Minggu, 21 September 2008

Simbol yang jadi bumerang
Berawal dari diskusi dadakan saya bersama kakak. Sebenarnya sudah terlalu biasa bagi kami berdiskusi,karena menyebutnya sekedar nercakap-cakap kok tidak pas, karena memang yang terjadi diskusi, meski tak jarang berawal dari obrolan ringan, dan akhirnya memberat, dan tak jarang pula kamipun kewalahan, kadang sepakat terhadap sebuah penyelesaian suatu perkara, kadang bersikukuh pada pemahaman masing-masing, kadang buyar karena cenderung debat kusir. Ah memang si kakak, kalo pas ketemu saja (itupun nggak sering-sering) selalu berujung diskusi. Tapi dari situlah saya bisa menggali beragam ibroh akan sebuah perbincangan.
Suatu waktu kakak bertanya, “Hei Re, ada seorang muslimah, seorang akhwat, aktifis dakwah malah, di sisi dinding kosnya terpampang lebar poster Che Guevara, menurut adik, karena apa si akhwat nglakuin itu?”
Sejenak sayapun berpikir, saya paham maksud pertanyaannya, Che Guevara tentulah berbeda dengan tokoh Ibu kita Kartini, Che identik dengan tokoh pejuang kiri, tentulah akan sangat aneh ditemukan poster wajahnya terpampang lebar di dinding kos-kosan akhwat, aktifis dakwah Islam pula. Secara, azas perjuangan Nabi Muhammad dengan Che bagaikan langit dan bumi.
“Yah tergantung mbak,” saya mencoba menjawab singkat,
“maksudnya tergantung??”kakak saya bertanya dengan intonasi suara memberat. Saya sudah bakalan tahu, kalau ia akan langsung tanya balik.
“yah, manaketehek mbak, klo ditanya alasannya mah, mending tanya ke akhwatnya sendiri,” jawab saya sembari berkelakar. Eh, saya kira kakak saya juga ikutan tertawa, tapi bukan tertawa tepatnya, raut mukanya memang langsung berubah, berubah manyun, dahinya mengernyit,
“kok bercanda sih dek, yah mbak tahu, tapikan mbak tanya klo menurut adik, seandainya dikau gitu?!” katanya dengan sedikit hardikan
Wah, nih bakalan serius, jurus banyolan saya sudah tak mempan. Baiklah, secepat mungkin saya tata retorika dan bermodal jawaban asal yang masih beragam di kepala.
‘Ehm, bisa jadi itu hanya jadi spirit baginya…”
“Spirit bagaimana?” tanya kakak
“yah, mungkin si akhwat cuman mengambil sisi kegigihan perjuangan Che waktu bergerilya di hutan belantara,misalnya,”
“mengambil spirit?, bukan, mungkin juga si akhwat sudah terobsesi dengan si Che, hingga memajang poster di dinding , ia mulai melirik alur perjuangan Che…” nada kakak mantap tanpa memberi celah anggapan bahwa ia menyodorkan pertanyaan, tandanya, pernyataannya barusan adalah sebuah statement pendapatnya, bukan lagi kebingungan,
“Itukan sama saja ketika adik menempel poster Bush gede-gede di dinding atau pintu kamar adik, itu tandanya adik terobsesi…” kata kakak sambil menodongkan telunjuk jarinya ke arah saya.
Saya terdiam, singkat sekali untuk menyimpulkan, diskusi ini terlalu singkat untuk menghasilkan keputusan,
“ya, iya sih, saya memang terobsesi…”
“ nah kan, makanya, memang harus hati-hati mengobsesikan sesuatu, bisa jadi melenakan kita akan sesuatu yang justru berlawanan dengan arahan yang telah kita perjuangkan” kata kakak sambil beranjak dari tempat duduk dan menepuk bahu saya pelan. Meninggalkan saya yang diam terpaku.
“Maksud saya mbak, memang saya terobsesi ketika nempelin foto Bush, saya terobsesi untuk segera melenyapkannya dari muka bumi berikut pemikiran kejinya, terlalu picik hanya gara-gara poster saya berubah haluan, apalagi fotonya si Bush nggak ada gantenganya sama sekali, hih jijay…” gumam saya menyelesaikan ucapan yang belum tuntas.

Yah sekedar simbol, menjadi bumerang.

Re_

Sepetik Kesadaran tentang....

