Minggu, 26 Juli 2009

Pembelajaran...Menggelikan...

kenapa coba saya bilang menggelikan? entahlah, saya sendiri rupanya sudah bingung menyebut rasa apalagi ini....pembelajaran dari orang yang katanya sudah berpengalaman dan katanya lagi inilah pembelajaran buat hidupmu...biar kamu tambah dewasa...kata yang terakhir langsung nyantol di kuping saya, dan tak perlu waktu lama bagi saya buat muntah.Muntah karena geli atau karena terlampau eneg. Edan bener...berapa lagi saya harus berada dalam batas pikir para yang berpengalaman buat menyandang strata 1 jurusan 'kedewasaan' dengan predikat cumloude. Hingga berkali dijejal dengan pelatihan yang membuat indera eneg saya bermutasi menjadi geli, sampai apa itu makna dewasa sudah sukses berada di luar kepala alias g ngerti...ora mudeng babar pisan. Edan...biarlah saya mengumpat sepuas saya...toh yang saya umpat lebih pada kegelian dan ketidakmudengan saya. Biarlah saya katai edan...karena jika edan berarti gila...maka biarkan sejenak saya di posisi sakral bagi orang kebanyakan, karena saya cenderung nyaman.
Hanya saja saya mulai merenungkan dari setiap ceramah mereka, tindakan mereka yang sudah berpengalaman itu...ya saya lumayan tahu...ya tahu saja...dibilang juga saya ini lola, lumayan memakan waktu dalam beradaptasi, kata satu dari mereka klo hidup itu ora butuh pinter thok ning yo taktik, celah basa-basi...ya saya tahu itu...sekarangpun coba saya pelajari. lalu di tengah kegersangan saya mencerna, da juga temen yang seidealis, tapi ternyata yoo mirip...edann...apa akal saya ini barang langka..harus dimuseumkankah? ya mereka cukup, cukup diterima di pandangan masyarakat, lha tinggal saya ini, seperti berada di jembatan, batas antara beragam warna. Waktu...dan... dialog dua arah cukup itu yang saya pingin dari yang sudah berpengalaman....jika mereka mensudikan diri bahkan secara tak langsung cenderung memaksa untuk menjadi dosen privat kedewasaan saya...berikanlah 2 hal ituuu saja....
hingga saya tak usahlah menulis seperti ini, dan jika tak begini maka, kunjungan saya buat jalan2 ke RSJ tambah rutin saja.
akhirnya kengeyelan saya lumayan mengalah, mungkinkah sejenak?saya tidak tahu, atau lebih pada tidak mau mikir kesitu dulu...akhirnya saya tampak seperti seakan 'hidup dijalani sajalah'.
climber itu adakalanya lelah..yo tho?? easygoinger lumayan ekoylah. hanya sementara atau kapanlah..biarlah saya merasa dewasa dalam dunia mereka yang sudah berpengalaman ini....

