyeknya adalah manusia, jiwa manusia. Kali ini kau benar-benar bungkan, tak berani menertawakanku lagi. Kau semakin terlibat dalam irama sesuatu yang membuatku bingung, dahimu berkenyit tajam,kau semakin bingung, terlihat dari berkali-kali kau garuk kepalamu yang tak gatal, karena kutahu kau rajin shampoan, tak sepertiku yang sudah lumutan.
Akhirnya, kuterduduk lemas, tak berani tatap mentari, sinarnya menyengat seolah menghinaku.Lalu…………………
Silahkan lanjut pada kontemplasiku selanjutnya
.he…he…

Re_
Urung selesai teman

Selasa, 02 September 2008

Saat itu tlah tiba

Kukerjapkan mata berkali-kali, hingga perih rasanya, tak jemu kupandangi laju jarum penunjuk waktu. Hampir Isya, ada sebersit rasa rindu, ada seberkas gores luka, luka yang tak kumengerti maknanya. Andai dua rasa itu terjelmakan hitam dan putih, saat ini pastilah hatiku abu-abu, warna yang busa buat jiwa mati, menurutku.
Sebentar lagi Isya, Isya, tertanggal i september esoknya, berarti setelah Isya adalah terawih perdana. Pikiranku kalut, jantungku berdegup tak monoton.Re bentar lagi tarawih, esok dikau pastilah puasa, apalagi dikau tidak haid, kau tak bisa beralasan pada Tuhanmu, hatiku mempermainkan akal yang sedang berdegradasi. Iya aku tahu, siapa yang menyangkal saat ini tiba, sisi pikirku bicara. Lalu khayalpun tiba, memperkelam kesadaran yang ingin putih, pengandaian menjadi mozaik kata yang sukar direka. Andai saat ini masih berbulan-bulan kemudian, atau setahun lagi, atau beberapa hari lagi, kali ini khayal merajuk, menjilat minta posisi legalisasi. Jarum jam tetap melaju, tak mengindahkan kesimpangsiuran akal dan hatiku.
"Ahh..."akhirnya mulutku mendesah, hanya bisa mendesah, masing-masing masih bersitegang dalam perang sunyi dalam diri yang letih, letih merasai diri, letih merajai langkah yang kian tertatih dalam labirin kehidupan.
"Tuhan...."kini mulutku mulai bisa berteriak, berteriak atas kekonyolan diri yang belum mampu memberi warna pada eksistensi. Jarum jam kian berlalu, dari jam menjadi menit kemudian detik. dan................
"Aaaaagggghhh.........."akhirnya teriakku tak tertahan, tubuhku bergunjang hebat, apakah gempa?apakah aku akan mati dalam perubahanku yang terus mengalami degradasi?apakah ini Tuhan jawaban atas kelahiranku ke dunia?tidakkah Kau berikan aku kesempatan lagi untuk menambah citarasaku?Tuhan.....aku...
"Hei....Re kamu itu ngapain nduk,sana cepetan wudhu dah adzan",ucap Ibu sembari terus menggoncang tubuhku yang mulai kaku.


Wualaah Reeeeeeeeeee!!

Minggu, 24 Agustus 2008

Serba-serbi pencarian eksistensi

Dalam gemuruh terpaan badai kebingungan akan sebuah eksistensi, di tengah rimba belantara keterasingan, rupanya kita masih sedia bertahan, melawan sayatan duri, lubang skeptisme, membuat kepayang akan sebuah penanggalan asa.Lihatlah beberapa manusia yang berakal tak sadar, terlalu manja, bergerumul dengan belitan keteraturan,keteraturan yang membuat mereka makin mabuk kepayang,menikmati setiap eluan kemapanan, bagiku, ataukah mungkin bagi kita, adalah terpaan badai topan yang membuat manusia terhempas, meninggalkan sisi diri yang teralienasi di rimba sendiri. Berjuang, bagiku adalah kemuakan yang terus ingin kumuntahkan, karena teriakku dan tangisku tak mempan melawan kalian, para manusia berakal tak sadar.Jablai kuaakan hyadirnya seorang kawan, hangatnya tinjuan mereka yang buatku sadar,hingga aku mampu mengatakan diriku bukan lagi alien, di tengah mereka para pemeluk pragmatisme persoalan.Tapi kalian memilih terkubur dirimbunnya ilalang perkotakkan, kotak yang membuatku menjelma menjadi sesuatu yang abstrak, bentuk yang sama sekali tak geometris, bentuk yang lama tlah buat kalian muak.Lalu kuterpaku akan sebuah pencarian eksistensi jiwa di rimba keterasingan, bukan lagi fisik yang nyata, karena bagiku semua itu omong kosong.Dimana sabetan pedang revolusimu, bukankah sabetan itu yang buatku menikmati sakitnya, hingga duri jahanam rimba tak mempan merasai sensor kulitku, lalu dimana......Kuterpekur sekali lagi, menanti roh kalian yang menjelma menjadi malaikat yang suci, tak mengerti, amnesia akan memori petualangan letih ini,menunggui jasad kalian yang terkotak di peti mati akan sebuah nama...Hingga akhirnya dunia menjadi gelap bagiku.