Hari itu anomali buatku, ada sebuah rencana tak terduga. Bulan inikan bulan puasa, seperti biasanya aku main ke kampus ISI, silaturahmi ke bagian muslimah sie kerohanian Islamnya,alias di masjid Kalimasada. Aku pikir berbincang dengan mereka sangat menyenangkan. Karakter orangnya macam-macam, ada yang diam saja, ada yang senang berbagi cerita. Suntukku akan keteraturan akan hilang ketika bercengkrama dengan mereka. Tak jarang pula kujumpai mereka dengan dua pakaian yang berebeda dalam waktu yang berbeda,kebanyakan mereka memakai kerudung (meski gaul), tapi ketika akan praktek semisal praktek menari mereka akan melepas kerudung, ironis mereka, dan kerennya mereka berbagi akan hal itu. Sore itu seharusnya ada kajian dan yang mengisi temanku, berhubung mendadak temanku kecelakaan, jadi vakum, tapi mereka tidak mau kalau vakum. Tertunjuklah diriku sebagai pengisi kajian, menggantikan. “ah yang benar saja, ku tak ada persiapan pren,”kataku jujur pada mereka, tapi entah mengapa juga kepercayaan mereka terhadapku tinggi sekali, bak anak kecil yang merajuk pada ibunya. Lalu kukatakan lagi pada mereka,”benar lho, kalau bahasan fikih wanita, pengetahuanku masih dangkal,” dan jawab mereka”ah m, apalgi kita, udah gak apa-apa”. Ya sudah, jadilah itu kajian perdanaku, tanpa persiapan pula. Alhamdulillah dalam ucapan dimudahkan Allah. Bener-bener Allah emang Maha Besar. Ya iyalah.
Kau tahu teman, jika menulis atau menggambar aku masih sanggup, tapi kalau suruh bicara aku masih terbata-bata. Maka hal itu paling aku hindari, aku terlalu takut jika perkataanku terlalu menggurui, sampai aku selalu mengulang pertanyaan pada mereka, “Apakah tadi yang kusampaikan jelas, tak terlalu sulitkan?” “Maaf, gak menyinggungkan?” karena kupaham teman, apa yang akan dan setiap kata yang kusampaikan akan sangat menyinggung mereka atau bertolak belakang dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Katakanlah semisal pakaian atau dandanan, mayoritas mereka sungguh seperti wayang. Ataukah mungkin kuliah yang menuntut demikian ?entahlah. Maka etrakhir penjelasanku, aku menekankan kebenaran apa yang kusampaikan, dan kesadarn untuk melaksanakannya, inilah kewajibanku sebagai saudara, mengingatkan. Akhirnya semua terdiam, begitu juga aku. Mencoba me reka makna diam kami. Lalu tak terduga kamipun saling sharing, aku kemukakan pengalamanku pertama kali hijrah memakai jilbab dan kerudung. Asyik deh.