Senin, 18 Mei 2009

Anamnesis

Apa lagi yang kau kejar?
Begitu tanyamu, tepatnya seperti tanya, karena bagiku lebih mirip hujatan.
Tanyamu mengingatkan akan kaki yang tlah kulangkahkan, entah untuk keberapa kali. Mungkin dibanding diriku, kau lebih bisa menghitungnya.
Aku seorang berusia kepala dua, sosok yang memiliki hasrat menggapai asa,sama tak serupa dengan diriku pada usia 9 tahun, kala ku mulai merasai hasrat menggapai cita.
Aku masih ingat kala itu, aku berjalan-jalan sore bersama dengan orang yang terkasih dan kukagumi, mengelilingi pematang sawah yang terhampar luas, bagiku hingga kini bak permadani lembut. Kami bercakap, mulai mengobrolkan pesona hidup. Lalu darinya kutorehkan kesejukan hidup lewat goresan pena.
“Bapak, Re menggambar ini, bagus g?” tanyaku sambil menyodorkan selembar kertas
Beliau menerima gambarku, menamati, lalu tersenyum, “Bagus, kembangkan Re...”
Begitu seterusnya, hingga tanpa jenuh, “Bagus, kau cocok jadi arsitek...”
Darisinilah, aku mulai merasai cita, dalam benakku, berteriak, bersorak. Arsitek?aku akan lebih lama berkesempatan menggambar bersama Bapak, lalu kami akan memperbincangkan gambar proyek kami bersama... Hasratku kala itu cuma bagaimana menjadi arsitek yang disukainya.
Lalu, sejalannya waktu, kumerasa tak punya cita.
Kali ini, ya, aku bicara kali ini saja, sejenak tersadar, bahwa kumulai mengingat kembali pada kaki yang tlah kulangkahkan, entah untuk keberapa kali. Itu karena segala tanyamu, stimulus ingatanku yang tlah terbingkai serak dalam brankas mimpi. Mimpi bagiku adalah kenyataan, begitu sebaliknya memori yang kujadikan mimpi. Mimpi yang terkadang ada kala kita bernafas tanpa merasa.
Tapi kau selalu bilang, bahwa itu kaulakukan tanpa sengja ‘bukan maksudku’
Sekarang rutinitas pengingatan kembali tapak kaki yang tlah lalu itu kian melingkupiku.Aku yang menjebak diri di lingran yang tak bersiku, hingga ku kebingungan mencari celah persembunyian.
Pijakanku, di ranah nyata adalah tamparan yang siap menjelma rangkaian gempa berskala, mungkin dan mungkin saja bisa meremukkan bentukku yang urung juga stabil.
Aku mulai ragu pada bentukku kini, akalku mulai apatis terhadap apa yang menurutku ‘tak masalah’, ‘terserah’ dan’ bukan urusanku’.
Proses pengingatan kembali ini,malah membuat langkahku pasti. Aku tak mengerti tapi darinya akhirnya ku belajar menggali dan mengerti. Meskipun ia bisa menjelma menjadi sebuah gempa

Abjection Vs Abjection

Kau tahu kawan, apa yang sedang aku pikirkan saat ini dan pada detik-detik yang tlah lalu?

Sebuah pemberontakan. Pemberontakan manusia terhadap tatanan, system, kemapanan sebuah pandangan. Abjection……

Saya, memandang realitas, pergulatan prilaku manusia dengan lingkungannya, reaksi individu atas kondisi komunal, yang sebenarnya telah mereka rangkai sendiri. Dan sayapun membaca, buah pikir filosof, pun pemikir yang tak sudi dirinya disebut filosof, entah sastrawan, kyai atau lainnya, tulisan-tulisan yang sarat pemberontakan atas apa yang mereka nilai ’tak begini semestinya’

Kemungkinan, saya melakukan aktivitas menulis adalah sebuah abjection, yang mati-matian memperjuangkan dan membela atas tatanan nilai yang saya yakini, seperti halnya mereka, saya bereaksi terhadap realitas, terhadap bantahan realitas.Abjection vs Abjection

Ayah, kemana Ibu...

“Ayah kemana Ibu?”

“Kan sedang kerja nak, sebentar lagi pulang, adek bobok ya, ntar Ayah dongengin.”

“G mau, adek gak mau bobok, Adek mau dikelonin Ibu.Yah…Kenapa Ibu gak pulang-pulang kan adek kangen Yah…”

“Hem…”

Si Ayah memeluk anaknya, mencoba menenangkan rengekannya. Dilihatnya wajah si anak. Mata kecil anaknya serta merta membulat, gantian menatapnya sambil berkaca-kaca. Genangan air di pelupuk matanya tinggal menunggu detik tertumpah.

Menjelang malam, baginya adalah sama seperti biasanya, rengekan anaknya dan sejumlah Tanya tanpa ia mampu jelaskan, selalu saja dengan jawaban ‘hem’.

Lalu si anak akan tertidur, bukan oleh nina bobok atau dongeng si Ayah, tapi capai, tenaganya terkuras untuk merengek atas penjelasan yang tak tercerahkan.

“Maafkan Ayah nak, Ayah sendiri bingung bagaimana menjelaskan pada anak seusiamu. Tunggulah hingga kau besar,tunggulah waktu yang akan segera kau rasai, kau akan tahu sendiri dari mulut Ibu yang kau rindui.”

***

“Mengertilah mas, bukan masalah kau tak sanggup memberikan nafkah, memuaskan nafsu premierku….”