Re_
di suatu sudut bumi yang ringkih

Rabu, 25 Juni 2008

G Penting

^G’ PENTING^
Perubahan, satu kata yang tak asing lagi bagi orang yang menamakan dirinya sebagai agen of change, pun masyarakat awam. Realitas kehidupan mengenalkan dan mengajarkan mereka akan keniscayaan suatu perubahan. Namun, perubahan yang diyakini sebagai sebuah fakta kehidupan, tidak mutlak disukai oleh mereka yang merasai hidup. Sebut saja Heni, seorang mahasiswi yang penulis temui sedang bengong di sudut taman perpustakaan kampus Hijau. Ditanya pendapat seputar perubahan, dia mangaku phobi dengan yang namanya perubahan. Baginya perubahan adalah pintu menuju ketidakpastian meskipun dia sendiri juga paham bahwa perubahan dalam skala kecilpun pasti ada dan menimpa semua orang termasuk dirinya, “Sebuah empirik hidup saja kok mbak” begitu ungkapnya.
Dyah, seorang mahasiswi lainnya, mengaku juga kalau dirinya kurang begitu suka dengan perubahan yang terjadi baik yang menyangkut diri, keluarga dan masyarakat. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kemampuan meraba dan adaptasinya yang kurang terhadap perubahan tersebut. Salah satu usaha mengatasi adalah easy going sehinga tidak terlalu membuat dirinya tertekan, “Hidup itu untuk dijalani dengan rileks mbak, meski perubahan itu yakin ada, tapi ya easy going ajah…”ungkapnya.
2 mahasiswi diatas adalah salah dua contoh bagi mereka yang kurang atau bahkan tidak suka akan adanya perubahan, meskipun contoh ini tidak cukup untuk dijadikan argumen dalam menggeneralisir alasan ketidaksukaan terhadap hal ini, namun secara berani penulis melihat ada kesamaan dari contoh diatas, yaitu penerimaan atas adanya perubahan dan yang kerap bermasalah adalah bagaimana menghadapi perubahan, bukan pada perubahan itu sendiri. Mungkin juga karena perubahan yang terjadi lebih banyak merupakan “Shock Therapy”.
Perubahan menurut penulis ada yang bersifat alami dan bersifat buatan. Inti dari perubahan yang bersifat alami adalah ketidakberdayaan manusia dalam proses perubahan di dalamnya, atau lebih agamisnya adalah sudah ketentuan Tuhan,contohnya adalah pertumbuhan makhluk hidup, dulunya kecil berubah , berkembang menjadi besar, muda menjadi tua, dulunya hidup kemudian mati. Sedangkan inti dari perubahan yang bersifat buatan adalah masih adanya upaya manusia dalam proses pembentukannya, meskipun dalam kesemuanya sudah berlaku ketetapan Tuhan. Contohnya antara lain kasus climate change akibat global warming,perubahan harga kebutuhan pokok manusia, perubahan kondisi masyarakat, dll. Namun ada juga kalangan yang tidak setuju dengan pengkotakan ini. Pertanyaan yang kemudian muncul, misalnya “Kenapa harus ada pembedaan seperti ini?”, “Mengapa juga harus ada perubahan alami?”
Kemudian ada argumen yang menyatakan bahwa perubahan sendiri selalu mengkaitkan manusia di dalamnya, atau perubahan adalah produk dari tindakan manusia itu sendiri. Terkait dengan perubahan alami dengan Tuhan sebagai Penguasa, maka Sang Penguasa akan digantikan dengan materi, karena segala sesuatunya adalah materi, perubahan adalah dari materi kepada m,ateri, yang kesemuanaya masih ada dalam jangkauan manusia. Sehingga perubahan merupakan suatu hal yang rasional , itulah yang membuat perubahan ada dan dapat dijalankan. Argumen seperti ini akan membuat rancu perletakan tentang perubahan mana yang masih ada dalam koridor manusia sehinga akan sangat terkait dengan metode dan cara yang digunakan untuk mencapainya. Seperti halnya pada kasus feminitas pada wanita dan maskulinitas pada pria. Jika diasumsikan bahwa pelekatannya adalah produk budaya maka feminitas dan maskulinitas boleh saja terjadi kemungkinan perubahan silang yaitu maskulinitas pada wanita atau feminitas pada pria karena hal ini termasuk pada perubahan buatan, manusia masih bisa “merubah” dalam prosesnya.
Memang akan ada banyak asumsi terkait dengan makna perubahan dan bagaimana manusia memahami dan menjalankan dan berupaya meraihnya. Asumsi adalah pendapat seseorang terhadap suatu hal yang didasarkankan pada realitas dan pemikiran tertentu . Oleh karena itu asumsi yang banyak berkembang tentulah dengan bijak dipelajari dan diteliti lebih jauh, karena realitas yang dijadikan salah satu acuan berpikirnya bisa mengalami perubahan dari waktu ke waktu, hal ini boleh jadi berpengaruh dengan konklusi awal. Maka penulis lebih suka mengembalikan pada empirik masing-masing individu. Dengan itu manusia akan lebih jujur menganalisa adanya perubahan, bahwa kehidupan tidaklah dinamis. Perubahan adalah inti, sebuah poros kehidupan, dengannya kehidupan berputar. Dalam empiriknya, manusia kan lebih jujur menilai bahwa manusia bisa menjadi subjek ataupun objek perubahan tergantung bagaimana menempatkan diri, dan ternyata dalam kesemuanya terdapat The Invisible hand sebagai pengendali roda kehidupan, sehingga perubahan yang terjadi didalamnya baik buatan dan alami tidaklah berjalan dengan metode yang acak adul tanpa aturan, sehingga perubahan yang terjadi malah menimbulkan kesengsaraan bagi subjek dan objeknya.
Selamat Menganalisa dan Merasa.

Disudut taman_”Puff…daripada bengong..” ^0^