kotak versi baru

'kotak'
Saya tidak akan berbicara kotak dalam analisis matematika,tapi bicara wacana lain tentang kotak. Berawal dari obrolan yang menemukan sebuah wacana tentang kotak. Diskusi inipun berawal dari kemumetan saya setelah beberapa lama mengikuti mata kuliah filsafat. Satu-satunya mata kuliah yang bikin saya tambah puyeng daripada mudengnya. Selalu saja saya menjaga kepala tetap tegak ketika kuliah berlangsung , melawan ngantuk yang tiba-tiba hinggap,sementara mayoritas teman-teman lebih memilih bertopang dagu dan mengobrol sendiri. Saya terpana ketika untuk pertama kali bagi saya, ada dosen jurusan kuli gambar yang memaparkan kuliah tentang kehidupan,sejak sekian lama kami, para mahasiswa berkutat tentang gambar-menggambar, meskipun hingga kini saya belum bisa menjawab apa relevansi filsafat ilmu dengan jurusan yang saya tekuni, pun ternyata dialami oleh teman-teman juga. Beliau memperkenalkan tentang filsafat sebagai cara berpikir alternatif,mendobrak status quo cara berpikir yang ada. “Manusia adalah makhluk yang berpikir ,hanya saja tidak semua orang memiliki kesadaran berpikir.”Saya yang dari tadi mengantuk berat, tiba-tiba bersemangat untuk mendengarkan kuliah beliau (tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai ceramah),sejenak saya berpikir tentang apa yang beliau paparkan tentang kesadaran berpikir. Saya mencoba memahami apa yang beliau maksud tentang kesadaran berpikir, hal yang perlu saya lakukan karena boleh jadi apa yang beliau pahami tentang hal tersebut berbeda dengan yang saya pahami.Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa hilangnya kesadaran berpikirlah yang menyebabkan kemunduran kondisi bangsa. Cara berpikir manusia telah terdoktrin oleh cara berpikir pada umumnya, telah terkungkung oleh salah satu cara berpikir yang menyebabkannya sulit menerima cara berpikir lainnya.Itulah mengapa berpikirnya kebanyakan orang susah berkembang, terlalu cepat menyalahkan suatu hal yang berbeda dalam sudut pandangnya. “Coba, sekarang kalian semua pandang dan lihat saya, tentunya ketika saya tanya ,Apa yang anda lihat dari penampilan saya, mahasiswa satu dengan yang lain akan berbeda, mahasiswa yang berada tepat di depan saya akan menjawab berbeda dengan mahasiswa yang ada di samping saya, Meskipun begitu tentu saya tidak bisa menyalahkan ataupun membenarkan, karena semua memiliki sudut pandang yang berbeda”papar beliau diikuti anggukan para mahasiswa.Masuk akal juga.Beliaupun menuju papan tulis dan mulai menggambar sesuatu, sebuah kotak dengan titik diluar kotak. “Saya ibaratkan kotak ini adalah penjara, sedangkan titik di luar adalah napi yang berhasil kabur dari penjara,pada waktu itu polisi berusaha mencarinya di semua sudut dalam penjara tapi tidak ketemu, pertanyaannya mengapa polisi begitu sulit menemukan, silahkan anda menjawab.”kamipun langsung menjawab bahwa polisi tidak berhasil menemukan karena hanya mencari di dalam penjara saja.Beliau tertegun dan melanjutkan pemaparannya. “Begitulah ketika manusia terjebak pada satu kotak pencarian saja, seandainya polisi itu mencari di luar kotak, tentulah peluang menemukannya akan jauh lebih besar.” kali ini saya tertegun, mencoba memahami makna implisit ucapan beliau.”Manusia seyogyanya berusaha keluar dari kotak berpikirnya selama ini, berpikir di luar kebiasaan, berusaha mecari hakikat sesuatu dengan lebih leluasa.”paparan beliau menyudahi kemumetan saya, maklum saya termasuk orang yang susah memahami kata- kata yang tidak lugas.
Humm……keleluasaan berpikir mencari hakikat kebenaran, begitulah inti paparan beliau yang saya tangkap. Jika boleh saya memberi judul perkuliahan ini adalah “Pencarian makna dibanyaknya analogi berpikir”, karena sejauh ini beliau banyak beranalogi ketika membahas sesuatu, maka saya juga akan belajar beranalogi.
***
Membahas tentang terminal bis, tentu obyek utamanya adalah bis, jika tak ada bis maka terminal itu akan tertolak sebagai terminal bis, begitu juga dengan terminal bis juga akan tertolak jika diaku sebagai terminal kereta api, karena memang dari fungsi awal berdirinya sudah khusus sehingga sarana prasarana yang dibangun juga akan khusus.
Namun baik bis, kereta api, kapal terbang, kapal laut, semua pastilah memiliki orientasi gerak. Tidak ada yang membuat dengan tujuan agar benda-benda ini tetap diam karena fungsinya sebagai alat transportasi.Karena itulah mereka memiliki jalur sebagai media gerak. Agar berkendara menjadi lancar, pastilah ada aturan mengemudikan yang benar, aturan berlalu lintas.Jika sedikit saja dilanggar, atau ada peraturan berkendara yang tak ditaati, pastilah akan mengacaukan tatanan lalu lintas.Tidak perlu untuk diuji, toh sudah banyak kasus kecelakaan yang terjadi akibat mal praktek/human error, tentu kecelakaan yang banyak terjadi tidak langsung dengan tergesa akan kita jawab, “Segala sesuatu yang terjadikan sudah ketentuan dari Tuhan” atau “Ah biar sajalah, terserah dengan tindakan kita, mal praktek ataupun bukan, toh ntar juga akan kita pertanggungjawabkan”.
Aturan berlalulintas yang telah ditetapkan misalnya tentu bukan merupakan sebuah paksaan. Sudah sewajarnya kalo Bis melaju di jalan darat, kapal laut di air, kapal terbang melaju di udara, jika kapal terbang melaju di darat maka namanya bukan sedang terbang, dalam bahasa inggrispun namanya landing artinya fungsinya untuk terbang belum terpenuhi. Oleh karena itu, semuanya memiliki pongkalan yang berbeda memang dan juga aturan mainnya ,tidak bisa dikawinsilangkan. Lalu lintas yang teratur tentu lebih dipilih daripada kondisi lalu lintas yang semrawut, negara pengusung liberalismepun akan setuju dengan hal ini, apakah mereka akan mendemo bahwa lancarnya lalu lintas adalah penjara bagi kebebasan berkendara?? Jika memang mau mengikuti alur fredoomnya, pengendara bisa menciptakan kondisi lalu lintas yang diinginkan, ia bisa bertindak ugal-ugalan dalam berkendara, terserah akibatnya nanti, yang penting dia sudah berexperimen, dan silahkan simpulkan sendiri hasil akumulatifnya. Tentu ada aturan sehingga proses berkendara bisa rapi dan tidak menimbulkan petaka bagi manusia itu sendiri, baik yang berkendara maupun tidak. Aturan dari mulai melaju hingga kembali ke pangkalannya, begitu juga kendaraan lain yang kembali pada titik tertentu, semua ada batas laju, artinya dari acuan berangkat sampai acuan berhenti ada aturan dan media laju yang kudu dipatuhi sehingga tujuanpun bisa dicapai dan tidak mall praktek sehingga tidak akan sampai pada tujuan yang direncanakan. Begitulah analogi diatas dengan proses berpikir yang juga bermacam-macam. Berpikirnya manusia ibarat proses laju, tentu harus ada metodenya, yaitu metode berpikir rasional, dengan bermacam cara berpikir, baik berpikir ilmiah, berfilsafat (ilmu mantiq),dll.