“Aku hanya butuh aktualisasi diri, kau tahu itu, berkali-kali tlah kubilang padamu…”

“aktualisasi diri?yang bagaimana?seperti apa..sama sekali aku tak paham…”

“ya..aktualisasi diri, mengembangkan potensi diriku, dengan berkarya di luar, merasai hentakan jaman, sama seperti yang kaum kalian tlah lakukan…”

“aku, perempuan dan banyak juga kaumku, juga punya potensi yang sama…mengapa selalu dipermasalahkan, aku hanya ingin kau mengerti, saat masyarakat masih memandang tabu pandangan itu…”

“tapi istriku…anak kita masih kecil, ia tumbuh dan butuh kita, terlebih butuh kau, sebagai Ibu…”

“terlebih?? Mengapa? Selalu saja kau gunakan otoritas itu. So Why? Kau juga Ayahnya? Jangan mengekangku di lingkaran mampat ikatan ini mas…”

“baiklah, terserahmu saja.”

Si suami tak tahu lagi apa yang harus dikatakan, hingga kini masih saja tak paham atas aktualisasi yang terus digaungkan istrinya untuk dimengerti. Benarkah kedudukannya sekarang menyebabkan si Istri tak berkembang? Terkekang dalam lingkaran rutinitas aktifitas domestik? Mengatur keluarganya di rumah, membimbing anaknya, melayaninya, adalah kerja rendahan?Sebuah pekerjaan?

Oh istriku, batin suami secara tulus ingin berteriak

‘Lalu ikatan macam apa yang tlah ku ikrarkan di hadapan penghulu kala itu? Kala cinta dan keyakinan itu masih kukuh kita pegang…Itu adalah ikatan suci, sama halnya dirimu ku juga terikat karena ku mencintaimu, menghargaimu, sebagai belahan jiwaku. Jika dalam proses mengarungi bahtera ini ku mengekang apa yang kau sebut aktualisasi dan potensi dirimu, maka betapa kejam rajutan ikatan ini? Betapa kejamnya diriku yang tlah sukses menabur benih di rahimmu?sekali lagi buah cinta kita? Aku sama sekali tak mengerti, Dengan sebutanmu pada ikatan ini sebagai persundalan hipokrit? Demi Tuhan, kau bukanlah sundal, layaknya pekerja seks, yang ber ML dengan bayaran. ‘

***

Powers of Horror- An Essay on Abjection. Hampir tamat si Istri membaca buah pikir feminis kawakan Bulgaria Julia Kristeva. Ia harus membaca, agar dirinya mengerti dan sadar, ataukah sebagai asupan atas pelarian, atas nuraninya yang kerap berseberangan,atas kesadaran baru yang berusaha ia bangun. Sosok wanita dengan keautentikan dirinya.

Dan pemikiran Kristeva sangatlah dekonstruktif, seperti filosof postmodern yang dikaguminya, Derrida, Faucault. Ia butuh itu.Ya, ia harus butuh.

Ia tak mengerti meski sedikit tahu apa yang ia putuskan lalu lakukan. Bukan pula ia tak tahu kalau dulu ia yang memutuskan dengan sadar untuk menikahi makhluk berbeda gender, merajut ikatan atas nama Agama.

Ia kini berstatus Istri, sama halnya dengan pasangannya yang kini ia sebut Suami. Mengapa Tuhan mencipta makhluk berbeda Gender? Mengapa tak sama saja?hingga nantinya taka kan ada yang menggugat ciptaanMu dan menjadikan alasan siapa atas siapa yang membuat bias Gender. Seperti pula hak dan kewajiban.

Tapi si istri adalah seorang rasionalis. Bukankah sangat rasional kala memandang 2 makhluk berbeda itu sama-sama makhluk, dengan perlakuan pertama sama, potensi sama, lalu bukankah sangat adil membiarkan pertarungan kealamian yamg menilai dan memberi keputusan siapa yang layak diunggulkan sebagai Pemenang?

Faktanya lagi, adalah pertengkaran dan pertengkaran. Selalu saja ia berdebat dengan suaminya, sosok yang selalu menyebut dirinya sahabat hidup, soulmate. Huh, jangan tertipu. Lontaran sebutan yang dijadikan kaumnya otoritas melakukan penekanan. Bukankah wanita adalah makhluk dengan 9 perasaan 1 akal.

Kali ini, baru saja ia sadari, dirinya telah melakukan labelisasi pada perempuan. Perempuan 9 perasaan 1 akal dan sebaliknya bagi laki-laki.

Apa-apaan ini?Tapi jujur dalam nuraninya, bahwa itu yang sering ia temui.