Metode berpikir rasional adalah baku, Mengapa saya katakan baku? Bukannya saya melakukan doktrinasi,namun karena memang merupakan berpikirnya manusia pada umumnya. Mengapa juga saya bedakan antara metode dan cara? Karena memang keduanya berbeda, metode adalah teknik baku pelaksanaan, sedangkan cara adalah teknik yang bisa berubah-ubah, disesuaikan oleh kondisi pelaksanaan,meskipun tidak pernah jauh menyimpang dari metode pokoknya.Menurut pemahaman saya, manusia berpikir memerlukan 4 komponen, yaitu otak, panca indra,fakta, dan informasi tentang fakta itu sebelumnya.Jika salah satu dihilangkan maka berpikirnya tidak akan utuh. Contoh simplenya adalah ketika seorang dewasa atau profesor sekalipun yang buta pengetahuan tentang huruf china, samapi kapanpun taka akan mampu membaca tulisan berbahasa China. Ia harus belajar dulu (beragam pengetahuan tentang tulisan China) baru ia mulai bisa membaca dan menterjemahkan maksud tulisan tersebut. Ketidakmampuan si profesor membaca dan menterjemahkan tulisan China bukan karena ia bodoh, atau tidak berakal sehat, hanya saja belum sampai padanya pengetahuan tentang bahasa China, salah satu komponen penyempurna proses berpikirnya. Sedangakn maksud akal adalah pikiran itu sendiri, sesuatu yang tidak konkret tapi nyata, ada dalam penampakannya yang lain, dari produknya. Akal adalah pikiran, proses berpikir, yang hanya dimiliki manusia, maka kesadaran berpikir hanya dimiliki oleh manusia, bukan hewan. Nah, jika ada manusia yang berkelakuan layaknya hewan, seperti kumpul kebo, memamerkan aurat, bugil, bukan berarti manusia ini tidak punya akal, tapi ia melakukan sesuatu yang dilakukan hewan dalam bertindak. Manusia tidak menggunakan akal yang menjadi potensinya, tapi cenderung mendewakan kebutuhan nalurinya untuk dilakukan pemenuhan.
Itulah kesadaran berpikir, dalam artian penulis, adalah bentuk kesadaran manusia akan potensi yang didapatnya gratis dari Sang Pencipta, untuk ia gunakan memikirkan dan merenungi tentang keberadaan dirinya, alam semesta dan kehidupan yang meliputinya, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, yang menjadi sebuah kebingungan (mungkin, sampai disini maka lahirlah banyak filosof dengan tesis filsafatnya yang berbeda satu sama lain)tentang Siapa di balik ini semua?Siapa yang menjadikan?Siapa yang mengatur hingga tertata satu dengan lainnya?Aknkah materi itu sendir berkuasa?atau Siapa? Berkali-kali, Sampai berabad-abad terus dipikirkan kalangan filosof, para pemikir. Memang bagi seorang pemikir, seorang yang tentunya tanggap, inilah yang menjadi kebutuhan untuk segera diselesaikan, harus diketahui tepat jawabannya, untuk kemudian ia dapat menjalani hidupnya dengan gamblang, tanpa abu-abu lagi. Karena ini adalah hal yang mendasar. Inilah kesadaran berpikir. Sadar memikikan dasar, falsajfah kita ada, kita hidup dan menjalani kehidupan, berkelana mencari eksistensi diri dan kebahagiaan. Tentulah ini adalah kunci emas menuju pintu pencerahan. Memang kesadaran berpikir, penulis setuju jika tak ada doktrinasi karena akan memampatkan laju pikir. Ada doktrinasi, berarti ada tekanan, membuat orang takut berpikir rasional. Filosof sangatlah menyadari bahaya ini, sebuah pengalaman pahit akan doktrinasi gereja. Tentu masalah diatas adalah manyangkut masalah keimanan, Tuhan memberi peluang yang besra bagi kita untuk berpikir, dalam jangkauan yang memang mampu dipikirkan manusia, mampu dijangkau akal. Karena dalam perjalannya, memang ada hal yang pantas disebut rambu, hal yang tak bisa kita jangkau, conto yang pasti adalah tentang dzat Tuhan. Tuhan sepertia pa dan kerajaannya seperti apa, sampai jebatpun tak akan mendapatkan hasil jawaban yang 100% benar. Disinilah akal tunduk, ini bukanlah doktrinasi, penghambat kesadaran berpikir, penghambat kebebasan berpikir. Tapi sejujurnya, bagi para pencari kebenaran, tentu dengan maklum akan setuju dengan hal ini, jika ngotot dipaksakan bahwa akal bisa menjawab, pastilah jawabannya nisbi. Hanya gambaran akal manusia. Tidak bisa dibuktikan.
Berpikirnya manusia, tentulah ada jalur, seberapa ngawurnya ia akan berkelana dalam pemikirannya. Arahan yang akan mengantarkannya pada tujuan mencari jawaban sesuatu yang ingin diketahuinya. Hanya saja, agar tidak saling tabrak, tentu jalur yang dipakaipun harus tepat, agar sampai ke tempat tujuan. Berpikir ilmiah memang tak salah jika digunakan ketika meneliti suatu benda yang tunduk pada penelitian manusia, yang boleh jadi hasil penelitian kan bisa terbantahkan di kemudian waktu oleh hasil penelitian lain yang dinilai lebih valid. Jika metode ilmiah (cara berpikir dengan meniadakan informasi sebelumnya) dipakai dalam proses keimanan, akan tidak sampai tujuan yang diharapkan, yaitu menggapai keimanan yang haqiqi, keyakinan yang bulat, tidak subhat, karena perkara untuk meyakini dzat Tuhan hanya bisa dicari lewat perantara keberadaannya ciptaannya (seperti analogi simple, ada kursi pasti ada pembuatnyakan?) bukan sampai harus menghadirkan secara nampak mata akan dzat Tuhan, maka hal itu, bagaimana tentang konsep dzat Tuhan, perkara dimana keberadaannya, akal tunduk pada informasi langsung dari Tuhannya, yaitu lewat Kitab suci yang tersampaikan lewat RasulNya. Tentu ini bukanlah doktrinasi, kita gunakan metode berpikir rasional dalam hal ini, sekali lagi bukan metode ilmiah.
Oleh karena itu, terkait perbedaan memahami dan menghukumi fakta dan peristiwa, memang harus dilihat banyak hal sebelum menjatuhkan justifikasi, penulis sepakat dengan sang dosen filsafat, hanya saja kita juga jangan terlalu berlaku toleransi, harus diteliti dulu pertamakali, yaitu kesesuaian pemakaian cara berpikir. Sudah tepatkah? Baru dilihat analisis dan dasar argumennya? Jika dari awal sudah tidak tepat menempatkan cara berpikir, mengapa juga dibutuhkan toleransi berkepanjangan? Tentunya teman menolak jika pisang goreng, saya anggap ketela goreng, gara-gara sudut pemikiran yang saya gunakan beda. Atau teman saya samaratakan dengan orangutan, gara-gara memang demikianlah hasil penelitian ilmiah saya? Manusia dianggap orangutan yang berevolusi. Walah-walah. Padalah jika mau merunut potensi yang membedakan manusia dengan hewan, tentulah ini tertolak. Kawin silang pemikiran yang gagal dari awal.Iyakan?iya nggak sih???Lalu hubungannya ma kotak diatas?iyaya..apaan ya?he2
Re_
Akhirnya diskusi kamipun terpaksa diakhiri karena waktu sudah beranjak dini hari