Lalu letak kerasionalan itu? Seharusnya mereka benar-benar sama…

’aki-laki, perempuan, ikatan, hubungan, sahabat, lawan, pertarungan…’

Kata-kata itu membuat untaian lingkaran di benaknya, terus berputar laksana gasing.

Lama ia terpekur. Sejenak dirinya memperoleh pencerahan perihal status perempuan. What, why, How about Women??

Lalu sejenak kemudian dirinya bimbang. Mengapa bimbang jika benaknya sudah tercerahkan oleh pemikiran yang ia gandrungi, pemikiran yang berkoar akan mencerahkan perempuan akan jati dirinya??

Ia hanya ingin menggapai keautentikan dirinya yang lama-lama hilang, tergadai atas nama, agama, keluarga. Ia hanya tak ingin menjadi dasein yang tak menyadari ada, sebagai eksistensi.

Tapi sampai disini, pikirannya mandeg.Lalu menggaung dengan kerasnya. Benarkah begitu adanya?

Bukankah kau sendiri sekarang dasein?kau yang terlanjur memaksa tak percaya eksistensimu, potensimu, keunikan dirimu.

Bukankah kau sendiri unrasional?

Makhluk berbeda Gender itu, yang kau sebut laki-laki dan perempuan adalah makhluk berakal, itu fakta. Sama-sama memiliki potensi hidup, itu juga fakta.

Tapi kau sembunyikan satu hal, kau sembunyikan rapat dalam brankas alam bawah sadarmu. Mereka adalah fakta berbeda realitas. Kau berusaha menyamakan 2 keunikan menjadi satu. Semua untuk cita-cita akan aktualisasi diri dan pengembangan potensi, bakat diri?atau kebebasan diri?

Bukankah rasional sekarang, menilik empirismu, empiris kaummu, tanpa terlebih dulu berembel-embel syak, tanpa terlebih dulu menstandarkan pada pandangan tertentu. Bukankah mereka punya keunikan berbeda. Keunikan yang menyebabkan mereka 2 kekhasan yang berbeda, keunikan yang butuh penanganan berbeda,

meski sama-sama makhluk. Pencerahan apa yang kau maksud? Keadaan status kaummu dan kaum maskulin itu telah tercerahkan sejak sebelum orok bukan?

Pencerahan apa? Ketertindasan bagaimana? Bukankah itu baru muncul bukan karena kekhasan ini? Hanya kepicikan pikir dan tingkah manusia yang kurang memahami penyikapan kekhasan ini? Semua karena kestandartan materi yang oleh manusia sendiri bukan?

Itulah mengapa, solusimu menyebabkan kebimbangan dirimu sendiri? Dalam kasus hidupmu hanya dirimu? Lalu bagaimana jika kasus individu ini berkerumun menjadi persoalan komunal? Kekacauan atas nama perjuangan akan pencerahan??

***

Dua makhluk berbeda gender itu terpekur, berbeda setting mereka menatap large window, menatap pada arah yang sama. Pandangan jauh di depan mata mereka. Sebuah rumah mungil, berpenghunikan sebuah keluarga. Tak pernah didengarnya keributan, piring melayang, Sebuah keluarga, seorang istri, seorang suami, anak-anak yang lucu, berkembang karena kerjasama dan kasih mereka. Mereka tak mendebat, karena memahami posisi, hak dan kewajiban satu sama lain. Pertarungan, tak ada pertarungan, pertarungan yang menyebabkan tersebutnya lawan. Ikatan mereka adalah ikatan suci, menyucikan diri, memanusiakan 2 makhluk itu. Dengannya akan jelas keturunan dan nasab. Tentu ini semua bernilai, tapi bukan selalu yang kasat mata, ada nilai yang timbul karena keyakinan, karena memang itulah nilai sejati, nilai yang senantiasa membuat keoptimisan. Ridho Ilahi, Dzat pemilik jiwaraga makhlukNya,dzat yang terlalu enggan diingat manusia kala menjalani bahtera hidup.

Bukankah itu sangat rasional? Keadilan dan kesetaraan tak harus dengan menyamaratakan yang seharusnya memang berbeda bukan?

Ikatan yang dirajut karena mengerti dan kepahaman bukankah sangat indah rajutannya?