Autumn leaves R.I.P

Daun autumn berjatuhan, menari gemulai , memberi warna pelangi pada udara, disampingnya sakura kuning turut menari melambai dalam sapuhan sepoy angin, urun menghias udara yang makin kelabu. Sementara aku berdiri terpaku,menengadahkan kepala, membiarkan rontokan daunnya mamapir, menggores wajahku yang tlah lama luka., tanah semakin memudar warna coklatnya, tergantikan oleh warna pelangi, daun yang gugur memberi warna pada bumi yang monoton, terinjak, membusuk dalam Sang kuasa Raja pengurai, menyisakan kenangan akan keindahan, yang dulu, sebelum jatuhnya pernah mentakjubkan sosok orang, sepertiku. Mereka yang jatuh menjadi sampah yang terlupakan oleh sejarah pandangan subyektif mata…
Muakku, berkali-kali hujamkan ludah yang kian serak, untuk terus menengadahkan wajah yang kian membusuk karena sayatan luka, untuk sekedar berempati, sebelum daun menyentuh ke tanah.
E:\rerechan\my sketch\DSC00844.jpg



Teruntuk:
bagi jiwa yang tlah gugur, menyerah dalam keangkuhan manusia

Jumat, 05 September 2008


Kontemplasi ala Re

“Tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan…”
“pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan…”
“…satu-satunya yang dapat kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah rasa ingin tahu…”


Urung kulanjutkan membaca buku tentang filsafat. Beberapa paragraf saja membuatku lama berpikir. Pikirku berputar antara keheranan dan pemahaman yang sudah terlanjur kuterima bahwa filsafat itu menyesatkan, cara berpikir tak layak buat gapai keimanan haqiqi. Tapi sudahlah, biarlah info itu berhenti pada tataran pemahaman, aku hanya ingin jujur pada diriku, mencoba belajar memahami konteks dari nol. Biarlah kuraih kesadaran pikirku, begitulah sebuah azzam kulantunkan. Kemudian kubaca buku tersebut perlembar. Seberkas senyum mengembang, merona di wajahku. Bukan, terlalu cepat mengatakan aku dapat pencerahan. Semakin membacanya, sama ketika membahas kajian tentang keimanan, hanya saja buku ini berangkat dari sudut pandang yang berbeda. Lama pertanyaanku berkutat, tentang sebenarnya filsafat itu. Jujur lagi, aku tak begitu suka dengan jawaban instan orang yang langsung buyarkan asaku. “Sudahlah, ngapain belajar Filsafat dalam-dalam, kau akan pusing nantinya,” atau begini, “Filsafat itu akan menjerumuskanmu,”. Okey, tapi tolong jelaskan argumen kalian dulu, nihil. Kebanyakan mereka yang kutanya enggan berdiskusi panjang. Gak Asoy banget loe. Mengapa selalu berangkat naik bis tanpa mau naik bis lebih dulu, pinginnya langsung sampai ke tempat tujuan. Kembali pada kontemplasiku…
Lama-lama aku menjadi tertarik untuk membacanya lebih jauh, sudah beberapa buku aku baca, meski terkadang tak selesai. Aku tertarik pada apa yang membuatnya menarik, pada apa hingga sebagian orang menistakannya, hanya itu, belum lebih. Untungnya, ada mata kuliah Filsafat yang kuambil, dan yang paling asoy dosen pengajarnya bukan tipe penghapal apalagi pendoktrin, tapi lebih pada pendongeng. Jangan harap, ketika kalian ikut kelasnya, langsung tahu Filsafat adalah…, lalu tokohnya antara lain…, pembagian Filsafat antara lain…, tidak, sama sekali tidak langsung itu. Karena menurutnya tak terlalu penting. Prinsipnya memahamkan dengan cara beda, tak langsung, tapi tepat sasaran. Filsafat yang pertama kali kukenal, lebih banyak menggunakan analogi dalam mencotohkan sesuatu, mnurutku disinilah kecermatan pikir diasah, karena biasanya analogi itu multi interpretasi.
Para filsuf adalah seorang yang berpikir, memikirkan sesuatu yang dia ingin tahu, radikal dalam mendobrak kemapanan. Ataukah berarti Filsafat anti kemapanan? Kemapanan adalah sesuatu yang mapan, yang eksis hingga tak usah diusik lagi keeksistensiannya. Layaknya kutu anjing yang hidup di sela-sela bulu anjing, kutu tersebut ingin terbang, atau memanjat bulu-bulunya yang licin hingga dirinya mampu melihat si empunya bulu. Itulah Filsuf, berbeda dengan teman-temannya sesama kutu, lebih memilih mendekam dalam hangatnya bulu dan panas tubuh si anjing hingga enggan untuk bertindak seperti temannya, begitulah kira-kira. Para Filsuf sangat menyayangkan tindakan yang demikian, terlalu menerima dengan anggukan yang cepat, bahasa jawanya, Nrimo ing Pandum. Bagi mereka, para Filsuf, disitulah seharusnya yang membedakan manusia dengan makhluk lain, ada akal, Tentu akal sendiri adalah sesuatu yang tak langsung dapat diindra, itu yang membedakannya dari otak, akal yang dapat berfungsi dan ada pada manusia, tidak pada hewan. Namun, tidak semua manusia memiliki kesadaran pikir yang sama, tergantung kekritisan, rasa ingin tahunya, yang memacu akalnya bergerak aktif.
Pikir alias akal. Wow, menarik. Tak semuanya memiliki kesadaran berpikir?yah, tak usah dijelaskan lagi, contohnya seperti analogi kutu diatas. Kesadaran pikir manusia terbelenggu oleh doktrin atau mungkin mitos yang terlanjur ia percaya, hingga sulit untuk sekedar kembali berfikir lagi tentang segala sesuatu yang mampu diindra, tentang hidupnya, siapa dirinya, alam semesta. Jikalau menurut para pecinta kemapanan itu, kebenaran telah berada di tangan mereka, maka itupun lebih banyak karena penerimaan terlebih dulu, tanpa usaha berpikir dari awal.
Baiklah, Filsafat memang lahir karena rasa ingin tahu manusia, tidak hanya filsuf semua orang aku yakin jika mau kritis juga akan bersikap demikian, karena aku masih percaya pada agama yang kuanut, tak semua agama itu doktrinasi, tapi disini saya tak ingin bahas pembuktian dan lain sebaginya, bukan dalam bahasan kali ini, untuk sementara tak ada kata-kata agama disini, karena aku tak ingin menjadi penumpang bis tanpa naik bis. Keingintahuannyalah yang buat manusia berpikir, karena potensi yang ada dalam dirinya, Lalu darimana datangnya potensi ini ?tentu kita tak bicara tahyul, atau dengan jawaban “sudah takdir bung, mbak,jeng” atau lagi seperti jawaban penganut keabadian materialisme, “sesuatu itu ada dari materi, karena materi itu ada,”, kasihan sekali karena tentunya akan banyak orang yang tak percaya pada sesuatu yang buat tubuh ini hidup.