Kamis, 14 Mei 2009

Cuap-Cuap

Aku Kangeen banget ma dikauuuu...
Abis re kok g nyadar-nyadar....
NYADAR REEEEE....NYADAR!!!
Doain re cepetan SADAR!!!
Diamond Dust aku kangeeennn....:/

Rabu, 29 April 2009


Pelataran TBS kala sore

Filosofi Malam

Hening.Sesekali suara jangkrik bernyanyi mengisi sunyi.Gelap,hening dan…jangkrik, perpaduan unik Lama kuterpekur begitu juga dengan dia,perempuan yang duduk di depanku, parasnya ayu,seayu pikirannya yang tlah lama kukagumi. Sedari tadi mimiknya sama,matanya terpejam dengan tubuh berselanjar kebelakang, tapi kutahu ia tidak tidur, begitulah caranya menikmati malam,menekurinya dibalik gelapnya pandangan. Dan aku menikmati malam dengan menikmati tingkahnya. Tak jemu, baginya nikmatnya Suasana malam adalah meresapi hingga keheningan sejati terasakan, bagiku dialah pesona malam.

Apa kau percaya nilai In?tanyaku pelan,mencoba mengusik meditasinya perlahan.Tak bergeming, tetap terpejam, hanya sunggingan yang menandakan ia menyimak ucapanku.

Maksudmu?

Maksudku kepatuhan manusia terhadap nilai yang sudah ada.Bukankah nilai telah ada tanpa persetujuan kita?lantas, mengapa kita harus tunduk?Toh, bisa jadi kita punya patokan nilai atau bahkan nilai itu sendiri?

Re,mengapa harus ada nilai?apakah kau butuh itu setidaknya untuk hidup?tanyanya datar, kali ini dengan mata terbuka.
Nilai itu ada karena dibutuhkan, kebutuhan itu ada karena keyakinan, keyakinan adalah percaya.lanjutnya,

aku sudah bisa menebak tipe jawabannya, tapi itu yang membuatku suka dan tak jemu berdiskusi dengannya, bukan tipe penjustifikasi apalagi pendoktrin.

Lalu seperti diskusi kami yang sudah-sudah, aku akan lama bergeming, memahami maksudnya. Biasalah, otakku terlalu lemot mencerna struktur kalimatnya yang unik.

Lalu nilai mana yang kau persoalkan?terlalu banyak nilai dan penilaian bukan? Tatapnya tajam kearahku, seperti silet yang siap merobek tirai keraguan tanyaku
Iya ya, nilai yang mana, terlalu banyak ambiguitas patokan nilai yang kulalui, hingga tak kuingat detail yang mana, batinku ragu.

Sejenak, kutatap bola matanya,sorot matanya tak setajam tadi, lebih teduh. Sepertinya, ya sepertinya lagi ia tahu segala kegelisahanku.

Nilai, tanpa persetujuan kitapun akan tetap ada Re, sejauh apapun penolakan kita. Terkadang permasalahannya bukan pada nilainya tapi patokan, sign yang dijadikan patokan manusia.

Ehm....mungkin.Patokan, patokan yang menyebabkan ketertindasan akan siapa yang melanggarnya, dominasi manusia terhadap yang lainnya. Aku menimpali
Ia tersenyum, entah apa makna senyumnya. Sahabat diskusi yang satu ini susah kutebak, meski beberapa sisi dirinya sangat kupahami.

Yaaah...begitulah Reeee. Mumet klo bicara makhluk yang namanya manusia!
Whuam...katanya sambil menguap, lalu meregangkan tangannya keatas, seolah selesai hibernasi
Namanya juga terbatas, keterbatasannyalah yang sering membuat ambigu patokan nilai yang dibikin misalnya....

Demokrasi yang batasannya sendiri ambigu, makna hak asasi yang dibuat dan digunakan seenak udel siapa yang ngomong, atau nilai kesopanan berpakaian terkait pornoaksi yang masih jadi pertentangan kanan kiri
Celetukku mencoba menggenapi ucapannya

Hemm....makanya tadi kutanya Nilai yang mana, tergantung... ia kembali merebahkan badannya kebelakang, memejamkan matanya, kembali bermeditasi bersama malam, lalu aku akan asik menatapnya, sambil berfilosofi.

Hihi...aku geli. Filosofi, sok menjadi filosof. Filsafat bikin puyeng. Tapi bukankah itu yang setiap kali kulakukan, bahkan diskusikupun sering mempertanyakan suatu yang telah mapan, dimulai dari mempertanyakan keraguan, lalu berpikir penyelesaian. Yah jika bisa selesai dan terbantu menyelesaikan. Payahnya jika sebaliknya, maka kau akan terjebak dan tersedot lubang hitam keraguan, sejenak bahkan mungkin selamanya. Ngeri...