Sebenarnya, mereka entah yang mengatakan diri mereka Filosof atau bukan, berangkat dari persoalan yang sama, pencarian hakikat diri dan kehidupan, sesuatu yang sangat berarti ketimbang persoalan hidup yang lain, karena semisal makan, tidur, ngeseks atau yang lainnya tergantung pada penentuan jawaban akan hal diatas. Bukankah manusia ingin hidupnya bermakna, tak seperti mayat hidup, hingga ada slogan, buat hidupmu lebih hidup. Hanya saja dalam perjalanan meraih kesadaran pikir tadi yang bikin arah dan jawaban yang berbeda atau dengan kata lain, sangat boleh jadi para manusia membuat cara berpikir sendiri untuk meraih kebenaran jawaban tersebut. Pada mulanya memang demikian, mencari hakikat kebenaran, hakikat kebenaran yang haqiqi, tapi lama-lama sebagian diantara mereka (meski sekarang sudah dijadikan patokan alias opini umum) mulai bertoleransi dan berkesimpulan bahwa tak ada kebenaran yang haqiqi, kebenaran mutlak, karena banyak filosof yang berbeda jawaban karena cara yang mereka gunakan memang menghendaki jawaban yang akan berbeda-beda pula. Semisal kasus darimana datangnya sebuah tanaman tumbuh. Ada yang menjawab dari tanah, karena pada waktu itu ia langsung mengamati tanaman muncul dari dalam tanah, ada lagi yang mengatakan tanaman tumbuh dari air, seperti pengamatan Thales(kata orang sih Filosof pertama) tentang segala sesuatu berasal dari air, karena selama perjalanannya ke Mesir, dia mengamati tanaman yang mulai tumbuh begitu banjir sungai Nil surut. Jawaban bisa berbeda meski semua berasal dari pengamatan. Aku pikir, mengamati saja semua orang bisa, tidak orok tidak orang tua. Tapi apa cukup hanya selesai pada pengamatan?. Memang pengamatan akan berhenti pada materi, sesuatu yang dapat diindra. Tapi hal itu kemudian akan bermasalah ketika disodorkan fakta yang nonreal? Fakta kok nonreal?Lho…bukankah dalam berpikir akan muncul beragam kemungkinan, boleh jadikan dunia ini tak terbatas, boleh jadikan tumbuhan itu tak tumbuh baik di tanah maupun diair, boleh boleh jadi kan ada yang namanya nyawa, spirit yang membuat tubuh ini hidup, boleh jadi juga ada kekuatan abstrak di luar jangkauan kita. Sampai disini, lama aku merenung, menyelami beragam pemikiran yang buatku makin absurd saja. Iya ya, semua bisa boleh jadi. Jawabanpun akhirnya boleh jadi, hingga memperkuat bahwa segala sesuatunya menjadi relatif, berarti juga boleh jadi, jawaban siapa kita sebenarnya berubah dari waktu ke waktu, tergantung zamannya, apakah kala klasik, modern atau postmodern?iyakan? lalu apa bedanya kita dengan kelinci percobaan?ya tidak ada bedanya, sampai disini, sama. Lalu jika kebenaran itu nisbi, berarti bisa saja aku menyimpulkan tidak ada kebenaran di dunia ini, semuanya abstrak, jadi hentikan tindakan konyol kalian mencari hakikat kebenaran, hakikat kebenaran tak dibutuhkan lagi di dunia manusia, silahkan berinterpretasi sendiri-sendiri asalkan sudah melalui proses berpikir. Seperti apa dan sedalam apa proses berpikir yang kalian lakukan terserah pada diri kalian, karena tak ada sesuatu yang haqiqi.
Sampai disini, aku teringat dengan temanku kuliah yang memprotes nilai Filsafat mereka yang jelek, sementara mereka protes, aku banyak mendengar tanpa mau mengaku nilaiku A jika ditanya, aku hanya ingin tahu alasan mereka protes. “Bukankah kata beliau(dosen filasafat) tak ada kebenaran mutlak, keindahan mutlak, lalu mengapa harus ada ujian dan nilai?” Dan kami saling menjawab kenapa ya?aku sendiri juga tak tahu mengapa nilaiku A, apakah nilai begitu penting, jika segala ukurannya kian tak jelas, karena inilah, hingga kini aku tak begitu menghiraukan nilai A yang kusandang, boleh jadi aku dari total hanya 5 orang yang dapat A adalah terburuk dari mayoritas mahasiswa. Hanya sesuatu yang kerap menggelitikku adalah bagaimana si dosen sampai pada kesimpulannya? Bukan pada apa yang mereka pikirkan, tapi bagaimana mereka menyikapi apa yang mereka pikirkan hingga terbentuk beragam kesimpulan.
Apakah memang sesuatu yang mutlak itu tak pernah ada?apakah memang tak ada kebenaran mutlak?tak ada ataukah ditiadakan?ditiadakan oleh pikiran manusia yang boleh jadi menurut kesimpulan ngawurku terbatas?
Karena aku termasuk orang yang lumayan toleran, maka segala kemungkinan dari hal yang real sampai non realpun aku masukkan ke brankas otakku.Pernah suatu ketika mencapai titik kepuasan pikirku, beberapa waktu tak jenuh mempertanyakan sesuatu, tanpa menggubris pendapat orang atau literatur lain. Hanya saja, kemudian aku sadar terjerembab dalam jawaban khayalku. Kutanya Siapa Tuhan yang selalu dipuja, sosok yang paling digandrungi setiap masa?Lalu jawabanku sampai pada kesimpulan bahwa boleh jadi Tuhan memang ada, terbukti dengan adanya diriku, makku, adikku, si kucing, pohon, apa mungkin mereka menumbuhkan diri mereka sendiri, karena pernah kutanam tumbuhan di tanah tapi selalu mati, berarti tak benar juga kesimpulan yang menyatakan tanah menumbuhkan segala sesuatu. Jika memang benar tanah sumber kehidupan pastilah apapun yang kujatuhkan dan dengan cara apapun pastilah hidup, nyatanya? Lalu sosok Tuhan itu seperti apa? Kulihat tanganku, kemudian kakiku dan akhirnya semua tubuhku. Mungkinkah Tuhan itu wanita sepertiku?ataukah laki-laki?atau mungkin banci?mungkin saja, sehingga Tuhan memiliki tangan, kaki, rumah sama seperti kita, manusia. Begitulah, hingga aku kembali belum terpuaskan dengan sebuah pertanyaan ,“ lalu apa bedanya Tuhan dengan yang diciptakannya?bukankah Tuhan itu adalah agung ,maha lebih diatas segalanya?jika sama dengan yang diciptakannya berarti ia juga bersifat terbatas, jika manusia bisa mati, dan pastilah mati, maka boleh jadi Tuhan akan mati juga, lalu bagaimana otoritasnya sebagai Tuhan?” Ah. Bulshit. Aku bisa gila. Kontemplasi tanpa batasku ini mampu membawaku menjadi seorang ynag atheis.
Okeilah. Manusia memang punya potensi berupa akal. Itu alamiah, manusia juga bisa tak berakal, boleh dikata itu juga fitroh, semisal pada kasus orang gila, ia tak kuasa menolak dirinya gila, tak berakal. Lalu siapa yang buat itu semua. Kadang segala sesuatu terjadi di luar dugaan kita bukan?, lalu siapa yang buat rekamatra hidup itu? bukankah akan banyak pertanyaan Siapa setelah Mengapa? Siapa akan kita peroleh dari jawaban Mengapa bukan? Mengapa bumi bisa berputar?, Mengapa para planet dapat berputar teratur pada orbitnya?Siapa pencipta Orbit?Apakah segala sesuatunya simsalabim?lalu siapa yang buat sim salabim itu?. Itulah fungsi akal kita. Sampai dsini semuanya akan berjalan lurus. Lalu akan berkelok ketika akal dibiarkan berkelana tanpa arah, karena keterbatasannya, seperti kasus diatas. Manusia akan abstrak menilai wujud Tuhan, sesuatu yang jauh di luar jangkauan akalnya, sampai disini pikirkanlah, semoga ku tak mendoktrin kalian. Jujurlah, bahwa memang ada keterbatasan terhadap segala sesuatu, dan ada sesuatu yang tak terbatas yang buat segala sesuatu yang terbatas itu ada. Entah kalian menyebut sesutu yang tak terbatas itu apa. Tuhankah?atau apa?yang pasti itu mutlak ada meski dzatnya tak langsung dapat kita indra karena keterbatasan tadi. Tapi bukankah sesuatu yang tak terbatas itu jika boleh kusebut Tuhan, tak egois menciptakan sebuah doktrinasi keimanan. Karena iman harus ada karena percaya. Bagaiman percaya adalah dari proses berpikir. Bagaimana berpikir karena ada komponen berpikir . Lalu akhirnya perkenankan daku memberitahu komponen itu, meskipun boleh jadi banyak yang sudah tahu.
Setidaknya ada 4 komponen berpikir. Yang pertama ada otak (sebuah materi, hewan juga punya), yang kedua ada fakta(baik benda maupun peristiwa, sesuatu yang dapat diindra), lalu ada proses pengindraan dan yang terakhir, yang paling penting, adanya informasi sebelumnya, entah langsung terkait pada fakta atau sesuatu yang berhubungan dengannya .Mengapa penting?Taruhlah contoh seorang yang ingin mahir berbahasa China haruslah mempelajari buku panduan berbahasa China atau lewat orang yang mahir bahasa China. Seorang bayi tidak mungkin bisa belajar bahasa China atau hanya sekedar percaya sebuah batang dipegangnya adalah pensil , sebuah alat untuk menulis. Boleh jadi yang terjadi seperti keponakan saya yang masih balita, ia akan memakan pensil tersebut atau sekedar menendangnya dengan tangan, persis sama yang dilakukan kucingku. Mengapa itu terjadi karena bayi ataupun balita tidak memiliki informasi sebelumnya . Tapi bisa sajakan, karena otak mereka yang belum berfungsi sempurna? Baiklah. Taruhlah, seorang manusia dewasa dihadapkan pada tulisan jawa, Jika tak ada sebuah pembelajaran atau Informasi sebelumnya, meski berpikir sejebat apapun tak akan berhasil membacanya.
Sehingga, akhirnya aku masih percaya hingga kini bahwa kebenaran mutlak itu ada, sama percayanya akan sesuatu yang Maha. Ini bukannya doktrinasi, aku terbukti sampai tujuan sesuai keinginanku, tentunya dengan syarat ketepatan penggunaan cara berpikir kita. Sudahlah, segera saja kalian berkontemplasi. Selamat berkontemplasi, temukan hakikat diri, melakukan petualangan pikiran menemukan siapa dibalik segala keterbatasan.

Re_ lagi belajar nulis
1:52 am, 4 september 2008