Maka sekali lagi kupandangi sosok di depanku, Sahabatku. In, cukup aku memanggilnya In, seperti pula cukup ia memanggilku Re. Ya... katanya namaku kepanjangan, jadi Ia memotong sepenggal kata di nama keretaku. Katanya Re lebih keren, Re bisa berarti kembali, bisa juga dewa mitologi Jepang, Dewa matahari, Dewa Re. Katanya lagi, seperti keraguan dan keingintahuanku yang menyala besar laksana matahari, tapi tak selalu membakar karena akan Kembali dingin, sedingin Bulan. Ah In, penggambaranmu aneh, pembandingan yang tak sebanding. Matahari dan Bulan, siang dan malam.
Jangan lupa Re, baik siang dan malam, tetaplah sama, berbeda warna, terang dan gelap samar, Bulan dikenal karena sinarnya di malam hari, tapi itu hanya pendaran sinar matahari yang tertangkap banyak mata di planet biru ini. Mereka satu kesatuan. Seperti bara yang kan selalu ada dalam keingintahuan, kekritisan manusia selama manusia itu tak menjelma menjadi makhluk stagnan, lalu mereda sebanding proses yang dijalaninya. Ia adalah sistem, maka pengetahuan dan ilmu itu terus ada.

Ah In, sejauh mana kau ingin menyelamiku?terkadang ketajaman pisau analisismu sukses menelanjangiku. Hingga aku me re-pikirkan keraguanku yang terkadang tak beralasan. Lalu kau akan bilang Perlukah selalu ada alasan atas pertanyaan? Itu wajar Re, suatu saat kau akan sering menemui pertanyaan, pertanyaan keraguanmu yang lebih mirip lompatan. Semacam spontanitas, spontanitas terhadap realitas.

Kupandangi Langit malam yang tak mutlak hitam, entah perpaduan biru hitam atau hijau hitam, yang penting tak hitam kelam.. Penilaian manusia nisbi jika sign itu sendiri juga nisbi. Selama itu pula aku berpendapat sangat wajar mempertanyakan, mencoba apatis bukankah melatih kekritisan?

Lalu dimanakah kemutlakan itu In? Tanyaku tiba-tiba
Nisbi pada yang nisbi mutlak pada yang mutlak. Jawabnya singkat tanpa titik, tapi itu cukup membuatku tak segera melanjutkan tanya lagi.
Lucu juga ya diumur kami yang tak terlampau jauh berbeda....Ia seperti Sensei bagiku, kalo berdiskusi akulah yang selalu banyak tanya. Selain karena ingin banyak paham juga menghindari tanyanya yang cukup membuat dahi mengernyit. Jujur aku tak ingin terlampau cepat tampak tua, banyak kerutan di dahi bagiku mirip keriput nenekku.

Nah siapa yang mutlak itu Re? tiba-tiba ia bertanya
Suatu yang tak ada kemutlakan diatasnya, bukan seperti langit yang berlapis-lapis
Lu kate kue lapis?tanyanya banyol
Hehe..kami tertawa kecil

Ia, entah dzatnya seperti apa,seperti katamu...tak ada kemutlakan diatasnya, Ia yang tak bisa melihat sesamanya, Ada dengan sendirinya, tak berawal dan berakhir

Yang jelas bukan manusia dong...

Lalu...entah manusia, tumbuhan, Jin, hewan yang jelas..tentulah suatu itu bukan Makhluk.

Ya...

Nilai..nilai..Daripada ngitung berapa banyak nilai mending dikau tanya mengapa nilai itu ada Reee...

Nggak ah..ngantuk

Mo turun?tanyanya sambil menguap lagi

Ya iyalah...masak tidur di atap....Yang bener aja Loe. Aku g kebal malu In, klo ntar kepergok trus sialnya disangka maling...Malulah aku
Apa kata dunia

Sebelum langkah terakhir meninggalkan tempat favorit kami berkontemplasi, kupandangi langit, kuresapi malam, malam yang tenang menghanyutkan, mencambuk jiwa yang gemar berpetualang,...mencari dan terus mnecari menggenapi makna eksistensi diri. Kaulah filosofi malamku In, sepertinya aku harus berlatih lebih banyak memahami hidup sepertimu.

G bisa tidur, daripada bengong